Selamat Berkunjung

Selamat Berkunjung !
Diharap komentarnya agar lebih bermanfaat, menambah wawasan dan hikmah
Tampilkan postingan dengan label Fenomena Bulan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fenomena Bulan. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 April 2012

Bulan Islam Bulan Hijriah, Bulan Kamariah

ISLAM mengikuti tarikh Hijriah yang dihitung sejak Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah (622). Perhitungan hari dan bulan Hijriah didasarkan pada peredaran bulan, Tarikh Hijriah mempunyai 12 bulan, berikut nama bulan Hijriah :

BULAN KAMARIAH (HIJRIAH)
  1. Muharam (Muharram)
  2. Safar (Safar)
  3. Rabiulawal (Rabi'al-Awwal)
  4. Rabiulakhir (Rabi'al-Akhir)
  5. Jumadilawal (Jumada al-Awwal)
  6. Jumadilakhir (Jumada al-Akhir)
  7. Rajab (Rajab)
  8. Syakban (Sya'ban)
  9. Ramadan (Ramadan)
10. Syawal (Syawwal)
11. Zulkaidah (Zu al-Qa'dah)
12. Zulhijah (Zu al-Hijjah)


1. MUHARAM
Pada bulan ini larangan perang terhadap kaum Kafir Quraisy dicabut. Bagi kaum Syiah, Muharam merupakan bulan ratapan atas kematian Husein bin Ali (w. 10 Muharam 61)

2. SAFAR
Safar (safar) adalah bulan ke-2 dalam bulam Kamariah yang berarti "kosong" atau "kuning". Pada masa lalu, para pria Arab pergi ke luar rumah mereka untuk berperang, berdagang dan bertualang setiap bulan Safar tiba. Rumah menjadi kosong

3. RABIULAWAL
Rabiulawal (Rabi'al-Awwal) adalah bulan ke-3 dalam bulan Kamariah. Pada tanggal 12 Rabiulawal dirayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW (Maulid). Peringatan ini dirayakan di seluruh dunia, meskipun caranya berbeda-beda menurut budaya lokal

4. RABIULAKHIR
Bulan ke-4 dinamai Rabiulakhir (Ar.: Rabi' al-Akhir), yang berarti "menetap terakhir", karena pada masa lalu pria Arab menetap dirumah untuk terakhir kalinya.

5. JUMADILAWAL
Jumadilawal (Jumada al-Awwal) adalah bulan ke-5 dalam bulan Kamariah yang berarti "kemarau pertama"

6. JUMADILAKHIR
Jumadilakhir (jumada al-Akhir) adalah bulan ke6 dalam bulan Kamariah yang berarti "kemarau terakhir"

7. RAJAB
Rajab (Rajab) adalah bulan ke-7 dalam bulan Kamariah yang berarti "mulia". Menurut sejrahnya, bulan Rajab dimuliakan orang Arab dengan menyembelih anak unta pertama dari induknya. Pada bulan ini dilarang berperang dan pintu Ka'bah dibuka.

8. SYAKBAN
Syakban (Sya'ban) adalah bulan ke-8 dalam bulan Kamariah yang berarti "berserak-serak". Menurut sejarahnya, orang Arab bertebaran pergi ke lembah dan oase untuk mencari air pada bulan ini.

9. RAMADAN
Bulan ke-9 dalam tarikh Hijrah dinamai Ramadan, yang secara etimologis berarti "terik" atau "terbakar" karena pada bulan ini cuaca sangat terik dan panas di Semenanjung Arabia. Pada masa Islam, bulan Ramadan merupakan bulan ibadah puasa

10. SYAWAL
Pada masa Islam, bulan Syawal berarti "peningkatan kebajikan setelah melewati masa latihan pengendalian diri selama sebulan penuh dengan puasa Ramadan". Pada awal bulan Syawal, kaum muslim merayakan Hari Raya Idul Fitri atau perayaan yang menandai kemenangan melawan hawa nafsu.

11. ZULKAIDAH
Zulkaidah (Zu al-Qa'dah), bulan ke-11 dalam bulan Kamariah, yang berarti "yang empunya duduk". Pada bulan ini orang Arab biasanya duduk-duduk saja di rumah

12. ZULHIJAH
Bulan ke-12 disebut Zulhijah (Ar.: Zu al-Hijjah) yang berarti "yang empunya haji". Dahulu pada bulan ini kebiasaan untuk melakukan ibadah haji ke Mekah (Ka'bah). Dalam agama Islam, ibadah haji masih tetap dilaksanakan pada bulan Zulhijah menurut contoh Nabi Muhammad SAW, yakni pada tanggal 8, 9 dan 10 Zulhijah.

Referensi
  • Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, Prof. Dr. Abdul Aziz Dahlan, Prof. Dr. Nurcholish Madjid, etc. Ensiklopedi Islam, Penerbit PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2005.
  • Prof. Dr. Nurcholish Madjid, Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, Dr. Ahmad Qodri Abdillah Azizy, MA, Dr. A. Chaeruddin, SH., etc. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Penerbit PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2008, Editor : Prof. Dr. Taufik Abdullah, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, Prof. Dr. H. Ahmad Sukardja, MA.
  • Sami bin Abdullah bin Ahmad al-Maghluts, Atlas Sejarah Para Nabi dan Rasul, Mendalami Nilai-nilai Kehidupan yang Dijalani Para Utusan Allah, Obeikan Riyadh, Almahira Jakarta, 2008.
  • Dr. Syauqi Abu Khalil, Atlas Al-Quran, Membuktikan Kebenaran Fakta Sejarah yang Disampaikan Al-Qur'an secara Akurat disertai Peta dan Foto, Dar al-Fikr Damaskus, Almahira Jakarta, 2008.
  • Tim DISBINTALAD (Drs. A. Nazri Adlany, Drs. Hanafi Tamam, Drs. A. Faruq Nasution), Al-Quran Terjemah Indonesia, Penerbit PT. Sari Agung, Jakarta, 2004
  • Departemen Agama RI, Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Penafsir Al-Quran, Syaamil Al-Quran Terjemah Per-Kata, Syaamil International, 2007.
  • alquran.bahagia.us, al-quran.bahagia.us, dunia-islam.com, Al-Quran web, PT. Gilland Ganesha, 2008.
  • Muhammad Fu'ad Abdul Baqi, Mutiara Hadist Shahih Bukhari Muslim, PT. Bina Ilmu, 1979.
  • Al-Hafizh Zaki Al-Din 'Abd Al-'Azhum Al Mundziri, Ringkasan Shahih Muslim, Al-Maktab Al-Islami, Beirut, dan PT. Mizan Pustaka, Bandung, 2008.
  • M. Nashiruddin Al-Albani, Ringkasan Shahih Bukhari, Maktabah al-Ma'arif, Riyadh, dan Gema Insani, Jakarta, 2008.
  • Al-Bayan, Shahih Bukhari Muslim, Jabal, Bandung, 2008.
  • Muhammad Nasib Ar-Rifa'i, Kemudahan dari Allah, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Maktabah al-Ma'arif, Riyadh, dan Gema Insani, Jakarta, 1999. ISLAM mengikuti tarikh Hijriah yang dihitung sejak Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah (622). Perhitungan hari dan bulan Hijriah didasarkan pada peredaran bulan, Tarikh Hijriah mempunyai 12 bulan, berikut nama bulan Hijriah :
    BULAN KAMARIAH (HIJRIAH)
      1. Muharam (Muharram)
      2. Safar (Safar)
      3. Rabiulawal (Rabi'al-Awwal)
      4. Rabiulakhir (Rabi'al-Akhir)
      5. Jumadilawal (Jumada al-Awwal)
      6. Jumadilakhir (Jumada al-Akhir)
      7. Rajab (Rajab)
      8. Syakban (Sya'ban)
      9. Ramadan (Ramadan)
    10. Syawal (Syawwal)
    11. Zulkaidah (Zu al-Qa'dah)
    12. Zulhijah (Zu al-Hijjah)

    1. MUHARAM
    Pada bulan ini larangan perang terhadap kaum Kafir Quraisy dicabut. Bagi kaum Syiah, Muharam merupakan bulan ratapan atas kematian Husein bin Ali (w. 10 Muharam 61)
    2. SAFAR
    Safar (safar) adalah bulan ke-2 dalam bulam Kamariah yang berarti "kosong" atau "kuning". Pada masa lalu, para pria Arab pergi ke luar rumah mereka untuk berperang, berdagang dan bertualang setiap bulan Safar tiba. Rumah menjadi kosong
    3. RABIULAWAL
    Rabiulawal (Rabi'al-Awwal) adalah bulan ke-3 dalam bulan Kamariah. Pada tanggal 12 Rabiulawal dirayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW (Maulid). Peringatan ini dirayakan di seluruh dunia, meskipun caranya berbeda-beda menurut budaya lokal
    4. RABIULAKHIR
    Bulan ke-4 dinamai Rabiulakhir (Ar.: Rabi' al-Akhir), yang berarti "menetap terakhir", karena pada masa lalu pria Arab menetap dirumah untuk terakhir kalinya.
    5. JUMADILAWAL
    Jumadilawal (Jumada al-Awwal) adalah bulan ke-5 dalam bulan Kamariah yang berarti "kemarau pertama"
    6. JUMADILAKHIR
    Jumadilakhir (jumada al-Akhir) adalah bulan ke6 dalam bulan Kamariah yang berarti "kemarau terakhir"
    7. RAJAB
    Rajab (Rajab) adalah bulan ke-7 dalam bulan Kamariah yang berarti "mulia". Menurut sejrahnya, bulan Rajab dimuliakan orang Arab dengan menyembelih anak unta pertama dari induknya. Pada bulan ini dilarang berperang dan pintu Ka'bah dibuka.
    8. SYAKBAN
    Syakban (Sya'ban) adalah bulan ke-8 dalam bulan Kamariah yang berarti "berserak-serak". Menurut sejarahnya, orang Arab bertebaran pergi ke lembah dan oase untuk mencari air pada bulan ini.
    9. RAMADAN
    Bulan ke-9 dalam tarikh Hijrah dinamai Ramadan, yang secara etimologis berarti "terik" atau "terbakar" karena pada bulan ini cuaca sangat terik dan panas di Semenanjung Arabia. Pada masa Islam, bulan Ramadan merupakan bulan ibadah puasa
    10. SYAWAL
    Pada masa Islam, bulan Syawal berarti "peningkatan kebajikan setelah melewati masa latihan pengendalian diri selama sebulan penuh dengan puasa Ramadan". Pada awal bulan Syawal, kaum muslim merayakan Hari Raya Idul Fitri atau perayaan yang menandai kemenangan melawan hawa nafsu.
    11. ZULKAIDAH
    Zulkaidah (Zu al-Qa'dah), bulan ke-11 dalam bulan Kamariah, yang berarti "yang empunya duduk". Pada bulan ini orang Arab biasanya duduk-duduk saja di rumah
    12. ZULHIJAH
    Bulan ke-12 disebut Zulhijah (Ar.: Zu al-Hijjah) yang berarti "yang empunya haji". Dahulu pada bulan ini kebiasaan untuk melakukan ibadah haji ke Mekah (Ka'bah). Dalam agama Islam, ibadah haji masih tetap dilaksanakan pada bulan Zulhijah menurut contoh Nabi Muhammad SAW, yakni pada tanggal 8, 9 dan 10 Zulhijah.

    Referensi
  • Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, Prof. Dr. Abdul Aziz Dahlan, Prof. Dr. Nurcholish Madjid, etc. Ensiklopedi Islam, Penerbit PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2005.
  • Prof. Dr. Nurcholish Madjid, Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, Dr. Ahmad Qodri Abdillah Azizy, MA, Dr. A. Chaeruddin, SH., etc. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Penerbit PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2008, Editor : Prof. Dr. Taufik Abdullah, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, Prof. Dr. H. Ahmad Sukardja, MA.
  • Sami bin Abdullah bin Ahmad al-Maghluts, Atlas Sejarah Para Nabi dan Rasul, Mendalami Nilai-nilai Kehidupan yang Dijalani Para Utusan Allah, Obeikan Riyadh, Almahira Jakarta, 2008.
  • Dr. Syauqi Abu Khalil, Atlas Al-Quran, Membuktikan Kebenaran Fakta Sejarah yang Disampaikan Al-Qur'an secara Akurat disertai Peta dan Foto, Dar al-Fikr Damaskus, Almahira Jakarta, 2008.
  • Tim DISBINTALAD (Drs. A. Nazri Adlany, Drs. Hanafi Tamam, Drs. A. Faruq Nasution), Al-Quran Terjemah Indonesia, Penerbit PT. Sari Agung, Jakarta, 2004
  • Departemen Agama RI, Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Penafsir Al-Quran, Syaamil Al-Quran Terjemah Per-Kata, Syaamil International, 2007.
  • alquran.bahagia.us, al-quran.bahagia.us, dunia-islam.com, Al-Quran web, PT. Gilland Ganesha, 2008.
  • Muhammad Fu'ad Abdul Baqi, Mutiara Hadist Shahih Bukhari Muslim, PT. Bina Ilmu, 1979.
  • Al-Hafizh Zaki Al-Din 'Abd Al-'Azhum Al Mundziri, Ringkasan Shahih Muslim, Al-Maktab Al-Islami, Beirut, dan PT. Mizan Pustaka, Bandung, 2008.
  • M. Nashiruddin Al-Albani, Ringkasan Shahih Bukhari, Maktabah al-Ma'arif, Riyadh, dan Gema Insani, Jakarta, 2008.
  • Al-Bayan, Shahih Bukhari Muslim, Jabal, Bandung, 2008.
  • Muhammad Nasib Ar-Rifa'i, Kemudahan dari Allah, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Maktabah al-Ma'arif, Riyadh, dan Gema Insani, Jakarta, 1999.

Jumat, 27 April 2012

Sistem Penanggalan Qomariyah (Hijriyah)


1 bulan dalam Perhitungan Qomariyah (Hijriyah) adalah 29 hari atau 30 hari...
Jumlah hari ini disebabkan periode bulan (dari bulan baru ke bulan baru berikutnya / periode sinodik) mengeliling bumi tidak pas 29 atau 30 hari... tetapi 29,53 hari (29 hari 12 jam 44 menit 2,8 detik)...



Bulan-bulan di Penanggalan Hijriyah berbeda dengan Penanggalan Miladiyah (Masehi)... Bila dalam Kalender Masehi, bulan-bulan itu sudah tentu harinya (kecuali Februari yang 4 tahun sekali berjumlah 29 hari dari biasanya 28 hari)...
Bulan di Kalender Hijriyah tidak demikian... Bulan yang pada tahun sekarang berjumlah 29 hari bisa jadi 30 hari untuk tahun berikutnya, begitu juga bulan yang berjumlah 30 hari bisa jadi 29 hari pada tahun berikutnya... Tergantung dari posisi Hilal pada bulan tersebut...

Contoh Perubahan Bentuk Cahaya Bulan :



Bulan-bulan Hiriyah :

1. MuharramMuharram / Sura (Sunda)
2. ShafarSapar (Sunda)
3. Rabi'ul AwwalMulud, bhs Sunda
4. Rabi'ul AkhirSilih Mulud (Sunda)
5. Jumadil Awal / Jumadal UlaJumadil Awal (Sunda)
6. Jumadil Akhir / Jumadats TsaniyahJumadil Ahir (Sunda)
7. RajabRajab (Sunda)
8. Sya'banRuwah (Sunda)
9. RamadhanPuasa (Sunda)
10. SyawwalSawal (Sunda)
11. Dzulqo'dahHapit (Sunda)
12. DzulhijjahRayagung (Sunda)

4 Bulan Haram :
- Dzulqo’dah (11)
- Dzulhijjah (12)
- Muharram (1)
- Rajab (7)


Penyatuan Kalender Hijriyah Internasional

Penyatuan Kalender Hijriyah Internasional membutuhkan Garis Batas Penanggalan Internasional yang membagi bumi menjadi Bujur Barat dan Bujur Timur, seperti hal nya Kalender Masehi...
Dalam Kalender Masehi, patokan 0 derajat Bujur adalah Greenwich (Inggris) dan Garis Batas Internasional nya di Lautan Pasifik...

Batas Penanggalan Internasional :



Batas Penanggalan Internasional Islam... andaikata kemudian Mekah dijadikan 0 derajat Bujur Timur dan Barat maka Batas Tanggal Islam Internasional adalah di Perbatasan Alaska - Kanada...

Hanya konsekuensi nya daerah Hawaii dan Alaska harus berubah hari nya... kalo sebelum dirubah 0 derajat, hari yang sedang berjalan adalah hari Sabtu,misalnya... maka setelah Mekah dijadikan 0 derajat, hari nya berubah menjadi Ahad...

Pergantian Tanggal Islam :



Konsekuensi dari Penggunaan Penanggalan Islam Internasional ini adalah :

Bagian bumi paling timur yang masih sama hari dan tanggalnya dengan Mekah adalah Hawaii (misalkan Mekah hari Ahad tanggal 1, maka Hawaii pun Ahad tanggal 1)...
itu artinya biarpun di Hawaii pada saat Magrib (terbenam matahari) di hari itu Posisi Hilal masih di bawah ufuk... Namun bila beberapa jam kemudian di Mekah pada hari itu pada Magribnya Hilal (dihitung dengan Hisab, jauh-jauh hari sebelumnya) sudah di atas ufuk (artinya Hari Ahad sudah tanggal 1)... maka Hawaii mengikuti Mekah...
Jadi Hawaii bukan Ahad tanggal 30 Dzulqo'dah, tetapi Ahad 1 Dzulhijjah...

Bagaimana kalau Hilal pertama kali muncul di wilayah sebelah barat Mekah, misalkan di London (di Mekah waktu Magrib posisi Hilal masih di bawah ufuk tetapi beberapa jam kemudian di London posisi Hilal telah di atas ufuk) ?...
Jawaban nya adalah..................... Hisab Global !...

Itu artinya biar pun di Mekah pada hari yang sama (misalkan Ahad... ingat ! pergantian hari pada Penanggalan Hijriyah adalah pada waktu magrib) posisi Hilal pada waktu Magrib masih di bawah ufuk... Tapi bila beberapa jam kemudian ada wilayah di sebelah barat Mekah pada waktu magrib nya posisi Hilal sudah di atas ufuk... Maka Mekah telah masuk Tanggal 1...


Hisab Hakiki Wujudul Hilal

Hisab yang paling mudah kriterianya dalam penetapan Tanggal Baru Hijriyah, namun insyaAlloh justru yang paling objektif, bisa dipertanggungjawabkan dan paling mudah pengaplikasian nya adalah Hisab Hakiki Wujudul Hilal...

Dalam Hisab Hakiki Wujudul Hilal... kriteria penetapan bulan baru adalah :
(1) telah terjadi ijtima (konjungsi)... Bulan di langit untuk telah genap memutari Bumi satu putaran (1 periode sinodik)
(2) ijtima (konjungsi) terjadi sebelum matahari terbenam
(3) pada saat matahari terbenam, Bulan (piringan atasnya) di atas ufuk... Bulan positif di atas ufuk, dengan kata lain Hilal Telah Wujud.
Apabila salah satu dari kriteria tersebut tidak dipenuhi, maka bulan berjalan digenapkan 30 hari.

Kriteria Hisab Hakiki Wujudul Hilal ini tidak berdasarkan konsep penampakan.
Kriteria ini adalah kriteria memasuki bulan baru tanpa dikaitkan dengan terlihatnya hilal, melainkan berdasarkan hisab terhadap posisi geometris benda langit tertentu.
Kriteria ini menetapkan masuknya bulan baru dengan terpenuhinya parameter astronomis tertentu, yaitu tiga parameter yang disebutkan tadi.


Mengapa menggunakan Hisab Hakiki Wujudul Hilal... tidak dengan Hisab Imkan Rukyat ?...

Para ahli astronomi sendiri tidak sepakat dalam menentukan berapa ketinggian Bulan di atas ufuk untuk dapat dilihat... dan ketiadaan kriteria yang pasti ini merupakan kelemahan kriteria bulan baru berdasarkan imkan rukyat. Kriteria Hisab Imkan Rukyat menuntut keberadaan Bulan (Hilal) harus pada posisi yang bisa dirukyat... menimbulkan kesukaran untuk menentukan apa parameternya untuk dapat dirukyat... Sehingga terdapat banyak sekali pendapat mengenai ini... Jangan lupa, Terhalang Awan pun adalah bisa merupakan salah satu parameter...

Tidak ada sudut derajat yang baku yang bisa dijadikan standar penampakan hilal... Sudut derajat pada suatu tempat pemantauan yang sama akan didapat berbeda dengan berubahnya kondisi yang ada... contohnya Jarak bulan dan matahari dari bumi yang selalu berubah-ubah akan mengakibatkan berubahnya pula kemampuan mata untuk melihat Hilal pada saat matahari terbenam yang diakibatkan faktor kesilauan...

Semakin dekat jarak matahari, harus semakin tinggi pula derajat Hilal agar mampu diindera... sehingga tidak aneh kalo ada suatu kondisi tanpa awan setelah dihitung dengan berbagai parameter yang ada ternyata diperkirakan hilal hanya mampu dilihat pada sudut 10,5 derajat...

"...Berdasarkan statistik kesaksian hilal di berbagai negara, M. Ilyas dari International Islamic Calendar Program (IICP) telah mempubliksikan temuannya di jurnal astronomi bahwa ketinggian minimal hilal dapat dirukyat adalah 4 derajat. Itu pun bila jarak bulan-matahari cukup jauh. Bila jaraknya dekat, perlu ketinggian 10,5 derajat..."

Dari sini terlihat jelas bahwa Hisab Hakiki Wujudul Hilal lebih memberikan kepastian dibandingkan dengan Hisab Imkan Rukyat.

Mengapa Penyatuan Penanggalan ini menggunakan Hisab Global, tidak dengan Rukyat Global ?...

Resiko dari Penetapan Bulan Baru melalui Rukyat adalah Besarnya kemungkinan kekurangtepatan yang diakibatkan oleh banyak faktor, yaitu :
(1) faktor geometris (posisi Bulan, Matahari dan Bumi),
(2) faktor atmosferik, yaitu keadaan cuaca dan atmosfir,
(3) faktor fisiologis, yaitu kemampuan mata manusia untuk menangkap pantulan sinar dari permukaan bulan,
(4) faktor psikologis, yaitu keinginan kuat untuk dapat melihat hilal sering mendorong terjadinya halusinasi sehingga sering terjadi klaim bahwa hilal telah terlihat padahal menurut kriteria ilmiah, bahkan dengan teropong canggih, hilal masih mustahil terlihat

Senin, 23 April 2012

Peristiwa Gerhana Bulan

Gerhana bulan terjadi saat sebagian atau keseluruhan penampang bulan tertutup oleh bayangan bumi. Itu terjadi bila bumi berada di antara matahari dan bulan pada satu garis lurus yang sama, sehingga sinar matahari tidak dapat mencapai bulan karena terhalangi oleh bumi.

Dengan penjelasan lain, gerhana bulan muncul bila bulan sedang beroposisi dengan matahari. Tetapi karena kemiringan bidang orbit bulan terhadap bidang ekliptika, maka tidak setiap oposisi bulan dengan matahari akan mengakibatkan terjadinya gerhana bulan. Perpotongan bidang orbit bulan dengan bidang ekliptika akan memunculkan 2 buah titik potong yang disebut node, yaitu titik di mana bulan memotong bidang ekliptika. Gerhana bulan ini akan terjadi saat bulan beroposisi pada node tersebut. Bulan membutuhkan waktu 29,53 hari untuk bergerak dari satu titik oposisi ke titik oposisi lainnya. Maka seharusnya, jika terjadi gerhana bulan, akan diikuti dengan gerhana matahari karena kedua node tersebut terletak pada garis yang menghubungkan antara matahari dengan bumi.

Sebenarnya, pada peristiwa gerhana bulan, seringkali bulan masih dapat terlihat. Ini dikarenakan masih adanya sinar matahari yang dibelokkan ke arah bulan oleh atmosfer bumi. Dan kebanyakan sinar yang dibelokkan ini memiliki spektrum cahaya merah. Itulah sebabnya pada saat gerhana bulan, bulan akan tampak berwarna gelap, bisa berwarna merah tembaga, jingga, ataupun coklat.
Gerhana bulan dapat diamati dengan mata telanjang dan tidak berbahaya sama sekali. Berbeda dengan Gerhana Matahari Yang apabila dilihat dengan mata telanjamg akan mengakibatkan kebutaan…
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Jumat, 20 April 2012

Bulan Biru dan Matahari Lavender



KOMPAS.com - Letusan Krakatau pada Senin 27 Agustus 1883 memang dahsyat. Kekuatan letusan gunung berapi tersebut mencapai 100 megaton bom nuklir dan 13.000 kali bom atom Hiroshima dan Nagasaki. Letusan juga terdengar hingga sejauh 600 km sekeras meriam. Abu vulkaniknya mencapai stratosfer dan bertahan bertahun-tahun sesudahnya.
Satu hal yang jarang diuraikan adalah akibat letusan Krakatau pada warna Bulan dan Matahari. Situs NASA menjelaskan, selama bertahun-tahun setelah letusan itu, Bulan setiap malam selalu hadir dalam warna biru. Abu dari Krakatau juga menyebabkan Matahari berwarna lavender atau keungu-unguan serta pertama kalinya, awan noctilucent.
Komposisi pasrtikel atau zat pengotor di atmosfer memang mempengaruhi warna benda-benda langit dari permukaan Bumi. Misalnya, saat Gerhana Bulan Total terjadi, di mana Bumi, Bulan, dan Matahari berada di satu garis lurus. Kondisi ini menyebabkan Bulan tidak menerima cahaya langsung dari Matahari. Andai Bumi tak memiliki atmosfer, Bulan akan lenyap dari pandangan saat gerhana. Namun, karena bulan memilikinya, biasanya Bulan akan berwarna jingga, kekuningan, atau kemerah-merahan.
Jika atmosfer relatif bersih dari partikel debu, pantulan cahaya warna biru akan terserap atmosfer dan warna merah yang paling banyak dihamburkan. Gelombang warna merah ini yang lalu diteruskan Bulan ke permukaan Bumi, membuat manusia di Bumi melihat warna tersebut.
Debu vulkanik bisa "mengubah" warna yang biasanya merah menjadi biru. Partikel debu vulkanik bisa memiliki ukuran sebesar 1 mikron. Ini menyebabkan cahaya biru adalah yang paling banyak dihamburkan sehingga Bulan pun berwarna biru. Dalam kasus Matahari, penghamburan sinarnya juga mengakibatkan tampaknya warna lavender.
Akibat letusan Krakatau, Bulan bertahan berwarna biru selama dua tahun. Selain Krakatau, letusan gunung yang juga mengakibatkan Bulan Biru adalah Gunung St Helen pada tahun 1980, El Chicon pada tahun 1953, dan Pinatubo tahun 1991.
Astronom Ma'rufin Sudibyo mengatakan, debu vulkanik memang bisa mengakibatkan perubahan intensitas dan warna Bulan serta Matahari. Dalam kasus tertentu, Bulan bisa benar-benar lenyap saat gerhana. Matahari juga berkurang intensitasnya hingga mencapai ambang batas kebutuhan untuk fotosintesis tumbuhan jika pengotoran yang terjadi kelas berat.
Ma'rufin saat dihubungi Sabtu (10/12/2011) mengatakan, "Secara teori, kalo atmosfernya kotor, kemampuannya untuk menghamburkan cahaya Matahari berkurang. Cahaya merah, yang seharusnya paling banyak dihamburkan dan bisa melintasi kerucut umbra dan jatuh di permukaan Bulan, menjadi sangat berkurang. Akibatnya tak ada cukup cahaya di permukaan Bulan saat totalitas terjadi sehingga Bulan jadi benar-benar gelap."
"Misalnya letusan gunung Agung 1963, membuat gerhana Bulan di tahun berikutnya benar-benar gelap saat totalitas terjadi. Gunung Agung mengeluarkan 300 juta meter kubik magma," sambung Ma'rufin. Letusan Krakatau, El Chicon dan Pinatubo pun juga awalnya mengakibatkan hal serupa. Debu Pinatubo dinyatakan seudah mengendap tahun 1997 sehingga kini tak ada efek lagi karenanya.
Letusan Merapi dan Eyjafjallajokul di Islandia dan Merapi di Yogyakarta tahun lalu, kata Ma'rufin, secara akumulatif juga menyemburkan 300 juta meter kubik abu vulkanik ke lingkungan. Namun, masih merahnya Bulan saat gerhana Sabtu malam membuktikan bahwa aktivitas dua gunung berapi tersebut tak berpengaruh pada warna Bulan saat gerhana.
Soal berkurangnya intensitas cahaya Matahari, Krakatau, Tambora, Pinatubo, dan Gunung Agung adalah beberapa yang menyebabkan pengotoran kelas berat. Saat Pinatubo meletus 9 Juni 1991 dengan energi setengah Krakatau, 15 persen cahaya Matahari terhambat. Sementara, hambatan akibat Gunung Agung yang meletus tahun 1961 adalah 9 persen dan hambatan oleh Tambora yang meletus tahun 1815 adalah 25 persen.
"Yang paling fenomenal ya Toba 75.000 tahun silam, jumlah cahaya yang diteruskan ke permukaan Bumi hanya 0,001  persen alias setara cahaya Bulan purnama dan di bawah ambang batas kerja fotosintesis," ungkap Ma'rufin. Letusan Tambora, Krakatau, dan Toba pun tercatat mempengaruhi cuaca, menyebabkan volcanic winterm, serta tahun tanpa musim panas di negara subtropis.

Minggu, 19 Februari 2012

Fenomena Bulan

Beberapa waktu lalu kita disuguhkan dengan feneomena gerhana bulan yang sunguh menabjubkan gerhana bulan berlangsung cukup lama dan tampak gerhana bulan seperti bulan berdarah sunguh luar biasa, nah berikut ini ada 3 fenomena bulan yang terjadi pada malam hari apa aja itu simak di bawah ini.
1. Gerhana Bulan
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgGMleOC27EsVNdqhq3J1SmFrLu8eLXdOhNycZZWu7TAHRVQ9UPaeFANlmpSCJjrAZbMwrtC7UYP288fKyu_pJwYxb7SqQjARjs4ujCVwIBz8pytLEeQNGm8EosCjG3pCAPzpOLojlZA8U/s1600/gerhana_bulan.jpg
Gerhana bulan terjadi saat sebagian atau keseluruhan penampang bulan tertutup oleh bayangan bumi. Itu terjadi bila bumi berada di antara matahari dan bulan pada satu garis lurus yang sama, sehingga sinar matahari tidak dapat mencapai bulan karena terhalangi oleh bumi.
Dengan penjelasan lain, gerhana bulan muncul bila bulan sedang beroposisi dengan matahari. Tetapi karena kemiringan bidang orbit bulan terhadap bidang ekliptika, maka tidak setiap oposisi bulan dengan matahari akan mengakibatkan terjadinya gerhana bulan. Perpotongan bidang orbit bulan dengan bidang ekliptika akan memunculkan 2 buah titik potong yang disebut node, yaitu titik di mana bulan memotong bidang ekliptika. Gerhana bulan ini akan terjadi saat bulan beroposisi pada node tersebut. Bulan membutuhkan waktu 29,53 hari untuk bergerak dari satu titik oposisi ke titik oposisi lainnya. Maka seharusnya, jika terjadi gerhana bulan, akan diikuti dengan gerhana matahari karena kedua node tersebut terletak pada garis yang menghubungkan antara matahari dengan bumi.
Sebenarnya, pada peristiwa gerhana bulan, seringkali bulan masih dapat terlihat. Ini dikarenakan masih adanya sinar matahari yang dibelokkan ke arah bulan oleh atmosfer bumi. Dan kebanyakan sinar yang dibelokkan ini memiliki spektrum cahaya merah. Itulah sebabnya pada saat gerhana bulan, bulan akan tampak berwarna gelap, bisa berwarna merah tembaga, jingga, ataupun coklat.
Gerhana bulan dapat diamati dengan mata telanjang dan tidak berbahaya sama sekali.
2. Super Moon
http://blingkrisna.files.wordpress.com/2011/03/super-moon1.jpg
Bulan super adalah istilah yang digunakan oleh para astrolog untuk menggambarkan keadaan bulan penuh ketika bulan berada dalam posisi terdekatnya dengan Bumi (apsis/perigee). Istilah ini tidak diterima secara luas, terutama di kalangan ilmuwan. Secara spesifik, bulan super bisa merupakan bulan purnama atau bulan baru, yang jaraknya dengan bumi sekitar 10% atau kurang dari jarak lintasannya dengan bumi. Ketika fenomena ini terjadi, bulan nampak lebih besar dan lebih terang, meskipun perubahan jaraknya hanya beberapa kilometer.
Fenomena bulan super sebelumnya terjadi tahun 1955, 1974, 1992, dan 2005. Pada 19 Maret 2011, bulan super akan mengalami jarak terdekatnya dalam 18 tahun terakhir, dengan prakiraan jarak sekitar 356,577 kilometere (221.567 mil). Pada 19 Maret, fenomena perigee bulan, yang memiliki siklus sekitar 27,3 hari, terjadi bersamaan dengan bulan purnama yang muncul tiap 29 hari. Ketika perigee bulan terjadi bersamaan dengan bulan purnama, permukaan bulan akan tampak 14 persen lebih besar dan 30 persen lebih terang dari bulan purnama.
Bulan super kadang dihubung-hubungkan dengan bencana alam, seperti gempa bumi, gunung meletus, dan lain-lain. Itu karena waktu terjadinya bulan super hampir selalu berdekatan dengan terjadinya suatu bencana alam tertentu. Namun, bulan super tidak cukup kuat untuk memengaruhi permukaan tanah ataupun gunung berapi di Bumi, pengaruh dari fenomena bulan super ini di bumi hanyalah naiknya permukaan laut sekitar beberapa inci di beberapa daerah.
Pengaruh fenomena bulan super terhadap peningkatan aktivitas seismik justru terjadi di permukaan bulan sendiri, meskipun efeknya tidak terlalu besar. Ketika berada dalam keadaan bulan super, bulan mengalami gempa. Hal ini terdeteksi oleh instrumen seismologi yang ditinggalkan oleh para astronot Apollo 11 di bulan.
Istilah bulan super pertama kali dikemukakan oleh astrolog Richard Nolle pada tahun 1979.
3. Bulan Biru
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiMkwBIde6UgLuX75zpKBp61QBO_SLCJVD_PkNPHSjhEjsuYpK4-r3hPEQWxIKW03QkUXLN2Z8fNsB6BvM5DgRF4GWJ-8U1gd8O01WshFc2PISiXr4LtlelHKqy4Zw5mQPendG3pJg_AavU/s1600/bluemoon.jpg
Blue Moon itu merupakan istilah untuk bulan penuh kedua dalam satu bulan.
Ungkapan Blue Moon tidak ada hubungannya dengan warna permukaan bulan, jelas Conrad Jung, staf Chabot astronom di Space & Science Center di Oakland. “Itu hanya istilah sehari-hari, yang berarti sangat sangat langka,” katanya.
“Ini bukan fenomena yang sering terjadi,” Jung menambahkan. “Ini agak esoterik. Saya tidak mendapatkan banyak pertanyaan tentang bulan biru.”
Pada awal abad yang lalu, bulan biru dianggap sebagai tiga musim dengan empat bulan penuh, tidak peduli kapan munculnya, katanya.
Budaya agraris lebih memperhatikan bulan purnama, karena penerangan malam hari bisa memperpanjang hari kerja selama musim tanam dan panen, Jung menjelaskan.
Bulan purnama September misalnya, dikenal sebagai Harvest Moon di Amerika Serikat.
Blue Moon dapat memiliki warna biru jika dilihat melalui debu di atmosfer dari abu vulkanik

Sabtu, 18 Februari 2012

Bukti Bukti Kekuasaan Allah pada Gerhana Bulan


Photobucket


Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan Bulan bercahaya dan ditetapkanNya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan Bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan. Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaranNya) kepada orang-orang yang mengetahui. (Yunus :5)

Sebenarnya segala kejadian di alam ini baik di Bumi mahupun di langit adalah ciptaan yang Maha Pencipta. Di sebalik kejadian alam seperti kejadian pasang-surut, siang-malam, gerhana, komet dan lain-lain mengandungi satu hakikat kebenaran yang tidak dapat disembunyikan dan ditolak iaitu tentang kekuasaan yang Maha Pencipta bagi orang-orang yang berakal dan mahu berfikir.
Semua yang wujud di alam ini ada Pemilik dan Penciptanya iaitu Allah. Dia yang menjadikan segala sesuatu dari sekecil-kecil jasad yang bersaiz mungkin lebih kecil dari elektron hingga ke galaksi atau yang lebih besar dari itu tanpa bantuan sesiapa pun dan tidak merasa letih atau penat.
” Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan Bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa dan Kami sedikit pun tidak ditimpa keletihan” Qaaf:30)
Kejadian gerhana merupakan sebahagian dari tanda-tanda kebesaran Allah.
Diriwayatkan oleh Abu Musa Al Asy ‘ary bahawa Rasulullah S.A.w bersabda:
“Bahawasanya tanda-tanda ini (gerhana) Yang Allah kirimkan, dijadikan sesuatu darinya bukanlah kerana mati seseorang atau kerana lahirnya. Tetapi Allah Aza wa Jalla mengirimkan buat mempertakutkan hamba-hambaNya dengan tanda-tanda itu. Maka apabila kamu melihat sesuatu darinya bersegeralah menyebut Allah, berdoa dan beristigfar.” ( Bukhari dan Muslim)
Ketika gerhana bulan, Bumi berada betul-betul di antara Matahari dan Bulan. Oleh kerana Bumi terletak di tengah antara Matahari dan Bulan menyebabkan cahaya dari Matahari akan dilindung oleh Bumi. Ini menyebabkan bayang terbentuk di sebelah belakang Bumi. Apabila Bulan beredar di dalam orbitnya dan memasukki kawasan bayang tersebut maka Bulan mengalami gerhana. Bulan tidak kelihatan bercahaya. Sebaliknya Bulan kelihatan gelap sedikit demi sedikit sehingga penuh apabila seluruh Bulan memasukki kawasan bayang.
Pergerakan Bulan, Bumi dan Matahari mempengaruhi terjadinya gerhana. Di antara kekuasaan Allah, Dialah yang menggerakkan dan menetapkan laluan Matahari, Bulan dan Bumi sejak dari mula ia diciptakan hingga ke hari ini sehinggalah kiamat.
” Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan Bulan, masing-
masing dari keduanya beredar di dalam garis orbitnya.” Al Anbiya :33
Sekarang mari kita renungkan betapa hebat perjalanan Matahari dan Bulan. Dari sudut astronomi detik berlakunya gerhana menunjukkan betapa tepatnya hitungan pergerakan Bulan dan Matahari. Betapa rumit , teliti dan halus pergerakan ketiga-tiga jasad Bumi, Bulan dan Matahari berdasarkan kepada perkiraan matematik.
“Matahari dan Bulan beredar mengikut perhitungan” ArRahman :5
Oleh kerana Allah telah menyebutkan di dalam Al-Quran bahawa Matahari dan Bulan itu bergerak mengikut perhitungan ( matematik ) maka manusia dapat menghitung bila gerhana akan berlaku dan kejadian lain yang berkaitan.
Jika kira renungkan bagaimana Matahari, Bumi dan Bulan masing-masing bergerak dengan kelajuan masing-masing yang sangat laju boleh tiba saat yang tepat berlakunya gerhana. Mengikut hitungan matematik gerhana malam ini Bulan mengalami gerhana penuh iaitu seluruh permukaan Bulan menjadi gelap. Gerhana penuh Bulan pada malam 16 Jun 2011, akan dapat diperhatikan apabila Bulan mula memasuki kawasan bayang gelap bumi (umbra) tepat jam 2.23 pagi.
Bulan akan sedikit demi sedikit akan menjadi gelap akibat memasuki kawasan bayang Bumi sehingga ia akan gelap seluruhnya pada jam 3.22 pagi. Selepas itu Bulan sedikit demi sedikit akan mula bercahaya semula dan bercahaya semula pada 05:05 pagi
Demikianlah hebatnya persembahan di langit pada malam ini. Sebenarnya kejadian gerhana ini memperlihatkan akan kekuasaan Allah bagi orang yang mahu berfikir. Jika mata hati seseorang itu tidak tertutup, ia dapat melihat perjalanan sistem Allah yang menggambarkan keharmonian, ketertiban dan kebijaksaan.
Bagi orang yang berakal dan berrfikir tentang kejadian di sekelilingnya dan diri mereka sendiri dapat melihat dalam setiap kejadian itu mengandungi kerumitan, kehalusan, kebijaksanaan dan keharmonian. Bagi orang yang waras tidak mengatakan semua ini terjadi dengan sendirinya.
Tetapi ia akan meyakini disebalik penyusunan sistem ini terdapat Pencipta yang Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Sempurna lagi Maha Perkasa.
Pengajaran yang boleh kita ambil ialah jika Allah boleh memperhitung dengan begitu teliti, halus dan tepat perjalanan alam cakerawala yang lebih besar dan rumit keadaannya sudah tentu lebih mudah bagi Allah untuk menghitung amal-amal dan pekara-pekara yang dilakukan oleh manusia samada zahir atau tersembunyi.
Semoga kejadian gerhana ini mengingatkan kita betapa kerdil dan lemahnya manusia dan betapa Maha Berkuasa dan Maha Agong Allah yang mencipta dan mentadbir sekelian alam. Oleh itu kepada Allah kita memperbanyakkan memohon keampunan dan taubat di atas kealpaan dan kesilapan yang kita lakukan di samping memperbanyakkan amal kebaikan dengan berdoa dan beramal soleh serta lakukan solat sunat gerhana.