Selamat Berkunjung

Selamat Berkunjung !
Diharap komentarnya agar lebih bermanfaat, menambah wawasan dan hikmah
Tampilkan postingan dengan label Angin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Angin. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Februari 2012

Angin Global dari Indonesia dan Hujan Ekstrim dan Tornado di Amerika Serikat


Dua pembicaran pada sebuah konferensi ilmiah minggu ini akan mengajukan sebuah akar bersama sejumlah masalah di Tennesse barat bulan Mei 2010, dan sebuah bencana tornado historis yang berpusat di Alabama bulan April 2011.

Kedua peristiwa tampak berhubungan dengan kopel yang relatif langka antara aliran jet kutub dan subtropics, kata  Jonathan Martin, professor ilmu atmosfer dan samudera University of Wisconsin-Madison.

Namun bagian mengagumkannya adalah perubahan ini berasal di Pasifik Barat, sekitar 14,500 km jauhnya dari badai besar di bagian tengah AS, kata Martin.
 Mekanisme yang menyebabkan badai berawal dari musim semi atau gugur ketika kompleks badai tropis terorganisir di Indonesia mendorong aliran jet subtropics di utara, menyebabkannya menyatu dengan aliran jet kutub.

Aliran jet subtropics adalah pita angin tinggi yang secara normal berada sekitar 30 derajat lintang utara. Aliran jet kutub secara normal ratusan mil lebih ke utara.
 Martin menyebut pita angin yang dihasilkan ini sebagai “superjet”.
 Aliran jet di belahan utara mengalir dari barat dengan kecepatan sekitar 225 km per jam, dan dikelilingi oleh pusaran melingkar yang terlihat seperti tornado yang mendorong di sisi-sisinya. Angin sirkulasi di dasar aliran jet mengalir dari selatan. Di sisi utara, angin sirkulasi bergerak vertical, mengangkat dan mendinginkan udara hingga uap air mengembun dan mendorong hujan.

Sebuah superjet dan angin sirkulasinya membawa sekitar dua kali lebih banyak energi daripada aliran jet biasa, kata Martin. “Ketika aliran jet yang biasanya terpisah ini saling tindih, ada kecenderungan untuk tercipta sirkulasi vertical sangat kuat, yang menghasilkan awan, pengembunan, dan tornado pada kondisi yang tepat.”

Dan karena angin sirkulasi dalam superjet bergerak sepanjang AS selatan mengambil embun dari Teluk Meksiko, “superjet memberikan dampak ganda – lebih banyak embun dan lebih banyak angkatan, yang menghasilkan hujan deras.”

Itulah yang terjadi pada bulan Mei 2010, ketika hujan 25 hingga 50 cm turun di Nashville.
Andrew Winters, yang sekarang mahasiswa pasca sarjana yang belajar dengan Martin, membahas banjir Tenesse sebagai topic skripsinya tahun 2010. “Ada banyak aspek menarik, ada anomaly dalam jumlah embun di tenggara, dan jumlah hujan yang sangat banyak,” kata Winters.
 Dan aliran jet superkuat tersebut “dapat dilacak pada kondisi-kondisi di Pasifik barat, hampir seminggu sebelumnya,” kata Winters.

Martin dan Winters menjelaskan karya mereka dalam diskusi tanggal 6 dan 7 Desember dalam pertemuan tahunan  American Geophysical Union di San Francisco.
Studi pada banjir Tennesse, tornado Alabama, dan badai Oktober yang aneh di Wisconsin menunjukkan “kalau jet subtropics didorong ke arah kutub dalam pengaruh badai kuat di Pasifik barat, tampaknya menghasilkan badai besar di bagian tengah AS,” kata Martin. “Sangat mengesankan kalau ada hubungan global yang terjadi tujuh hingga 10 hari kemudian.”
 Martin juga menyarankan kalau posisi aliran jet subtropis yang berubah dapat berkaitan dengan pemanasan global.

 “Ada alasan untuk meyakini kalau dalam iklim yang lebih hangat, pertindihan aliran jet ini dapat membawa pada cuaca berpengaruh tinggi akan lebih sering terjadi,” kata Martin.
Gagasan ini dapat diuji, tambah Martin.

“Data cuaca historis akan memberi tahu apakah ada perubahan dalam frekuensi peristiwa bertindihan ini, dan apakah itu berhubungan dengan perubahan dalam peristiwa cuaca pengaruh tinggi. Menarik untuk dipelajari karena akan membantu kita memahami salah satu mekanisme yang mungkin dimana iklim yang lebih hangat dapat membawa pada peningkatan cuaca buruk,” katanya.
 Walaupun hurikan dapat dilacak seminggu atau lebih saat mereka melintasi Samudera Atlantik, fenomena cuaca jarang bertahan lama, kata Martin. “Bila aliran jet subtropics disusun ulang dan ditindihkan di atas aliran jet kutub, itu mungkin menjadi mekanisme yang memungkinkan penundaan sangat lama ini, gangguan yang memiliki efek pada cuaca buruk ribuan mil jauhnya, dan seminggu atau lebih kemudian.”

Martin mengatakan kalau analisis baru ini bertahan dalam studi lebih lanjut, ia dapat membantu peramalan cuaca buruk.
 Walaupun cuaca buruk diramalkan sehari atau dua hari lebih awal dari terjadinya tornado besar di Tenggara AS bulan April, “sebagian besar ramalan tornado dibuat 12 atau paling cepat 24 jam sebelum kejadian. Hal tersebut menyelamatkan nyawa. Namun bila kita mengetahuinya lima atau enam hari lebih awal dengan mengamati posisi aliran jet, kita dapat mengatakan, “Hey, kita akan punya minggu yang sangat mengejutkan, kita harus bersiap siaga.”
Sumber Berita:

Jumat, 27 Januari 2012

Timbulnya Angin Kencang di Berbagai Daerah

BMKG
JAKARTA, KOMPAS.com — Dua bibit siklon tropis tumbuh di Samudra Hindia, dan saat ini dalam proses menghimpun energi dengan menarik massa uap air dari berbagai daerah. Kedua bibit siklon tersebut berada di selatan Nusa Tenggara Barat dan Teluk Carpentaria, Australia.

Keberadaan siklon tropis tersebut bisa berdampak langsung bagi cuaca di NTT dan sekitarnya. "Ekor badai selalu dikhawatirkan memberi dampak hujan ekstrem di beberapa wilayah di Indonesia," kata Kepala Bidang Informasi Meteorologi Publik pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Mulyono Prabowo, Selasa (24/1/2012) di Jakarta.

Tahun 2001 dan 2003, siklon tropis di Samudra Hindia berdampak angin kencang, hujan lebat, dan gelombang tinggi di perairan wilayah NTT. Bahkan, dilaporkan ada korban meninggal dunia akibat amukan ekor badai tersebut. Ekor badai berkekuatan tinggi bisa mendatangkan hujan lebat di Jakarta. Sejauh ini, kondisi awan yang berpotensi menimbulkan hujan di Jakarta masih bersih.

"Proses pembentukan kedua bibit siklon tropis masih dipantau. Bibit siklon yang berada di Teluk Carpentaria lebih memiliki peluang menjadi siklon tropis terlebih dahulu," kata Mulyono. Waktu kejadian siklon tropis memang belum bisa diprediksikan. Namun, lokasi tersebut memang pusat tumbuhnya siklon tropis di belahan bumi selatan.

Seruak dingin

Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara BMKG Edvin Aldrian mengatakan, saat ini juga masih terus dipantau, pergerakan seruak dingin (cold surge) dari belahan bumi utara yang dapat meningkatkan intensitas curah hujan di Indonesia. Salah satu indikatornya, pantauan terhadap kejadian badai salju di wilayah Hongkong. "Jika badai salju terjadi di Hongkong, dalam tiga hari hingga sepekan bisa berdampak bagi wilayah Indonesia, termasuk Jakarta. Badai di sana akan meningkatkan kondensasi dan berakibat hujan lebat di Jakarta," kata Edvin.

Kejadian bersamaan antara seruak dingin, siklon tropis di Samudra Hindia, dan puncak pasang air laut biasanya menimbulkan banjir besar di Jakarta dan sekitarnya. Kawasan pantai utara Jawa pun bisa turut terdampak.

Menurut Kepala Subbidang Cuaca Ekstrem BMKG Kukuh Ribudiyanto, puncak pasang air laut tertinggi berpotensi terjadi pada 2-6 Februari mendatang. Pertumbuhan bibit siklon tropis di Samudra Hindia sangat menentukan kejadian bencana banjir besar di Jakarta yang dipahami awam sebagai siklus lima tahunan setelah tahun 2002 dan 2007. 

Sumber : Sains Kompas