Selamat Berkunjung

Selamat Berkunjung !
Diharap komentarnya agar lebih bermanfaat, menambah wawasan dan hikmah
Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 April 2012

Hasil Munas Hisab dan Rukyat Penentuan Awal Bulan Qamariyah

Musyawarah Nasional Hisab dan Rukyat  yang diselenggarakan oleh Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama bekerjasama dengan Dirjen Bimas Islam bertempat di Operation Room Lantai 3 Gedung Kementerian Agama Jl. MH. Thamrin No. 6 Jakarta, pada hari Rabu tanggal 25 April 2012 M / 3 Jumadal Akhirah 1433 H, yang dihadiri oleh ulama, pakar, perwakilan pemerintah (Kementerian Agama)  dan perwakilan ormas keagamaan menghasilkan rumusan sebagai berikut :
  1. Ada kesadaran bahwa keseragaman takwim Islam Indonesia (untuk penentuan awal bulan Qamariyah selain awal bulan Ramadan, Syawal dan Zulhijjah)  adalah sebuah kebutuhan bersama yang perwujudannya membutuhkan proses untuk mendekatkan pandangan dan metode yang bisa disepakati bersama.
  2. Untuk menuju kesatuan penetapan awal bulan Ramadan, Syawal dan Zulhijah dibutuhkan 3 prasyarat yang harus dipenuhi, yaitu: 1) pemberian dan pengakuan otoritas kepada lembaga tertentu (MUI sejauh ini memberikan otoritas tersebut kepada Kementerian Agama RI); 2) adanya kriteria yang disepakati; dan 3) adanya wilayah pemberlakuan hukum;
  3. Sejauh ini belum ada kesepakatan butir kedua, yaitu mengenai kriteria awal bulan qomariyah. Untuk menuju ke sana, pihak-pihak yang hadir dalam forum setuju untuk membentuk tim kecil perumus kriteria yang terdiri dari perwakilan ahli hisab rukyat ormas dan instansi terkait, dengan difasilitasi oleh Kementerian Agama dan supervisi pimpinan ormas.
  4. Untuk menindaklanjuti kegiatan ini, Munas ini mengamanatkan langkah-langkah konkrit sebagai berikut:
    • Merevitalisasi badan yang selama ini menangani hisab dan rukyat (BHR) agar lebih legitimated sehingga keputusannya mempunyai daya ikat kepada ormas yang diwakilinya.
    • Melakukan tindak lanjut kajian secara intensif untuk melakukan upaya pendekatan di wilayah pandangan dan metode sehingga tercapai satu kriteria bersama  dengan melibatkan pakar dan fuqoha.
    • Melakukan penelitian observasi hilal secara kontinyu untuk kepentingan kriteria penetapan awal bulan qomariyah.
    • Mengadakan musyawarah bersama secara intensif untuk menetapkan Takwim secara musyawarah mufakat.
  5. Selama kesatuan takwim itu belum tercapai, semua pihak hendaknya bisa menahan diri untuk menjaga kemaslahatan umat dengan mengedepankan toleransi.
  6. Kepada perwakilan-perwakilan ormas diminta dapat membawa pesan upaya penyatuan Takwim Islam Indonesia ini dalam forum pengambilan keputusan hukum tertinggi di masing-masing ormas.
  7. Perlu memperbanyak frekuensi dialog/silaturahmi antar pimpinan/tokoh ormas yang dapat difasilitasi Kementerian Agama.
  8. Perlu melakukan kaderisasi bersama antar ormas untuk mendalami kompetensi Astronomi.
  9. Membuat kalender Islam tunggal yang disepakati antar ormas Islam.
Jakarta, 25 April 2012

Kesepakatan Garis Tanggal Mutlak Diperlukan untuk Mewujudkan Kalender Global

Kalender adalah hasil perhitungan (hisab) dengan suatu kriteria tertentu dalam menetapkan hari dan tanggal setiap siklus harian, bulanan, dan tahunannya. Karena bumi kita bulat, awal hari, awal bulan, atau awal tahun pada sistem kelender global harus ditetapkan batasnya. Itulah yang dinamakan garis tanggal. Secara umum ada 2 sistem kalender, sistem matahari (solar calendar atau almanak syamsiah, berdasarkan ketampakan matahari) dan sistem bulan (lunar calendar atau almanak qamariyah, berdasarkan ketampakan bulan). Animasi di atas adalah ilustrasi garis tanggal internasional (International Datel Line, IDL, berupa garis merah yang berputar mengikuti rotasi bumi) untuk kelender matahari. Pada kalender matahari internasional, awal hari ditetapkan pada tengah malam pukul 00.00. Jadi, ketika IDL melintasi waktu pukul 00.00 maka saat itulah mulai terjadi pergantian hari dan tanggal.

Garis tanggal internasional ditetapkan sekitar garis bujur 180 derajat. Tidak mungkin lurus karena mengikuti keputusan otoritas di sekitar garis tanggal itu. Sampai 1845 Filipina dan Indonesia terpisah oleh garis tanggal. Alasannya, penjajah Spanyol datangnya dari arah benua Amerika, jadi harinya disamakan dengan waktu di benua Amerika. Demikian juga Alaska. Sampai 1867, Alaska dan Kanada terpisah oleh garis tanggal, karena Alaska masih milik Rusia sebelum dibeli oleh Amerika Serikat. Kiribiti pada 1995 menggeser garis tanggal 30 derajat ke Timur, sehingga hari di Kiribiti sama dengan negara-negara Asia-Pasifik lainnya. Berikut ini garis tanggal internasional yang disepakati saat ini:



Updated: Sejak 31 Desember Samoa dan Tokelau menggeser garis tanggalnya ke arah Timur, sehingga mengikuti wilayah waktu negara-negara tetangganya di Asia Pasifik. Samoa dan Tokelau melompat dari Kamis 29 Desember menjadi Sabtu 30 Desember 2011. Gari tanggalnya menjadi seperti berikut:


(Gambar dari The Australian.com.au)

Bagaimana kalender Hijriyah yang berdasarkan bulan akan diglobalisasikan? Prinsipnya sama, harus ada garis tanggal. Namun harus disadari, hari harus tunggal, baik untuk kalender matahari maupun kalender bulan, walau mulainya bisa saja sedikit berbeda. Maka, hari mengikuti sistem kalender matahari dengan garis batas hari sama dengan garis tanggal internasional, tetapi mulainya sejaka maghrib saat biasa dilakukan rukyat. Nah, awal tanggalnya yang harus ditetapkan berdasarkan garis tanggal menurut kriteria yang disepakati secara global. Kalender Hijriyah didasarkan pada kriteria ketampakan hilal, walau rumusannya belum ada kesepakatan. Bagaimana pun, memberlakukan suatu sistem secara global harus didasarkan pada kesepakatan global juga. Kesepakatan yang utama adalah kriterianya. Dengan kriteria yang disepakati, mudah saja dibuatkan garis tanggalnya. Astronom mudah membuatkan garis tanggal itu tergantung kriteria yang disepakati.
Berikut contoh garis tanggal awal Syawal 1432 berdasarkan 3 kriteria:

(1) Kriteria Wujudul Hilal, kriteria paling sederhana, hanya berdasarkan hitungan bulan lebih lambat terbenam dari matahari sesudah ijtimak (Garis merah).
(2) Kriteria Imkan Rukyat 2 derajat, yang sederhana hanya didasarkan pada data rukyat terbatas yang belum tervalidasi (Garis kuning).
(3) Kriteria Imkan Rukyat astronomi yang didasarkan pada data rukyat secara global dan jangka panjang yang divalidasi secara astronomis (Garis biru).



Dari tiga kriteria itu silakan dipertimbangkan untuk diajukan secara global untuk disepakati. Kalender Hijriyah yang kita kehendaki adalah kalender yang bisa digunakan untuk penetapan waktu ibadah, bukan sekadar kalender administratif ala Ummul Quro di Arab Saudi . Arab Saudi menetapkan waktu ibadah dengan rukyatul hilal, tidak bergantung pada kalender Ummul Quro.

(1) Kriteria Wujudul Hilal tidak populer secara internasional dan pada saat posisi bulan rendah pasti terjadi perbedaan dengan hasil rukyat yang masih diprakteknya di banyak negara (termasuk Arab Saudi).

(2) Kriteria Imkan rukyat 2 derajat, walau pun masih sederhana dan hanya didasarkan pada beberapa data rukyat yang belum tervalidasi, kriteria ini telah disepakati oleh sebagian besar ormas Islam di Indonesia dan negara-negara MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

(3) Kriteria Imkan Rukyat astronomi yang punya landasan ilmiah astronomis.
Kalau sudah disepakati kriterianya, langkah berikutnya adalah implementasinya.

(a) Kalau mau diberlakukan secara global (satu hari-satu tanggal dalam sistem kalender Masehi, ala Jamaluddin Ar-Raziq dari Maroko), maka penetapan tanggal didasarkan pada imkan rukyat pertama kali. Kalau digunakan kriteria Imkan Rukyat Astronomis (garis biru), Afrika bagian Selatan, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan sudah imkan rukyat pada 29 Agustus. Maka 1 Syawal berlaku global jatuh pada haris Selasa, 30 Agustus 2011. Dengan sistem ini rukyat lokal tidak berlaku lagi. Tetapi, selama belum ada otoritas tunggal secara global ala khilafah, cara ini sulit diimplementasikan.

(b) Kalau mau diberlakukan atas dasar zona atau regional, maka implementasinya didasarkan pada imkan rukyat yang pertama kali di zona atau regional tersebut. Namun ini pun bergantung pada kesepakatan zona atau regional tersebut. Saat ini baru ada kesepakatan di antara negera-negara MABIMS. Maka bila itu diterapkan di regional MABIMS (yang mungkin diperluas ke ASEAN), maka dari garis tanggal tersebut (garis biru) terlihat imkan rukyat di wilayah Asia Tenggara baru terjadi pada 30 Agsutus, sehingga di regional tersebut 1 Syawal jatuh pada 31 Agsutus 2011.

(c) Implementasi realistis yang mungkin diterapkan saat ini adalah dengan prinsip wilayatul hukmi, yaitu berdasarkan otoritas wilayah hukum negara. Kalau prinsip wilayatul hukmi yang diterapkan, maka awal bulan didasarkan pada imkan rukyat pertama kali di sebagian wilayah negara tersebut. Maka kita akan melihat garis tanggal dibelok-belokkaan mengikuti batas negara, mirip seperti dibelok-belokkanya garis tanggal internasional.

by
T. Djamaluddin
Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN
Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementeria Agama RI



Menuju Kalender Hijriah Tunggal Pemersatu Ummat

Dakwatuna.com - Mari kita niatkan bersama untuk mewujudkan kalender hijriah menjadi kalender pemersatu ummat. Suatu kalender yang mapan yang setara dengan kalender Masehi. Jangan teruskan mengkerdilkan kalender hijriah dalam kotak kelompok-kelompok kecil, sehingga kalender hijriah hanya berlaku untuk ormas tertentu saja, tidak berlaku nasional apalagi global. Untuk menjadi sistem kalender yang mapan tiga syarat harus terpenuhi:
  1. Ada otoritas (penguasa) tunggal yang menetapkannya.
  2. Ada kriteria yang disepakati
  3. Ada batasan wilayah keberlakukan (nasional atau global).
Kita lakukan secara bertahap, dimulai dari tingkat nasional, kemudian diperluas menjadi regional, dan akhirnya global. Untuk tingkat nasional kita tinggal selangkah lagi. Otoritas tunggal kita sudah mempunyainya, yaitu pemerintah yang diwakili Menteri Agama. Batas wilayah keberlakukan kita sepakati dulu batas wilayah NKRI. Tinggal satu lagi yang kita upayakan, menyamakan kriteria. Kriteria yang kita tetapkan harus bisa mempertemukan hisab dan rukyat, sehingga aplikasinya senantiasa sejalan dengan kebutuhan ibadah yang bagi sebagian kalangan mensyaratkan adanya rukyatul hilal. Itu mudah, kita gunakan kriteria imkanur rukyat atau visibilitas hilal. Dengan kriteria itu kita bisa menentukan kalender dengan hisab sekian puluh atau sekian ratus tahun ke depan, selama kriterianya belum diubah.

Seandainya, kriteria itu sudah kita sepakati, satu tahapan dapat kita capai: kita akan mempunyai satu kalender hijriah nasional yang baku. Sistem kalender yang berlaku untuk semua ormas dan menjadi acuan pemerintah dalam menetapkan hari-hari besar Islam. Awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha insya Allah akan seragam, karena hasil rukyat pun insya Allah akan sejalan. Sidang isbat, kalau masih diperlukan, hanya untuk menetapkan hasil rukyat dan menetapkan keputusan ketika ada permasalahan dengan hasil rukyat dalam kondisi mendung dengan tetap merujuk pada kriteria hisab-rukyat yang disepakati.

Marilah kita bermimpi untuk kemudian memperluasnya ke tingkat regional dan global. Mungkinkah? Sangat mungkin. Kita perluas otoritasnya menjadi otoritas kolektif regional (misalnya kesepakatan tingkat ASEAN) atau global (misalnya kesepakatan Organisasi Konferensi Islam, OKI) dan kita perluas wilayahnya menjadi wilayah regional atau global. Kalau perlu kriterianya ditinjau lagi untuk mendapatkan kesepakatan di tingkat regional dan global. Yang demikian sederhananya konsep penyatuan kalender hijriah itu, yang terpenting ada keterbukaan untuk mencari kesepakatan.
Lalu bagaimana konsep harinya untuk pemberlakuan secara global? Kita harus sadari, kriteria imkanur rukyat terkait dengan batas tanggal qamariyah (lunar date line) yang senantiasa berubah-ubah. Kita tidak mungkin mendapatkan “satu tanggal satu hari” di seluruh dunia. Jadi kita tidak mungkin untuk mendapatkan, misalnya, hari Arafah 9 Dzulhijjah seragam Senin di seluruh dunia, kecuali bila garis tanggalnya memungkinkan. Peluang terbesar, akan terjadi dua hari untuk tanggal hijriah yang sama. Misalnya di wilayah Barat Senin, tetapi di wilayah Timur Selasa.

Konsep “satu hari satu tanggal” yang dihendaki sebagian orang hanya dapat terjadi kalau terjadi “pemaksaan”. Wilayah yang belum mengalami rukyatul hilal (berdasarkan kriteria imkanur rukyat) dipaksa untuk ikut wilayah yang sudah imkanur rukyat. Artinya, menggeser garis tanggal qamariyah menjadi sama dengan garis tanggal internasional. Pendekatan yang bisa dilakukan adalah membuat zona-zona tanggal, seperti dilakukan oleh Ilyas dalam gagasan Internasional Islamic Calendar Program auat Odeh dalam program Universal Hijric Calendar. Odeh membagi dunia menjadi Zona Timur (180 BT – 20 BB, Asia, Afrika, dan Eropa) dan zona Barat (20 BB – 180 BB, Benua Amerika). Dengan konsep zona, “pemaksaan” juga terjadi, tetapi dalam lingkup yang lebih terbatas. Saya lebih cenderung untuk menggunakan garis batas tanggal qamariyah dengan sedikit pembelokan menurut wilayatul hukmi.
Berikut ini contohnya:


Kita ambil kasus penentuan Syawal 1432. Bila menggunakan kriteria “beda tinggi bulan-matahari >4 derajat dan jarak bulan-matahari >6,4 derajat”, garis tanggalnya adalah garis yang paling bawah (4 derajat) dan garis pendek (jarak bulan-matahari 6,4 derajat). Itu berarti di wilayah Afrika Tengah dan Selatan serta Amerika Tengah dan Selatan, awal Syawal jatuh pada 30 Agustus 2011. Di wilayah lainnya (termasuk Indonesia dan negara-negara Arab) awal Syawal Jatuh pada 31 Agustus 2011.

Bila menggunakan kriteria Odeh, wilayah yang mulai bisa mengamati hilal pada 29 Agustus dengan menggunakan alat optik (teleskop atau binokuler) adalah wilayah yang berwarna biru. Wilayah berwarna magenta dan hijau menyatakan wilayah yang mungkin bisa melihat hilal dengan mata telanjang. Berdasarkan garis tanggal warna biru, kita bisa simpulkan di Afrika Selatan, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan 1 Syawal jatuh pada 30 Agustus 2011. Di wilayah lain, termasuk di Indonesia dan negara-negara Arab 1 Syawal jatuh pada 31 Agustus 2011.

Dengan menggunakan kriteria yang disepakati, kita bisa membuat garis tanggalnya. Berdasarkan garis tanggal itu kita bisa tentukan awal bulan di berbagai negara, dengan menggunakan prinsip wilayatul hukmi. Dengan sistem teknologi informasi yang makin canggih, pembuatan garis tanggal mudah dilakukan dan mudah diakses oleh siapa pun. Kita bisa menghitung untuk sekian puluh atau sekian ratus tahun ke depan dengan mudah.
by Oleh: Prof. DR. Thomas Djamaluddin

Selasa, 20 Maret 2012

Perhitungan Posisi Matahari dan Bulan




Matahari dan Bulan merupakan obyek langit yang dipergunakan sebagai acuan perhitungan penanggalan. Secara fisis keduanya mempunyai karakteristik yang jauh berbeda, yaitu massa, ukuran, komposisi kimia, temperatur, kecerlangan dan jaraknya terhadap bumi. Perbedaan massa dan jarak yang sangat besar akan berpengaruh terhadap gaya gravitasi yang ditimbulkannya. Akibat interaksi gravitasi inilah akan mengakibatkan kompleksitas lintasan atau orbit yang sudah dipelajari dan diamati selama berabad-abad oleh para ahli astronomi di seluruh dunia.

Kompleksitas muncul oleh karena semua planet saling memberikan kontribusi, berupa gangguan atau perturbasi terhadap bentuk orbit yang tidak seragam. Seiring dengan itu perkembangan teknologi observasi dan metoda numerik berjalan cepat untuk saling melengkapi dalam menyingkap tabir kompleksitas lintasan planet. Faktor-faktor gangguan akan menyebabkan posisi relatif semua planet berubah secara dinamis.

Matahari sebagai obyek langit terbesar dalam sistem tata surya, mempunyai pengaruh gravitasi paling dominan terhadap seluruh obyek langit dalam tata surya. Oleh karena itu semua planet mempunyai orbit mengelilingi matahari (heliosentris). Secara umum dalam perhitungan astronomi, posisi Matahari dapat ditentukan dengan akurasi tinggi, yaitu ± 0.01º saat matahari berada di titik zenith. Walaupun demikian tingkat akurasi tersebut hanya berlaku untuk periode tertentu, yaitu tahun 1950-2050 (Michalsky, 1988).

Semakin tinggi tingkat akurasinya, semakin pendek masa keberlakuannya. Kebutuhan tingkat presisi yang sangat tinggi diperlukan untuk perhitungan lintasan satelit, kalibrasi peralatan atau kebutuhan aplikasi khusus lainnya. Secara keperluan praktis dan keseharian, presisi sangat tinggi tidak diperlukan. Akan tetapi pengetahuan algoritma dasar perhitungan tersebut masih tetap diperlukan. Bretagnon (1982) telah menyusun Variations Seculaires des Orbites Planetaires Theory (VSOP) dan disempurnakan oleh Bretagnon dan Francou tahun 1987 atau sering disebut VSOP87. Meeus (1998), berdasarkan algoritma VSOP87 telah menyusun algoritma dalam perhitungan astronomi dengan tingkat akurasi sangat tinggi (< ± 0.001º) dengan periode lebih panjang. Tabel-tabel data yang diperlukan tidaklah ditampilkan sepenuhnya dalam makalah ini, tapi dapat merujuk Meeus (1998).

Selain data-data ephemeris obyek-obyek langit dalam VSOP87, terdapat banyak versi ephemeris yang dipergunakan. Secara umum badan-badan antariksa, baik Amerika Serikat ataupun Eropa dapat mengeluarkan data-data tersebut. Perolehan data-data ephemeris adalah melalui observasi, baik dengan satelit di luar angkasa, peluncuran roket ataupun pengamatan dari teleskop di bumi. Semakin banyak aktivitas rutin observasi benda langit atau semakin sering satelit diluncurkan, semakin baik (banyak) data yang diperoleh dan semakin akurat hasil perhitungan. Sehingga dalam melakukan perhitungan komputasi perlu disebutkan ephemeris yang dipergunakan.

Matahari dan Bulan Saat Terbit

Posisi Matahari dan Bulan saat terbit dan tenggelam mempunyai ketinggian yang rendah terhadap medan pandang sepanjang horizon. Pengaruh atmosfer dan kondisi lokal mengurangi tingkat akurasi, seperti dibahas dalam bab sebelumnya. Efek refraksi, gradien kerapatan atmosfer dan temperatur menyebabkan perbedaan indeks bias setiap lapisan atmosfer. Sehingga posisi Matahari dan Bulan merupakan posisi semu. Pengetahuan lengkap tentang hal ini sangatlah sulit dalam hal akurasi tekanan, temperatur dan kerapatan atmosfer, sehingga banyak dilakukan pendekatan ataupun memberi nilai rata-rata tertentu yang berlaku di semua tempat.
Walaupun demikian, secara umum ketelitian dapat mencapai kurang dari 2 menit waktu dengan penggunaan data ephemeris yang sesuai melalui prosedur. Untuk lebih memperoleh data akurat tekanan dan temperatur di satu tempat yang sudah dipilih adalah dengan meletakkan instrumentasi meteorologi dan pengamatan obyek langit (bintang) ketinggian rendah secara teratur. Dalam hal ini akan diperoleh pola-pola bulanan dan tahunan kondisi lokal.

Tingkat akurasi bergantung terhadap pengetahuan lengkap fisis fungsi gangguan semua obyek langit, khususnya planet bermassa besar terhadap elemen orbit (dalam hal ini Bulan) dan kondisi lokal atmosfer. Faktor lain adalah pendekatan terhadap fungsi matematis atau seberapa banyak suku-suku dalam polinomial yang dipergunakan. Kemudian tujuan melakukan perhitungan akan menentukan tingkat akurasi yang diinginkan.

Misalkan momen gerhana matahari total, saat kita hanya ingin tahu daerah mana yang terlewati bayangan bulan, maka ketelitian 100 km masih memadai. Lain halnya jika seseorang memimpin dan mengorganisasi ekspedisi gerhana matahari total, maka akurasi 1 km di daerah tertentu harus dapat ditentukan. Demikian pula jika hanya ngin diketahui waktu terbit dan tenggelam planet, maka ketelitian ± 0.01º sudah memadai. Akan tetapi jika ingin merencanakan penerbangan ke Bulan, maka ketelitian 1 detik busur harus dicapai dengan waktu komputasi jauh lebih banyak.

by Dhani Herdiwijaya : Solar-Terrestrial Physics Research Group, Astronomy Division, faculty Mathematics and Natural Sciences, Institut Teknologi Bandung. Makalah disampaikan pada acara Diklat Nasional Pelaksana Rukyat Nahdatul Ulama, oleh Lajnah falakiyah NU di Masjid Agung Jawa Tengah, 19 Desember

Mengenal gerhana Bulan dan Matahari


Gerhana Matahari

Bumi beredar mengelilingi Matahari sedang Bulan beredar mengelilingi Bumi. Dalam peredarannya mengelilingi Bumi, suatu saat Bulan akan berada di antara Bumi dan Matahari (istilahnya bulan baru). Matahari-Bulan-Bumi tampak segaris seperti pada gambar berikut. Nah, jika saat itu manusia di Bumi melihat ada bagian Matahari yang tertutup oleh Bulan maka saat itu terjadi gerhana Matahari (baca terus tulisan ini untuk mengetahui kenapa kejadian ini tidak terjadi setiap bulan baru). Bagian Matahari yang tertutup oleh Bulan bisa seluruhnya atau sebagian saja.

Geometri yang memungkinkan terjadinya gerhana Matahari.
Peringatan: tidak setiap bulan terjadi.
A. Jenis gerhana Matahari

  1. Jika matahari tertutup seluruhnya oleh Bulan berarti yang kita saksikan adalah Gerhana Matahari Total (GMT). Pada GMT piringan Matahari sama sekali tidak terlihat. Yang terlihat hanyalah bagian Matahari yang disebut korona.
  2. Jika Matahari tertutup sebagian saja namun seluruh Bulan ada di depan Matahari maka Matahari akan tampak seperti cincin. Karena tampak seperti cincin maka gerhana jenis ini dinamakan Gerhana Matahari Cincin (GMC).
  3. Apabila Matahari tertutup sebagian saja dan tidak seluruh Bulan berada di depan Matahari berarti yang kita saksikan adalah Gerhana Matahari Sebagian (GMS). Gerhana Matahari sebagian biasa juga disebut Gerhana Matahari Penumbra.
B. Penyebab terjadinya gerhana Matahari
Matahari laksana bola api raksasa yang memancarkan sinar sangat tajam. Karena Bulan disinari oleh Matahari maka akan terbentuk bayangan utama bulan yang berbentuk kerucut. Bayangan utama ini dinamakan umbra.  Di samping umbra terbentuk juga bayangan tambahan yang dinamakan penumbra. Apabila umbra atau penumbra tersebut mengenai Bumi maka terjadilah gerhana Matahari.

Bayangan benda langit akibat cahaya Matahari ada dua jenis: umbra (bayangan utama) dan penumbra (bayangan tambahan)
Sekarang mari kita ikuti perjalanan Bulan mengitari Bumi. Perhatikan gambar berikut.

Geometri gerhana Matahari total (dilihat dari atas bidang Bumi mengelilingi Matahari yakni bidang ekliptika).
Pada gambar tersebut, Bulan melintas tepat di antara Bumi dan Matahari. Nah, apabila kita berada di daerah pertemuan umbra dengan permukaan bumi (yakni daerah yang ditunjuk oleh panah U pada gambar) maka kita akan melihat GMT. GMT biasanya dapat disaksikan selama kurang lebih 3 menit. Paling lama sekitar 7 setengah menit. Apabila kita berada di daerah pertemuan penumbra dengan permukaan Bumi (yakni daerah yang ditunjuk oleh panah P) maka yang kita lihat adalah GMS.
Gambar berikut ini barangkali bisa memberikan ilustrasi yang lebih baik.
Geometri gerhana Matahari total.
Sumber: http://images.yourdictionary.com
Sekarang perhatikan gambar berikut.

Geometri gerhana Matahari cincin (dilihat dari atas bidang ekliptika).
Pada gambar tersebut ada daerah yang disebut antumbra (yakni daerah yang ditunjuk oleh panah A). Daerah ini merupakan perpanjangan umbra. Apabila kita berada di daerah pertemuan antumbra tadi dengan permukaan Bumi maka yang kita lihat adalah GMC. Kalau GMT paling lama dapat disaksikan tidak lebih dari 8 menit maka GMC dapat disaksikan hingga 11 menit. Perhatikan bahwa pada GMC pertemuan penumbra dengan permukaan Bumi lebih besar dibanding pada peristiwa GMT. Artinya lebih banyak daerah yang bisa menyaksikan GMS ketika terjadi GMC dibanding ketika terjadi GMT.
Terkadang Bulan melintas tidak tepat di tengah Bumi dan Matahari sehingga umbra dan antumbra Bulan tidak mengenai Bumi seperti pada gambar berikut.

Geometri gerhana Matahari sebagian (dilihat dari samping bidang ekliptika).
Pada gambar tersebut bayangan yang mengenai Bumi hanyalah penumbra. Jika begini kejadiannya maka yang terjadi di Bumi hanyalah GMS. Tidak ada GMT dan GMC.
C. Beberapa faktor yang memengaruhi gerhana Matahari
1. Pengaruh jarak
Lintasan Bumi mengelilingi Matahari tidak berbentuk lingkaran melainkan berbentuk lonjong (elips). Demikian juga lintasan Bulan dalam mengitari Bumi. Hal ini mengakibatkan jarak Bumi dengan Matahari begitu juga Bumi dengan Bulan senantiasa berubah. Akan ada jarak terdekat Bumi dengan Matahari dan jarak terjauh Bumi dengan Matahari. Akan ada juga jarak terdekat Bumi dengan Bulan dan jarak terjauh Bumi dengan Bulan. Perhatikan gambar berikut.

Bumi dan Bulan mengitari pusatnya masing-masing dalam lintasan yang berbentuk elips.
Perbandingan ukuran Bulan saat titik terdekat (perigee) dan di titik terjauh (apogee).
Sumber: www.starrynightphotos.com
Berbicara masalah jarak, ada hal menarik terkait dengan ukuran Matahari dan Bulan. Perhatikan gambar berikut.

Perbandingan ukuran Bumi dan Matahari
Diameter Matahari kira-kira 109 kali diameter Bumi. Diameter Bumi kira-kira 3.67 kali diameter Bulan.  Dengan kata lain diameter Matahari 400 kali lebih diameter Bulan. Akan tetapi jika kita melihat ke langit ternyata  keduanya terlihat hampir sama besarnya. Itu karena jarak Bumi-Matahari juga sekitar 400 kali jarak Bumi-Bulan. Inilah yang memungkinkan Bulan menutupi seluruh permukaan Matahari ketika terjadi GMT.
Perhatikan kembali gambar lintasan Bumi dan Bulan di atas. Saat Bumi berada di titik terdekatnya dari Matahari (sekitar 147 juta km) sedang Bulan berada di titik terjauhnya dari Bumi (sekitar 400 ribu km) Bulan akan terlihat lebih kecil daripada Matahari. Nah, ini memungkinkan terjadinya GMC. Sebaliknya, saat Bumi berada di titik terjauhnya dari Matahari (sekitar 152 juta km) sedang Bulan berada di titik terdekatnya dari Bumi (sekitar 357 ribu km) maka Bulan terlihat lebih besar daripada Matahari. Ini memungkinkan terjadinya GMT.
2. Pengaruh perbedaan bidang lintasan
Walaupun Bulan berada di antara Bumi dan Matahari sebulan sekali (tiap bulan baru)  namun tidak tiap bulan terjadi gerhana Matahari. Dalam setahun biasanya hanya terjadi 2 kali gerhana Matahari.  Mengapa demikian?
Bumi mengelilingi Matahari dalam sebuah bidang. Bulan pun mengelilingi Bumi dalam sebuah bidang. Ternyata bidang lintasan Bumi mengelilingi Matahari tidak berimpit dengan bidang lintasan Bulan mengelilingi Bumi tetapi berselisih sekitar 5 derajat. Apa akibatnya? Perhatikan gambar berikut.

Bidang lintasan Bulan memotong bidang lintasan Bumi (dengan selisih sebesar 5 derajat)
Gambar tersebut memperlihatkan dua kejadian bulan baru. Ketika terjadi bulan baru yang sebelah kanan, Bulan berada jauh di bawah bidang lintasan Bumi sehingga tidak ada bayangan Bulan (umbra maupun penumbra) yang mengenai Bumi. Akibatnya tidak terjadi gerhana. Sekarang bulan baru yang sebelah kiri. Ketika itu Bulan berada di bidang lintasan Bumi sehingga ada bayangan Bulan (umbra maupun penumbra) yang mengenai bumi. Akibatnya terjadi gerhana.
Titik potong Bulan dengan bindang lintasan Bumi disebut titik simpul (node). Gerhana Matahari hanya terjadi jika bulan baru terjadi di sekitar titik simpul tersebut.  Perhatikan gambar berikut.

Gerhana Matahari terjadi jika bulan baru terjadi di dekat titik simpul (node). Perhatikan selisih bidang lintasan (orbit) Bulan dan Bumi (ekliptika). Sumber: http://www.astro.virginia.edu

Gerhana Bulan

Gerhana Bulan dapat dianggap sebagai kebalikan dari gerhana Matahari. Ketika gerhana Matahari, Bumi berada dalam bayangan Bulan; ketika gerhana Bulan, Bulan berada dalam bayangan Bumi. Ketika terjadi gerhana Bulan total, Bulan yang sedang purnama secara berangsur-angsur menjadi gelap (biasanya berwarna kemerahan).
Geometri yang memungkinkan terjadinya gerhana Bulan.
Peringatan: tidak setiap bulan terjadi.
A. Jenis gerhana Bulan

  1. Apabila seluruh Bulan berada di dalam umbra maka yang kita lihat adalah Gerhana Bulan Total (GBT).
  2. Apabila sebagian Bulan berada di dalam umbra (sebagian lagi dalam penumbra) maka yang kita lihat adalah Gerhana Bulan Sebagian (GBS).
  3. Apabila seluruh Bulan berada di dalam penumbra atau sebagian saja (ada bagian Bulan yang tidak mengalami gerhana) maka yang kita lihat adalah Gerhana Bulan Penumbral (GBP).
Perhatikan bahwa GBT selalu didahului dan diikuti oleh GBS dan GBP, sedang GBS selalu didahului dan diikuti oleh GBP.
B. Penyebab terjadinya gerhana Bulan
Sama dengan yang terjadi pada peristiwa gerhana Matahari, ketika Bumi berada di hadapan Matahari terbentuk bayangan Bumi yang  terdiri dari umbra dan penumbra.

Berbeda dengan ukuran umbra Bulan pada gerhana Matahari yang amat kecil dibanding ukuran Bumi, umbra Bumi pada gerhana Bulan dapat meliputi Bulan seluruhnya. Akibatnya, apabila pada gerhana Matahari kita hanya bisa menikmati GMT tidak lebih dari 8 menit, pada GBT kita bisa menikmatinya hingga lebih dari satu jam—tergantung dari seberapa dekat Bulan dari pusat umbra.
Sekitar 35% dari semua gerhana Bulan adalah GBP yang sangat sukar diamati meskipun dengan menggunakan teropong, sekitar 30% adalah GBS yang mudah diamati dengan mata telanjang, selebihnya adalah GBT yang juga mudah terlihat dengan mata telanjang. Perhatikan bahwa berbeda dengan gerhana Matahari di mana hanya kita yang berada di jalur umbra yang bisa menyaksikan GMT, pada gerhana Bulan kita semua yang mengalami malam hari saat terjadinya gerhana dapat menyaksikan GBT.
C. Beberapa faktor yang memengaruhi gerhana Bulan
1. Pengaruh jarak
Lain halnya dengan gerhana Matahari di mana variasi jarak Bumi-Matahari dan Bumi-Bulan berpengaruh pada jenis gerhana, pada gerhana Bulan variasi tadi hanya memengaruhi ukuran umbra maupun penumbra Bumi yang dilintasi Bulan. Hal ini berpengaruh pada durasi (lama) gerhana. Jika Bumi berada di jarak terdekatnya dengan Matahari sedang Bulan berada di jarak terjauhnya dari Bumi dan Bulan melintas tepat di tengah-tengah umbra maka gerhana Bulan yang terjadi dipastikan lebih lama daripada gerhana-gerhana pada kondisi jarak yang lain.
2. Pengaruh perbedaan bidang lintasan
Sama halnya dengan gerhana Matahari, perbedaan bidang lintasan mengakibatkan gerhana Bulan tidak terjadi di tiap purnama. Faktanya gerhana Bulan biasanya hanya terjadi 2 kali dalam setahun.
Tautan:
Sumber informasi gerhana di website NASA

Rabu, 15 Februari 2012

Ijtimak Bulan-Matahari


Hilal
Apakah hilal? Hilal ialah fasa bulan yang terawal boleh dilihat selepas Ijtimak yang menunjukkan sebahagian kecil dari permukaan bulan yang bercahaya. Ia kelihatan seperti satu lengkuk cahaya halus seperti sabit.



Rajah 1 di atas menunjukkan edaran bulan mengelilingi bumi dan bumi mengelilingi matahari. Semasa bulan mengelilingi bumi di dalam orbitnya, ia akan sampai kepada satu kedudukan di mana matahari, bulan dan bumi berada dalam satu garis (meridian) dan kedudukan ini dinamakan Ijtimak.
Ijtimak berasal dari perkataan Arab yang bermaksud berkumpul. Bulan seterusnya bergerak meninggalkan kedudukan Ijtimak 1 dan terus beredar mengelilingi bumi sehingga ia mengalami kedudukan ijtimak yang berikutnya iaitu Ijtimak 2. Dalam masa yang sama bumi juga beredar mengelilingi matahari. Masa yang diambil oleh bulan dari Ijtimak 1 ke Ijtimak 2 ialah 29 hari 12 jam 44 minit 2.9 saat. Ini bermakna bulan sudah melengkapkan satu edaran lengkap dan edaran ini dinamakan edaran Sinodis.

Akibat dari edaran bulan mengelilingi bumi bahagian muka bulan yang bercahaya kelihatan berubah dari hari ke hari dari bentuk sabit halus bertambah menjadi lebih besar hingga menjadi purnama dan mengecil semula dan menjadi seperti sabit halus. Perubahan ini dinamakan fasa. Semasa bulan mengelilingi bumi ia mengalami fasa-fasa yang tertentu bermula dari fasa hilal.
Dalam rajah 2 di bawah menunjukkan fasa-fasa bulan.



Kedudukan 1 merupakan kedudukan awal bulan dan fasa ini dinamakan fasa bulan baru (new moon) atau Ijtimak. Kedudukan ini dikira sebagai titik mula pergerakan bulan beredar mengelilingi bumi. Dari kedudukan 1 bulan bergerak ke kedudukan 2, ke 3 , ke 4 dan akhirnya kembali semula pada kedudukan 1. Pada setiap kedudukan bulan bulan mempunyai fasa yang berlainan.
Pada ketika Ijtimak, bulan betul-betul berada di antara bumi dan matahari. Ketika ini bulan tidak dapat dilihat oleh penduduk di bumi kerana bahagian gelap bulan menghadap bumi. Apabila bulan beredar sedikit ke kedudukan 1a, sebahagian kecil permukaan bulan yang bercahaya akan dapat dilihat bentuknya seperti lengkuk cahaya yang sangat halus. Inilah yang dinamakan hilal.

Syarat Kenampakan Hilal

Untuk menentukan awal bulan Contohnya 1hb. Ramadhan secara hisab kita mesti tahu bila berlakunya Ijtimak. Secara umum Ijtimak berlaku diakhir bulan hijrah. Hilal dianggap boleh kelihatan sekiranya memenuhi syarat (MABIMS) ImkanuRukyah (kemungkinan boleh rukyah ) ketika ghurub (terbenam) matahari pada hari rukyah, 29 haribulan Syaban.
Syarat tersebut ialah Umur hilal ketika ghurub sekurang-kurangnya 8 jam selepas Ijtimak. Jika syarat ini dipenuhi maka hari esok dikira sebagai 1 hb.
Selain syarat di atas ada dua lagi syarat iaitu : Altitud (ketinggian) hilal dari ufuk sekurang-kurangnya 2° ketika ghurub matahari.
DAN : Jarak lengkung matahari dan bulan sekurang-kurangnya 3°.


Sekirannya syarat umur sudah mencukupi bermakna syarat kenampakan dipenuhi.

Sumber:  Petikan dari Kertas Kerja Penentuan Ramadhan dan Syawal 1426H
Dr (H) Hj. Kassim b. Bahali

Soal-Soal Astronomi

Soal Essay
  1. Andaikan sebuah supernova mengembang dengan kecepatan 1.000 km/detik, dan jarak supernova tersebut adalah 10.000 parsek. Berapa perubahan diameter sudutnya dalam 1 tahun ?
  2. Nebula kepiting yang mempunyai radius sebesar 1 pc, mengembang dengan kecepatan 1.400 km/detik. Hitung umur nebula tersebut !
  3. Kecepatan yang diamati dari sebuah galaksi yang jauh (Vteramati) adalah gabungan dari kecepatan akibat ekspansi alam semesta (Vekspansi) dan kecepatan pekuliar (Vpek), yaitu (Vteramati = Vekspansi + Vpek). Kecepatan pekuliar adalah kecepatan diri galaksi terhadap kecepatan rata-rata galaksi lain disekitarnya. Kecepatan ekspansi bergantung pada hukum Hubble, sedangkan kecepatan pekuliar sebuah galaksi nilainya acak, sekitar ratusan km/s. Misalkan kita mengamati dua galaksi, satu pada jarak 35 juta tahun cahaya dengan kecepatan radial 580 km/s, dan yang lain pada jarak 1.100 juta tahun cahaya dengan kecepatan radial 25.400 km/s.
    1. Hitung konstanta Hubble dari masing-masing hasil pengamatan diatas dalam satuan km/s /juta tahun cahaya.
    2. Manakah di antara dua perhitungan yang akan Anda anggap lebih dapat dipercaya? Mengapa?
    3. Estimasikan kecepatan pekuliar dari galaksi dekat.
    4. Jika galaksi yang lebih jauh diketahui punya kecepatan diri yang sama dengan galaksi dekat, hitung konstanta Hubble yang lebih akurat!
  4. Andaikan kita mengamati sebuah galaksi yang jaraknya 500 Mpc, dan galaksi tersebut bergerak menjauhi kita dengan kecepatan 30.000 km/detik. Jika kecepatannya konstan, kapan Big Bang terjadi ?
  5. Massa Bulan adalah 7,1 x 1022 kg, orbit Bulan mengelilingi Bumi dianggap lingkaran dengan radius 384.400 km dan periode 27⅓ hari. Apabila pada suatu saat bulan bertabrakan dengan sebuah astroid besar bermassa 3,2 x 1018 kg, dengan arah tumbukan sentral, asteroid menghujam permukaan Bulan secara tegak lurus dengan kecepatan relatif 30 km/s terhadap bulan. Vektor kecepatan asteroid tepat berlawanan dengan vektor kecepatan Bulan dalam orbitnya mengelilingi Bumi. Berubah menjadi berapa lama periode orbit bulan ?
Soal Pilihan Berganda
  1. Koordinat Matahari pada tanggal 22 Juli kira-kira
    1. 00h 00m, +23°30′
    2. 06h 00m, -23° 30′
    3. 10h 30m, 00° 00′
    4. 12h 00m, +07° 50′
    5. 08h 00m, +15° 40′
  2. Jika sisi yang sama sebuah planet selalu menghadap ke Matahari, maka panjang hari sideris planet tersebut adalah:
    1. Satu tahun
    2. Satu hari
    3. Satu minggu
    4. Satu bulan
    5. Satu jam
  3. Sebuah teleskop dengan diameter 0,76 meter dapat mengumpulkan sejumlah cahaya dalam 1 jam. Berapa lama waktu yang diperlukan sebuah teleskop dengan diameter 4,5 meter untuk mengumpulkan jumlah cahaya yang sama?
    1. 0,17 menit
    2. 1,7 menit
    3. 17 menit
    4. 7,1 menit
    5. 0,71 menit
  4. Jupiter walaupun jaraknya lebih jauh selalu tampak lebih terang daripada Mars, karena
    1. Semata-mata albedonya lebih tinggi daripada albedo Mars
    2. Semata-mata diameter liniernya lebih besar daripada Mars
    3. Albedonya lebih rendah daripada albedo Mars dan diameternya lebih besar daripada diameter Mars
    4. Albedonya lebih tinggi daripada albedo Mars dan diameternya lebih besar daripada diameter Mars
    5. Tidak ada jawaban yang benar
  5. Okultasi sebuah planet oleh bintang dapat digunakan untuk
    1. Menentukan temperatur planet
    2. Menentukan diameter planet
    3. Menentukan materi pembangun planet
    4. Menentukan massa planet
    5. Menentukan rotasi planet
  6. Sebuah komet pada jarak yang paling dekatnya dengan Bumi, misalnya 0,9 Satuan Astronomi, mempunyai koma dengan diameter 1.500.000 km, maka ia akan tampak dengan diameter sudut
    1. 3″
    2. 6″
    3. 36″
    4. 3′
    5. 6′
  7. Refraksi oleh angkasa Bumi terhadap Matahari akan
    1. memperlambat waktu terbenam Matahari
    2. mempercepat waktu terbenam Matahari
    3. tidak mempengaruhi waktu terbenam Matahari
    4. mempercepat waktuterbenam Matahari hanya pada saatMatahari di kedudukan Winter dan Summer Solstices
    5. memperlambat waktu terbenam Matahari hanya pada saat Matahari di kedudukan Winter dan Summer Solstices
  8. Jumlah Meteor tahunan yang paling sedikit ada pada bulan
    1. Januari – Februari
    2. Februari – Maret
    3. November – Desember
    4. Juli – Agustus
    5. April dan Juni
  9. Yang termasuk periode pengamatan “meteor shower Perseids” adalah
    1. 2 – 7 Mei dengan puncak 4 Mei
    2. 17 – 24 Oktober dengan puncak 21 Oktober
    3. 20 Oktober – 25 November dengan puncak 4 November
    4. 19 – 23 Desember dengan puncak 22 Desember
    5. 29 Juli – 18 Agustus dengan puncak 12 Agustus
  10. Sebuah objek yang mengorbit pusat Galaksi Bima Sakti mematuhi Hukum Kepler 3. Ini berarti bahwa
    1. tarikan gravitasi menjadi lebih kuat ketika objek tersebut semakin jauh dari pusat
    2. gugus bintang yang besar akan mengorbit pusat Galaksi lebih cepat dari gugus bintang yang berukuran kecil
    3. semakin dekat sebuah bintang dengan pusat Galaksi, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk pergi mengelilinginya
    4. awan gas atau bintang yang lebih jauh dari pusat,umumnya akan memiliki lebih banyak waktu untuk mengorbit
    5. orbit dari semua obyek di sekitar Galaksi berbentuk lingkaran
  11. Jika ada suatu elektron yang karena fenomena angin Matahari dilontarkan dari Matahari ke arah Bumi, lintasannya tepat tegak lurus terhadap permukaan Bumi di atas provinsi Riau.
    Bagaimana lintasan elektron itu ketika masuk ke magnetosfer bumi?
    1. terus lurus menuju permukaan Bumi hingga sampai permukaan Bumi
    2. dibelokkan ke arah Barat
    3. dipantulkan oleh mangnetosfer sehingga berbalik ke arah Matahari
    4. dibelokkan ke arah Timur
    5. lintasannya tidak dapat diprediksi
  12. Bila gBl dan gBm masing–masing adalah percepatan gravitasi di Bulan dan Bumi, ρBl dan ρBm masing–masing adalah massa jenis rata – rata Bulan dan massa jenis Bumi maka (ρBl/ ρBm) = k*(gBl / gBm) dan k adalah
    1. 3,67
    2. 0,27
    3. 12,44
    4. 43,83
    5. 81,36
  13. Pilih rasi bintang yang paling luas diantara 5 rasi sebagai berikut :
    1. Virgo, Vir
    2. Scorpius , Sco
    3. Taurus, Tau
    4. Aries, Ari
    5. Leo, Leo
  14. Diketahui persamaan waktu (selisih antara waktu transit matahari sebenarnya dengan waktu transit matahari rata-rata) pada tanggal 16 Agustus 2010 adalah – 4,4 menit dan transit titik Aries pada jam 2:23 UT (biasa disebut GMT) maka sudut jam Matahari di kota Medan dengan lintang dan bujur geografis +3° 35′ LU dan 98° 39′ BT pada jam 12 WIB adalah
    1. –0j 29m 48s
    2. 0j 0m 0s
    3. +0j 23m 12s
    4. –0j 25m 24s
    5. +0j 25m 24s
  15. Bila jarak rata-rata Bumi-Matahari 149,6 juta km, jarak Mars-Matahari rata-rata 1,524 kali jarak rata-rata Bumi-Matahari atau 228,0 juta km dan Massa Matahari= 1,9891 x 1030 kg. Waktu oposisi planet Mars dalam kalender Matahari Gregorian dapat berlangsung:
    1. hanya pada bulan Agustus, Maret dan Januari
    2. semua bulan kecuali Februari dan April
    3. semua bulan
    4. semua bulan kecuali April dan Oktober
    5. semua bulan kecuali Maret dan September
  16. Perbedaan utama antara galaksi eliptik dan galaksi spiral adalah,
    1. galaksi eliptik tidak mempunyai “black hole” di pusatnya
    2. galaksi spiral tidak mempunyai gugus bola
    3. debu di galaksi eliptik lebih sedikit dari pada di galaksi spiral
    4. galaksi spiral lebih kecil dari pada galaksi eliptik
    5. galaksi eliptik lebih tua dari pada galaksi spiral
  17. Ada dua bintang, Bintang 1 dengan radius R1 dan Bintang 2 dengan radius R2 = 3R1, paralaks Bintang 1 adalah p1 dan paralaks Bintang 2 adalah p2= 6p1, bila pengukuran fluks bolometrik Bintang 1 adalah Fb1 dan Bintang 2 adalah Fb2 = 2Fb1 maka perbandingan temperatur efektif Bintang 1, Te1 dan temperatur efektif Bintang 2, Te2:
    1. Te1 = 3,6Te2
    2. Te1 = Te2
    3. Te1 = 0,6Te2
    4. Te1 = 12,7Te2
    5. Te1 = 40,4Te2
  18. Bila koreksi bolometrik, BC, didefenisikan BC = Mbol-Mv; Mbol = magnitudo bolometrik absolut dan Mv = magnitudo visual absolut.
    Maka diantara bintang-bintang yang mempunyai BC terkecil adalah bintang
    1. δ Vel (A0 V)
    2. β CMi (B7 V)
    3. α Hyi (F0 V)
    4. α Cen (G2 V)
    5. ε Eri (K2 V)
  19. Sebuah bintang diamati beredar di langit tidak pernah terbenam. Posisi paling tingginya 80° paling rendahnya 30°. Lintang tempat pengamatan dan deklinasi bintang yang mungkin adalah:
    1. φ = 80° LU dan δ = 25°
    2. φ = 55° LS dan δ = -65°
    3. φ = 50° LU dan δ = -25°
    4. φ = 45° LS dan δ = 65°
    5. φ = 30° LU dan δ = 35°
  20. Pada tahun 2013 Matahari akan mencapai puncak aktivitasnya yang terjadi 11 tahun sekali. Aktivitas apa saja yang terjadi di Matahari yang berpotensi mengganggu aktivitas sehari-hari manusia di Bumi?
    1. Prominensa
    2. Lontaran Massa Korona
    3. Granulasi
    4. Flare
    Pilihlah
    1. jika 1,2,3 benar
    2. jika 1,3 benar
    3. jika 2,4 benar
    4. jika 4 saja yang benar
    5. jika semua benar

Sabtu, 04 Februari 2012

Rasi Bintang Sebagai Penunjuk Arah


RASI BINTANG PARI :

Rasi bintang yang bisa ditemukan dan bisa dilihat di langit adalah rasi bintang pari/crux. Rasi bintang ini berbentuk pari/layang-layang/salib dan bisa kita lihat pada langit malam dengan arah agak ke selatan. Yah, salah satu fungsi rasi bintang juga adalah sebagai petunjuk arah pada malam hari kalo tiba-tiba kita kehilangan arah. Pada setiap rasi bintang, ada satu bintang yang paling terang, dan biasanya dalam peta rasi bintang diberi simbol α (lihat gambar)
rasi bintang pari/crux – arah selatan

RASI BINTANG ORION/WALUKU :

Rasi bintang kedua yang bisa ditemukan sendiri di langit, tentunya setelah liat peta rasi bintang adalah rasi bintang orion/pemburu. Rasi bintang ini dapat dilihat di langit sebelah barat. Dinamai Orion, yang artinya adalah pemburu, rasi bintang ini didedikasikan bagi Orion, putera Neptune, seorang pemburu terbaik di dunia. Orion ini mudah dikenali dengan adanya 3 bintang kembar yang berjajar membentuk sabuk Orion (Orion Belt). Satu lagi yang menarik bagi di rasi orion ini adalah adanya bintang Bellatrix dan Betelgeuse pada konstelasinya. Bellatrix identik dengan tokoh dalam Harry Potter, sedangkan Betelgeuse adalah salah satu judul film anak2 waktu dulu. Ternyata kedua nama itu adalah nama bintang, termasuk Sirius, Remus, Regulus, dan lain-lain dalam dunia perfilman. Selain sebagai petunjuk arah barat, rasi bintang orion ini/waluku dalam bahasa Indonesia sering dijadikan sebagai tanda bagi para petani jaman dulu untuk mulai menggarap sawah dan ladangnya.
Rasi Bintang Orion/Pemburu – arah barat – petunjuk musim bercocok tanam

RASI BINTANG GREAT BEAR/BIDUK :

Rasi Bintang ketiga yang mungkin paling populer dan dapat dikenali, menjadi petunjuk arah utara adalah rasi bintang Biduk/Great Bear/Beruang besar yang menunjukkan arah utara. Bentuknya seperti gayung, dan terdiri dari 7 buah bintang, karena itu juga terkadang rasi bintang ini disebut sebagai konstelasi bintang tujuh. Rasi bintang ini terlihat sepanjang tahun di langit utara.
Rasi Bintang Biduk/Great Bear – arah utara

RASI BINTANG SCORPIO :

Rasi bintang keempat yang bisa dikenali dan menjadi petunjuk arah adalah rasi bintang scorpio. Rasi bintang satu ini agak susah dicari, karena jumlah bintang yang membentuk konstelasinya cukup banyak. Rasi Scorpio ini menjadi petunjuk arah tenggara/timur langit. Dalam mitologi yunani kuno, Scorpio ini adalah utusan Apollo untuk membunuh sang Pemburu, Orion. Pada konstelasi ini juga terdapat bintang Antares, salah satu bintang paling terang yang pernah ditemukan.
Rasi Bintang Scorpio

Jumat, 03 Februari 2012

Ditemukan Quasar Terjauh


Quasar ULAS J1120+0641. Credit: narasomanotebook.blogspot.com
Tim astronom Eropa menggunakan teleskop raksasa milik ESO (European Southern Observatory) dan sejumlah teleskop lain untuk mengamati serta mempelajari quasar terjauh yang saat ini telah ditemukan. "Lampu terang" ini berasal dari lubang hitam dengan massa dua milyar kali dari matahari kita, sampai sekarang quasar ini adalah obyek paling terang yang pernah diamati.

"Quasar ini merupakan unsur penting pada masa awal alam semesta. Ini adalah obyek langka yang akan membantu kita untuk memahami bagaimana lubang hitam supermasif tumbuh beberapa ratus juta tahun setelah Big bang," kata Stephen Warren, pemimpin tim penyelidikan.

Quasar, atau galaksi jauh yang dipercaya bersumber (energi) pada lubang supermasif di tengahnya, memancarkan cahaya yang sangat terang. Kecerahan mereka membuat mereka menjadi seperti lampu (beacon) yang dapat membantu manusia untuk mempelajari zaman ketika bintang dan galaksi pertama terbentuk. Obyek yang terakhir kali diamati itu merupakan quasar terjauh dan diduga cahayanya adalah bagian terakhir era reonisasi. Yakni zaman awal alam semesta, ketika hidrogen netral telah terbentuk lantas membelah kembali menjadi proton dan elektron akibat radiasi sinar ultraviolet.

Selanjutnya, Quasar itu diberi nama ULAS J1120+0641. Nama itu diambil dari posisinya di langit menurut koordinat yang ditetapkan para astronom. Nilai pergeseran merah (redshift) quasar itu adalah 7,1, yang artinya ia muncul sekitar 770 juta tahun setelah Big Bang. Namun, butuh 12,9 milyar tahun bagi cahayanya untuk mencapai kita. Dan karena cahaya itu sama dengan informasi pada saat ia dipancarkan, maka apa yang terlihat dari bumi saat ini adalah kejadian 12,9 milyar tahun yang lalu. Selain itu, cahaya yang terpancar dari benda langit tersebut mengalami peregangan akibat ekspansi alam semesta.

 Meskipun obyek - obyek yang lebih jauh telah dikonfirmasi (seperti semburan sinar gamma pada pergeseran merah 8,2; eso0917), quasar yang baru saja ditemukan itu seratus kali lebih terang daripadanya. Dan, di antara obyek - obyek yang cahayanya cukup terang untuk dikaji secara detail, inilah yang paling jauh dengan garis tepi (margin) terbesar.

Quasar terjauh berikutnya terbentuk 870 milyar tahun setelah Big Bang (redshift 6.4). Obyek serupa yang lebih jauh tidak dapat ditemukan pada survey cahaya tampak karena cahaya mereka, yang meregang akibat ekspansi alam semesta, sebagian besar jatuh ke spektrum inframerah saat mencapai bumi. Dan teleskop khsusus inframerah masih berada dalam tahap pembangunan.

"Kami membutuhkan waktu lima tahun untuk menemukan obyek ini," terang Bram Venemans, salah seorang penulis laporan penelitian. "Kami tengah mencari quasar dengan pergeseran merah yang labih tinggi dari 6,5. Menemukan yang satu ini sangat jauh, pada pergeseran merah yang lebih tinggi dari 7, merupakan kejutan yang menarik. Dengan mengintip dalam - dalam ke era reonisasi, quasar ini menyediakan kesempatan unik untuk menjelajahi jendela seratus juta tahun dalam sejarah kosmos yang sebelumnya berada di luar jangkauan."

Observasi itu menunjukkan bahwa massa lubang hitam di tengah ULAS J1120+0641 adalah sekitar dua milyar kali massa matahari kita. Massa yang sangat besar ini sulit untuk dijelaskan (karena terjadi) pada awal Big Bang. Teori tentang pertumbuhan lubang hitam supermasif saat ini memprediksikan pembangunan lamban (slow build-up) massa sebagai obyek padat yang menarik materi di sekitarnya sehingga massanya bertambah.

"Kami pikir hanya ada sekitar seratus quasar terang dengan pergeseran merah yang lebih tinggi dari 7 di langit," simpul Daniel Mortlock, pemimpin penulisan laporan. "Untuk menemukan obyek ini butuh pencarian yang melelahkan, namun itu sepadan dengan upaya kami untuk dapat mengungkapkan beberapa misteri awal alam semesta."

Bintang di Langit

Di langit malam yang cerah tanpa bulan, kita akan bisa melihat ribuan bintang dengan mata telanjang. Bintang adalah benda langit yang memancarkan cahaya dari dalam dirinya sendiri, seperti Matahari. Matahari sendiri adalah sebuah bintang. Matahari kelihatan sangat besar dan terang karena jaraknya jauh lebih dekat dibandingkan dengan bintang-bintang lainnya. Jarak Matahari dengan Bumi hanyalah 150 juta kilometer.
Kalau diukur dengan cahaya, yang kecepatannya sekitar 300 km per detik, jarak Matahari ke Bumi adalah sekitar delapan menit. Bandingkan dengan bintang lain yang paling dekat, yakni Proxima Centauri, yang jaraknya sekitar empat setengah tahun cahaya. Sebagian besar bintang memiliki jarak yang lebih jauh. Ada yang jaraknya ribuan, atau bahkan jutaan, tahun cahaya. Ini artinya, cahaya bintang yang kita lihat sekarang itu dipancarkan ketika dinosaurus masih hidup di Bumi.
Rasi
Berapa sebenarnya jumlah bintang di alam semesta? Kita tidak tahu dengan pasti. Namun para ilmuwan yakin bahwa terdapat miliaran miliar (angka 1 dengan 18 atau lebih nol di belakangnya) bintang di alam semesta.
Mengapa cahaya bintang kelihatan berkelap-kelip di langit? Sebabnya, ketika melewati atmosfer Bumi, cahaya dari bintang mengalami pembelokan berkali-kali.
Bintang-bintang sebenarnya bergerak satu sama lain dengan kecepatan yang sangat tinggi. Namun di langit, karena sangat jauh dari Bumi, letak bintang satu dengan lainnya kelihatan tetap. Dari sinilah orang-orang zaman dulu membayangkan bahwa kelompok bintang tertentu membentuk gambar tertentu, misalnya mirip seorang pemburu, kepiting, kepala banteng, naga dan lain-lain. Kelompok bintang ini dinamakan rasi.

Lubang Hitam
Bintang-bintang memiliki ukuran yang berbeda. Matahari, yang bergaris tengah lebih dari 1 juta kilometer, adalah bintang berukuran sedang. Banyak bintang lain yang berukuran jauh lebih besar, bisa ribuan kali, dibanding Matahari. Bintang-bintang tersebut dinamakan bintang raksasa. Sebaliknya, bintang-bintang lain berukuran jauh lebih kecil sehingga disebut bintang kate (katai). Bintang kate ada yang ukurannya lebih kecil dibandingkan dengan Bumi.
Menjelang kematiannya, sebuah bintang bisa meledak. Ledakan bintang ini disebut nova. Istilah ini berarti “baru” karena seolah-olah telah lahir sebuah bintang baru. Kalau bintang yang meledak berukuran besar, maka ledakannya juga sangat besar, sampai-sampai menghancurkan bintang-bintang lain. Ledakan bintang besar ini disebut sebagai supernova.
Setelah meledak, materi bintang yang tersisa akan mengerut dan memadat dengan kepadatan yang luar biasa dan gravitasinya begitu kuat sampai-sampai cahaya pun tak bisa lepas. Materi bekas bintang inilah yang disebut black hole (lubang hitam). (*)

Rasi Bintang Orion



Rasi bintang Orion adalah salah satu rasi bintang yang cukup terkenal. Batas wilayah Rasi bintang Orion digambarkan dalam garis kuning putus-putus.
Suatu rasi bintang atau konstelasi adalah sekelompok bintang yang tampak berhubungan membentuk suatu konfigurasi khusus. Dalam ruang tiga dimensi, kebanyakan bintang yang kita amati tidak memiliki hubungan satu dengan lainnya, tetapi dapat terlihat seperti berkelompok pada bola langit malam. Manusia memiliki kemampuan yang sangat tinggi dalam mengenali pola dan sepanjang sejarah telah mengelompokkan bintang-bintang yang tampak berdekatan menjadi rasi-rasi bintang. Susunan rasi bintang yang tidak resmi, yaitu yang dikenal luas oleh masyarakat tapi tidak diakui oleh para ahli astronomi atau Himpunan Astronomi Internasional, juga disebut asterisma. Bintang-bintang pada rasi bintang atau asterisma jarang yang mempunyai hubungan astrofisika; mereka hanya kebetulan saja tampak berdekatan di langit yang tampak dari Bumi dan biasanya terpisah sangat jauh.

Pengelompokan bintang-bintang menjadi rasi bintang sebenarnya cukup acak, dan kebudayaan yang berbeda akan memiliki rasi bintang yang berbeda pula, sekalipun beberapa yang sangat mudah dikenali biasanya seringkali ditemukan, misalnya Orion atau Scorpius.
Himpunan Astronomi Internasional telah membagi langit menjadi 88 rasi bintang resmi dengan batas-batas yang jelas, sehingga setiap arah hanya dimiliki oleh satu rasi bintang saja. Pada belahan bumi (hemisfer) utara, kebanyakan rasi bintangnya didasarkan pada tradisi Yunani, yang diwariskan melalui Abad Pertengahan, dan mengandung simbol-simbol Zodiak.
Beragam pola-pola lainnya yang tidak resmi telah ada bersama-sama dengan rasi bintang dan disebut asterisma, seperti Bajak (juga dikenal di Amerika Serikat sebagai Big Dipper) dan Little Dipper

Daftar Konstelasi/Rasi Bintang

Diagram semua rasi bintang ini adalah diambil dari en.wikipedia.org
Konfigurasi masing-masing rasi bintang adalah yang bergaris-garis hijau dan dibatasi oleh garis kuning putus-putus.
  1. Sagittarius

    Koordinat (RA/Dec) : (19h, -25 degree)
    Alpha : Rukbat
    Bintang Terterang : Epsilon Sgr (Kaus Australis)
  2. Capricornus

    Koordinat (RA/Dec) : (21h, -20 degree)
    Alpha : Algiedi
    Bintang Terterang : Delta Cap (Deneb Algedi)
  3. Aquarius

    Koordinat (RA/Dec) : (23h, -15 degree)
    Alpha : Sadalmelik
    Bintang Terterang : Beta Aqr (Sadalsuud)
  4. Pisces

    Koordinat (RA/Dec) : (1h, 15 degree)
    Alpha : Al Rischa
    Bintang Terterang : Eta Psc
  5. Aries

    Koordinat (RA/Dec) : (3h, 20 degree)
    Alpha : Hamal
    Bintang Terterang : Hamal
  6. Taurus

    Koordinat (RA/Dec) : (4h, 2 degree)
    Alpha : Al de Baran
    Bintang terterang : Al de Baran
  7. Gemini

    Koordinat : (7h, 20 degree)
    Alpha : Castor
    Bintang terterang : Pollux
  8. Cancer

    Koordinat : (9h, 20 degree)
    Alpha : Acubens
    Bintang terterang : Beta Cnc (Altarf)
  9. Leo

    Koordinat : (11h, 15 degree)
    Alpha : Regulus
    Bintang terterang : Regulus
  10. Virgo

    Koordinat : (13h, 0 degree)
    Alpha : Spica
    Bintang terterang : Spica
  11. Libra

    Koordinat : (15h, -15 degree)
    Alpha : Zubenelgenubi
    Bintang terterang : Zubeneschamali
  12. Scorpius

    Koordinat : (16h 53m 15s, -30 degree 44 arcminute 12 arcsecond)
    Alpha : Antares
    Bintang terterang : Antares
  13. Ophiucus

    Koordinat : (17h, 0 degree)
    Alpha : Ras Alhaque
    Bintang terterang : Ras Alhaque
Ya, di atas adalah ke-13 rasi yang dilewati garis edar semu tahunan matahari (ekliptika).
Perhatikan bahwa ke-13 rasi ini adalah menurut ilmu astronomi yang sama sekali tidak ada hubungan ilmiah dengan astrologi.

Rabu, 01 Februari 2012

Jarak Bintang dengan Metode Paralaks


Pada abad ke-19 dilakukan pengukuran jarak bintang dengan cara Paralaks Trigonometri. Untuk memahami cara ini, lihatlah gambar berikut ini.


Akibat pergerakan Bumi mengelilingi Matahari, bintang terlihat seolah-olah bergerak dalam lintasan elips yg disebut elips paralaktik. Sudut yg dibentuk antara Bumi-bintang-Matahari (p) disebut paralaks bintang. Makin jauh jarak bintang dengan Bumi maka makin kecil pula paralaksnya. Dengan mengetahui besar paralaks bintang tsb, kita dapat menentukan jarak bintang dari hubungan:
tan p = R/d
R adalah jarak Bumi – Matahari, dan d adalah jarak Matahari – bintang. Krn sudut theta sangat kecil persamaan di atas dpt ditulis menjadi
Ø= R/d

pada persamaan di atas p dlm radian. Sebagian besar sudut p yg diperoleh dari pengamatan dlm satuan detik busur (lambang detik busur = {”}) (1 derajat = 3600″, 1 radian = 206265″). Oleh krn itu bila p dalam detik busur, maka
p = 206265 (R/d)
Bila kita definisikan jarak dalam satuan astronomi (SA) (1 SA = 150 juta km), maka
p = 206265/d
Dalam astronomi, satuan jarak untuk bintang biasanya digunakan satuan parsec (pc) yg didefinisi sebagai jarak bintang yg paralaksnya satu detik busur. Dengan begini, kita dapatkan
1 pc = 206265 SA = 3,086 x 10^18 cm = 3,26 tahun cahaya
p = 1/d –> p dlm detik busur, dan d dlm parsec.

Dari pengamatan diperoleh bintang yg memiliki paralaks terbesar adalah bintang Proxima Centauri yaitu sebesar 0″,76. Dengan menggunakan persamaan di atas maka jarak bintang ini dari Mthr (yg berarti jarak bintang dgn Bumi) adalah 1,3 pc = 4,01 x 10^13 km = 4,2 tahun cahaya (yang berarti cahaya yg dipancarkan oleh bintang ini membutuhkan waktu 4,2 tahun untuk sampai ke Bumi). Sebarapa jauhkah jarak tersebut?? Bila kita kecilkan jarak Bumi – Mthr (150 juta km) menjadi 1 meter, maka jarak Mthr – Proxima Centauri menjadi 260 km!!! Karena sebab inilah bintang hanya terlihat sebagai titik cahaya walau menggunakan teleskop terbesar di observatorium Bosscha.
Sebenarnya ada beberapa cara lain untuk mengukur jarak bintang, seperti paralaks fotometri yg menggunakan kuat cahaya sebenarnya dari bintang. Kemudian cara paralaks trigonometri ini hanya bisa digunakan untuk bintang hingga jarak 200 pc saja. Untuk bintang2 yg lebih jauh, jaraknya dapat ditentukan dengan mengukur kecepatan bintang tersebut.

Sejarah Astronomy Islam



BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Penciptaan manusia sebagaimana diterangkan oleh Allah SWT dalam Al Quran surat Al Baqarah : 30-34 menunjukkan bahwa manusia merupakan makhluk yang berpotensi mengetahui, memahami tentang apapun yang ada di alam semesta. Keberadaan benda-benda di bumi dan di langit memiliki daya tarik bagi manusia. Daya tarik yang bervariasi itulah yang menumbuhkan curiousity manusia untuk mengkaji dan menggali lebih dalam dan jauh lagi tentang alam.

Pemahaman manusia akan alam semesta semakin bertambah seiring dengan perkembangan pemikiran manusia serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dulu manusia mengira posisi bumi kita begitu istimewa, sebagai pusat alam semesta, dan sebagai pusat perputaran seluruh benda-benda langit. Bumi diletakkan sebagai pusat penciptaan. Namun kini kita ketahui bahwa bumi hanyalah sebuah planet biasa yang mengitari sebuah bintang biasa yang kita namakan matahari. Matahari hanyalah salah satu anggota dari sebuah sistem bintang-bintang yang kita namakan galaksi Bima Sakti. Posisi matahari hanyalah di pinggiran dari galaksi Bima Sakti. Bahkan kini kita ketahui bahwa galaksi Bima Sakti hanyalah salah satu dari milyaran galaksi-galaksi yang bertebaran di seluruh penjuru langit.

Kajian keilmuan tentang langit seisinya semakin digemari untuk dipelajari. Hal ini dikarenakan ada banyak hal yang belum ditemukan. Bahkan belum diketahui keberadaanya. Tetapi sekali lagi karena semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, maka akan semakin banyak pula hal-hal baru yang ditemukan.

2. Rumusan masalah
Untuk lebih memfokuskan pembahasan, maka sangat perlu adanya rumusan masalah sebagai berikut :
  1. Apa pengertian astronomi?

  2. Bagaimana perkembangan ilmu astronomi?

  3. Bagaimana perkembangan ilmu astronomi Islam?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Astronomi
Manusia telah lama ‘berkenalan’ dengan langit. Bahkan ada sebuah peninggalan berupa lukisan tua di La Pileta, Spanyolb yang berusia sekitar 35000 tahun.[1]. Lukisan itu diinterpretasikan sebagai gambar matahari. Perjalanan panjang yang ditempuh manusia untuk sampai pada era astronomi modern.

Kini aspek ilmu pengetahuan tentang langit terkumpul dalam cabang keilmuan astronomi. Astronomi dipahami sebagai cabang ilmu pengetahuan yang dikembangkan berbasis pengamatan. Objek langit yang dikaji dalam astronomi mencakup tata surya, seperti komet, bulan, meteor, matahari, planet dan asteroid, bisa juga dalam lingkup galaksi, bintang-bintang dan gugusan bintang.[2]

Sedangkan dalam Ensiklopedi- singkat astronomi dan ilmu yang bertautan menyatakan bahwa astronomi adalah pengetahuan tentang benda langit dan alam semesta, merupakan salah satu cabang pengetahuan ekskta tertua. Satuan astronomi adalah jarak menengah antara matahari dan bumi, 150 juta kilometer. Satuan ini digunakan sebagai satuan panjang bagi ukuran di dalam tata surya. Tahun astronomi ialah jumlah tepat waktu yang diperlukan bumi mengelilingi matahari, dinyatakan dalam hari, jam, menit, dan sekon. Berbeda dengan waktu sipil, atau kelender, yang dinyatakan dengan bilangan bulat.[3]

Dari berbagai pengertian, kemudian muncullah klasifikasi ilmu yang mengambil objek langit dan bintang. Yakni ilmu astronomi dan ilmi astrologi. Ilmu astronomi mempelajari benda-benda langit secara umum. Sedangkan ilmu astrologi yaitu ilmu yang mempelajari benda-benda langit dengan tujuan untuk mengetahui pegaruh benda-benda langit itu terhadap kehidupan manusia, atau yang lebih dikenal dengan ilmu nujum.[4]

2. Perkembangan ilmu Astronomi
Sepanjang sejarah manusia, pandangan manusia terhadap alam semesta berubah-ubah sesuai dengan tingkat pengetahuan pada tiap-tiap zaman. Waktu dulu, manusia pada umumnya memahami alam semesta hanya terbatas pada apa yang bisa mereka lihat, bahkan terkadang ditambahkan dengan takhayuk yang sifatnya fantastis. Bumi menurut mereka adalah sebagai pusat tata surya. Berbagai gejala alam, seperti terjadinya gerhana, jatuhnya batu meteor, adanya bintang berekor, dan sebagainya dianggap sebagai hal yang tidak beres.

Walaupun demikian, ada sebagian dari mereka yang telah memahami kondisi alam semesta ini dengan rasionalnya. Seperti Aristoteles (384 – 322 SM) yang menyatakan bahwa pusat jagat raya adalah bumi. Sedangkan bumi dalam keadaan tenang, tidak bergerak dan tidak berputar. Semua gerak benda-benda angkasa mengitari bumi. Lintasan masing-masing benda angkasa berbentuk lingkaran. Sedangkan peristiwa gerhana tidak lagi dianggap sebagai adanya raksasa yang memakan bulan, melainkan sebagai peristiwa alam.[5] 

Selain itu, Claudius Ptolomeus (140 M) juga menyatakan pendapat serupa tentang tata surya. Yakni bumi sebagai pusat tata surya. Pendapat kedua ilmuwan ini kemudian dikenal dengan teori Geosentris. Lintasan benda-benda langit tersebut berupa lingkaran di dalam bola langit. Sementara langit merupakan tempat bintang-bintang sejati, sehingga mereka berada pada dinding bola langit.[6]

Walaupun pada abad sebelumnya, yakni sekitar abad III SM terdapat seorang ilmuwan yang bernama Aristarchus. Dia menyatakan bahwa pusat tata surya bukanlah bumi sebagaimana dikatakan oleh Aristoteles pada zaman setelahnya, tetapi mataharilah yang menjadi pusat tata surya (Heliosentris). Akan tetapi, kondisi sosial yang belum dapat menerima hal itu, akhirnya pendapat ini meredup dan akhirnya tergantikan dengan teori geosentris yang bertahan hampir XVIII abad.

Setelah bertahan cukup lama, akhirnya ada pendapat yang dengan terang membantah teori geosentrisnya Ptolomeus. Dialah Nicholas Copernicus (1473 – 1543) lewat bukunya yang berjudul ”Revolutionibus Orbium Celestium” menyatakan bahwa matahari merupakan pusat dari suatu sistem peredaran benda-benda langit, yang dikenal dengan teori Heliosentris. Setelah Copernicus menyatakan pendapatnya, banyak ilmuwan yang mendukung, seperti Galileo Galillei (1564 – 1642 M). dia juga berhasil membuat sebuah teledkop yang dapat dengan jelas melihat relif permukaan bulan, noda-noda matahari, saturnus dengan cincinnya yang indah, dan planet Yupiter dengan 4 buah satelitnya.[7] Disamping Galileo, ada juga Johannes Kepler (1571 - 1630) yang juga sependapat dengan Copernicus dan Galileo. Dia juga terkenal dengan Hukum Kepler I, II, III.

3. Perkembangan Ilmu Astronomi Islam
Kajian ilmu astronomi dalam Islam biasa dikenal dengan istilah Ilmu Falak. Namun ada pergolakan dalam membedakan antara ilmu perbintangan dan ilmu astronomi. D.G. Fories dan A.G. Dickstehour mengatakan dalam bukkunya “Sejarah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi” bahwa munculnya ilmu astronomi baru telah melenyapkan ilmu perbintangan. Namun ilmu perbintangan telah banyak membantu kemajuan ilmu stronomi pada abad-abad pertengahan, membantu terbukanya observasi-observasi astronomis, memperbaiki alat-alat yang dipergunakan oleh para astronomis, dari sinilah berangkat ilmu astronomi mendapat kedudukan dalam sejarah ilmu pengetahuan.[8]

Sedangkan Ali Muhammad Ridlo mengatakan dalam bukunya “Asrul Islam Ad Dzhahabi” : Ilmu astronomi bukan ilmu perbintangan. Falak adalah ilmu, akan tetapi perbintangan bukan ilmu. Ilmu astronomi membahas tentangkeluarga tata surya, diantaranya bumi yang kita tempati sekarang ini. Dan juga membahas tentang garis edar planet-planet, jarak antara masing-masing planet, kemiringan perjalanannya, dan jauhnya dari matahari. Kesemuanya ini merupakan pembahasan-pembahasan ilmiah yang didasarkan pada peneropongan, observatorium serta alat-alat astronomis lainnya. Hal ini berbeda dengan perbintangan yang dihubung-hubungkan manusia dengan masalah kebahagiaan atau kemalangan.di dalam perbintangan, orang berusaha mengetahui hal-hal ghaib.[9]

Di dalam buku Al Islam Fi Hadlratihi wa Nidlohimi, Anwar Ar rifa’i menyatakan bahwa pada tahun 155 H/737 M orang Arab mulai menerjemahkan sebuah buku karya Hermes yaitu “Miftah an Nujum”. Pada masa daulah Abbasyiyah, yakni abad III Hijriyah, ilmu falak mulai mengalami kemajuan yang berarti. Kegiatan penerjemahan karya-karya ke dalam bahasa Arab mulai di giatkan. Diantara karya-karya itu adalah Kitab Siddhantha Barahmagupta dari seorang pengembara India yang diserahkan pada pemerintah Al Manshur dan diterjemakan oleh Muhammad Al Fazari. Siddhantha Aryabhrata diterjemahkan oleh Ya’qub ibnu Thariq. Sedangkan Almagest karya ptolomeus diterjemahkan oleh Hunain bin Ishaq. [10]

Selain itu, masih ada beberapa karya yang diterjemahkan, yaitu The Sphere in Movement karya Antolycus, Ascentions of The Signs karya Aratus, dan Introduction to Asrronomiy karya Hipparchus.[11] Karya-karya ini tidak hanya sekedar ditejemahkan, aka tetapi kemudian ditindaklanjkuti dengan penelitian-penelitian baru yang berkelanjutan sehingga menghasilkan teori-teori baru.

Dari sini kemudian muncul tokoh falak di kalangan umat Islam yang sangat berpengaruh, yaitu Abu Ja’faar bin Musa al-Khawarizmi (780 847 M), melalui beberapa penemuan, yaitu penemuan angka nol (0), sehingga terciptalah sistem pecahan desimal sebagai kunci terpenting dalam pengembangan ilmu hisab, penyusunan pertama tabel trigonometri daftar logaritma yang masih berkembang hingga sekarang, serta penemuan kemiringan zodiac sebesar 23,5 derajat atas ekuator. Adapun kitab-kitab karya al – Khawarizmi antara lain, al-Mukhtashar fi Hisab al-Jabr wa al-Muqabalah yang sangat berpengaruh terhadap pemikiran para cendekiawan Eropa, hingga diterjemahkan ke bahasa Latin oleh Chester pada tahun 1140 M, dan Surah al-Ardl

Pada masa kholifah Al Makmun juga menghasilkan data-data yang berpedoman pada buku Shindhind yang disebut “Tables of Makmun” dan oleh orang Eropa mengenalnya dengan sebutan “Astronomos”. Pada perkembangan selanjutnya, muncul banyak tokoh falak yang diantaranya :
  1. Abu Ma’syar Al Falaky (788 – 885 M), adalah seorang ahli falak dari Khurasan. Dia menemukan adanya pasang naik dan pasang surut air laut sebagai akibat posisi bulan terhadap bumi. Karyanya antara lain, al-Madkhal al-Kabir, Ahkam wal-Sinni wal-Kawakib, Itsbat al-Ulum, dan Haiat al-Falak.

  2. Ibnu Jabir al-Baattany (858 – 929 M), dikenal dengan sebutan AlBatenius. Karyanya yaitu memperbaiki perhitungan yang ada di dalam buku karya Ptolomeus dalam judul baarunya Tabril al-Magesty, disamping karyanya sendiri yang berjudul Tamhid al-Musthafa li Ma’na al-Mamar.

  3. Abul Raihan Al Biruni (973 – 1048 M), cendekiawan asal paris. Mendapat gelar Ustad fi al-Ulum (maha guru) karena selain ahli perbintangan, dia juga menguasai berbagai disiplin ilmu seperti Matematika, geografi, dan fisika. Karyanya antara lain, Al-Atsar Baqiyyat min al-Qurun al-Khaliyat, dan kitab fenomenalnya yang berjudul Al-Qonun al-Mas’udi fi al-Haiat wa al-Nujumi. Menurut Prof. Ahmad Baiquni, al-Birunilah yang pertama kali membantah teori Ptolomeus, juga dipandang sebagai teori heliosentris.

  4. Abu Abbas Ahmad bin Muhammad bin Katsir al-Farghani, ahli falak terkemuka pada masa kholifah Al Makmun. Di Barat ia lebih dikenal denmgan Al Farganus. Karyanya antara lain, Jawami’ al-Ilm al-Nujum wa al-Harakat al-Samawiyyat, Ushul ilm al-Nujum, Al-Madhkhal ila ilm al-Haiat al-Falak, Futsuluts al-Tsalasain. Semuanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Hispalamsis dari Seville dan Gerard dari Cremona pada tahun 1493.

  5. Maslamah Abul Qosim al—Majriti (950 – 1007 M), dia berhasil merubah tahun Persi ke tahun Hijriyah dengan meletakkan bintang-bintang sesuai dengan awal tahun Hijriyah.

  6. Ali bin Yunus (w. 1009 M), meghasilkan sebuah karya yang berjudul Zaij al-Kabir al-Hakimi, yang berisi tentang data astronomi matahari, bulan, dan komet, serta perubahan titik equenox.

  7. Abu Ali al-Hasan bin al-Haytam (965 – 1039 M), karyanya berjudul Kitab al-Manadhir yang kemudian ditrjemahkan ke bahasa Latin dengan nama “Optics” pada tahun 1572

  8. Abu Ja’far Muhammad bin Muhammad bin al-hasan Nashiruddin at-Thusi 1201 – 1274 M), karyanya antara lain, Al-Mutawaaith bain al-Handasah wa al-Haiah, At – Tadzkir fi ilm al-Haiat, Zubdah al hatiah.

  9. Muhammad Thurgay Ulughbeck (1394 – 1449 M), dia berhasil membangun observatorium, dan karya monumentalnya berupa Jadwal Ulugh Beik (zij Shulthoni). Kemudian muncul Nicholas Copernicus dengan Heliosentrisnya.[12]
BAB III
KESIMPULAN
Melihat dari masa atau waktu lahirnya para ahli falak maupun astronomi, para ilmuwan muslim lebih dulu masanya daripada para astronomis Eropa. Sehingga dapat dikatakan bahwa pendapat dan teori yang berkembang di Eropa sangat dipengaruhi oleh adanya pendapat yang telah dikemukakan dan penemuan-penemuan yang telah ditemukan oleh para cendekiawan muslim.
BAB IV
PENUTUP
Demikianlah makalah ini kami buat, kami menyadari akan adanya kekurangan dalam pembuatan makalah ini. Tak ada gading yang tak retak. Oleh karena itu kritik dan saran yang konstruktif dari segenap pembaca senantiasa kami nantikan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita. Amin.
DAFTAR PUSTAKA
- Azhari, Susiknan. 2007. Ilmu Falak, Perjumpaan Khazanah Islam dan Sains Modern. Yogyakarta : Suara Muhammadiyah
- Khazin, Muhyiddin 2004. Ilmu Falak dalam Teori dan Praktek. Yogyakarta : Buana Pustaka
- Murtadlo, Moh.. 2008. Ilmu Falak Praktis.Malang : UIN Malang Press
- Radiman, Iratius (dkk). 1980. Ensiklopedi-singkat astronomi dan ilmu yang bertautan. Bandung : Penerbit ITB Bandung
- Thaha, Ahmadie. 1983. Astronomi dalam Islam. Surabaya : PT. Bina Ilmu

[1] Mudji Raharto. Manusia, Islam dan Astronomi. Makalah disampaikan pada pelatihan Hisab Rukyah Tingkat Nasional di Bogor.
[2] Susiknan Azhari. Ilmu Falak, Perjumpaan Khazanah Islam dan Sains Modern. Yogyakarta : Suara Muhammadiyah, 2007. hlm. 14
[3] Iratius Radiman (dkk). Ensiklopedi-singkat astronomi dan ilmu yang bertautan. Bandung : Penerbit ITB Bandung, 1980. hlm. 6-7
[4] Muhyiddin Khazin. 2004. Ilmu Falak dalam Teori dan Praktek. Yogyakarta : Buana Pustaka, hlm. 3-4
[5] Ibid, hlm. 24
[6] Ibid,
[7] Ibid, hlm. 29
[8] Ahmadie Thaha. Astronomi dalam Islam. Surabaya : PT. Bina Ilmu. 1983. hlm. 17
[9] Ibid
[10] Ibid, hlm. 20
[11] Moh. Murtadlo. Ilmu Falak Praktis.Malang : UIN Malang Press. 2008. hlm. 23
[12] Ibid, hlm. 28