Selamat Berkunjung

Selamat Berkunjung !
Diharap komentarnya agar lebih bermanfaat, menambah wawasan dan hikmah
Tampilkan postingan dengan label Pesawat Ruang Angkasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesawat Ruang Angkasa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Juli 2012

10 Fakta Mengesankan Tentang Hidup di Luar Angkasa



1.Satu hari mengalami 17x matahari terbit

Matahari terbit dan terbenam setiap 90 menit di orbit , sehingga sangat sulit untuk tidur nyenyak karena tidak adanya hari normal / siklus malam. Untuk mengatasi ini, administrator ISS mengatur jadwal astronot untuk menjaga agar kegiatan mereka sesuai. Jam onboard ISS diset ke Greenwich Mean Time (GMT). Untuk menjaga astronot tetap pada jadwalnya, Mission Control melakukan panggilan saat bangun tidur. Untuk mengisi waktu Mereka biasanya memainkan musik dan kegiatan sejenisnya

2.Anda Akan Tumbuh lebih tinggi

Tanpa gaya tekan gravitasi, tulang belakang Anda berkembang dan Anda tumbuh lebih tinggi, biasanya antara 5cm dan 8cm. Sayangnya, tinggi ekstra dapat membawa komplikasi, yang dapat mencakup masalah sakit punggung dan saraf.

3.Berhenti Mendengkur

Sebuah studi 2001 menunjukkan bahwa astronot yang mendengkur di Bumi tertidur diam di ruang angkasa. Itu karena gravitasi memainkan peran yang dominan dalam generasi apneas, hypopneas, dan mendengkur. NASA bahkan telah merekam aktivitas awak kapal yang sering mendengkur , tetapi efek gravitasi nol muncul untuk mengurangi mendengkur.

4.Beberapa makanan dan bumbu membutuhkan penambahan air untuk dimakan

Dalam pesawat, garam dan merica tersedia tetapi hanya dalam bentuk cair. Hal ini karena astronot tidak menaburkan garam dan merica pada makanan mereka di ruang angkasa. Garam dan merica hanya akan mengambang. Sangat berbahaya karena bisa menyumbat ventilasi udara, mencemari peralatan atau terjebak dalam mulut, mata atau hidung astronot.

5.Astronot terlama yang tinggal di pesawat selama 438 hari

Rekor untuk misi terlama dipegang oleh kosmonot Rusia Valeri Polyakov, yang menyelesaikan 438 hari (atau 14 bulan) perjalanan dinas di dalam stasiun ruang angkasa Mir pada tahun 1995

6.Hanya 3 orang yang pernah meninggal di pesawat antariksa

Para awak dari Soyuz 11, Georgi Dobrovolski, Viktor Patsayev dan Vladislav Volkov, tewas setelah undocking dari stasiun ruang angkasa Salyut 1 setelah tinggal tiga minggu.

7.Hampir setiap astronot mengalami space sickness

Dengan tidak adanya gravitasi, sinyal dari sistem vestibulary dan reseptor tekanan menjadi kacau. Efeknya biasanya menyebabkan disorientasi pada tubuh: banyak astronot tiba-tiba merasa diri mereka seperti terbalik, atau bahkan mengalami kesulitan dalam penginderaan lokasi lengan dan kaki mereka sendiri. disorientasi ini adalah penyebab utama dari apa yang disebut Space Adaptasi Syndrome

8.Hal yang paling sulit adalah untuk Adaptasi ketika Anda kembali dari ruang angkasa

Ketika mereka kembali ke bumi, astronot harus beradaptasi kembali seperti pengalaman ketika mereka pertama kali ke ruang angkasa. Ada satu fase adaptasi yang agak lama untuk di biasakan, Beberapa kosmonot Rusia telah melaporkan bahwa beberapa bulan setelah penerbangan , mereka masih sesekali melepaskan cangkir atau benda lain di udara - dan bingung ketika jatuh ke lantai

9.Radiasi Cosmic membuat Anda melihat Silauan saat berkedip

Menatap keluar dari kapsul ruang mereka, astronot Apollo menyaksikan pemandangan yang manusia belum pernah lihat sebelumnya. Mereka melihat pemandangan bumi yang biru terang terhadap. Mereka melihat sisi jauh Bulan. Mereka juga melihat kilatan cahaya aneh di dalam bola mata mereka!

10.Anda mungkin harus mengambil spons mandi untuk kebersihan diri

Sementara stasiun seperti Skylab dan Mir telah dilengkapi dengan pancuran,Banyak astronot mengganti spons mandi dengan menggunakan waslap atau handuk basah. Hal ini akan mengurangi jumlah air yang dikonsumsi. Setiap astronot juga akan memiliki kit kebersihan diri dengan sikat gigi, pasta gigi, shampoo, pisau cukur dan perlengkapan mandi dasar lainnya.

Kamis, 02 Februari 2012

Satelit Voyager Mendekati Ruang Antarbintang

Voyager dalah satelit luar angkasa milik NASA yang diterbangkan dengan beberbagai tujuan, satelit ini ada 2 yaitu Voyager 1 dan Voyager 2, kedua satelit ini adalah satelit nirawak atau satelit yang tak berawak.

Voyager 1 diterbangkan pada tanggal 5 September 1977 dan memiliki kecepatan luncur 61.000 KM/jam, dari awal satelit ini terbang hingga sekarang sudah mencapai 15 miliar KM dari bumi atau 9,3 miliar mill menurut Astronomical Unit pada tanggal 17 Agustus 2006. Sedangkan Voyager 2 diterbangkan pada tanggal 20 Agustus 1977 dengan menggunakan pesawat luar angkasa Titan III. Voyager 2 ini tidak secepat Voyager 1, Voyager 2 mengikuti lintasan atau trajektori yang lebih lambat sehingga dapat bertahan pada jalur ekliptik.


Voyager

Setelah lebih dari 30 tahun meninggalkan Bumi, dua satelit kembar Voyager milik NASA kini sudah tiba di ujung tata surya. Kedua satelit yang misi utamanya sebenarnya telah berakhir pada tahun 1980 dan 1989 lalu itu, kini siap memasuki ruang antar bintang (interstellar space).
“Sangat luar biasa,” kata Ed Stone, Voyager Project Scientist asal California Institute of Technology yang telah memantau misi Voyager sejak tahun 1972, seperti dikutip dari Cosmosmagazine, 2 Mei 2011. “Selama ini, Voyager 1 dan 2 selalu menghasilkan penemuan baru. Setiap temuan mengubah cara pandang kita terhadap dunia lain,” ucapnya.

Sejumlah temuan yang diungkapkan oleh Voyager adalah ditemukannya gunung berapi di Io dan bukti-bukti adanya samudera di bawah permukaan es bulan Europa (keduanya milik planet Jupiter) adanya hujan metana di Titan (bulan milik Saturnus), kutub magnet yang aneh milik Uranus dan Neptunus, air mancur mengandung es di Triton, bulan milik Neptunus, serta angin planet yang bertiup makin kencang ketika planet menjauh dari matahari.

Tidak ada yang mengetahui pasti berapa jarak yang harus ditempuh Voyager untuk tiba di ruang antar bintang. Namun sejumlah peneliti yakin bahwa ujung tata surya sudah dekat.
“Ketebalan heliosheath (kawasan di heliosphere di posisi setelah titik termination shock di mana kecepatan angin turun ke bawah kecepatan suara) diperkirakan mencapai 4,8 sampai 6,5 juta kilometer,” kata Stone. “Artinya, Voyager akan keluar dari tata surya dalam 5 tahun ke depan,” ucapnya.

Untungnya, masih ada cukup energi untuk melakukan perjalanan tersebut. Kedua satelit Voyager masih mendapatkan pasokan daya dari peluruhan panas radioaktif dari Plutonium 238. “Baterai” tersebut diperkirakan cukup untuk menyediakan energi setidaknya hingga tahun 2020. Setelah itu, kata Stone, Voyager akan menjadi planet Bumi di antara bintang-bintang.

Sebagai informasi, setiap satelit Voyager dilengkapi dengan Golden Record, sebuah rekaman fonograf tembaga berlapis emas. Rekaman itu mengandung 118 foto planet Bumi, rekaman musik terbaik dunia berdurasi 90 menit, esai audio yang terdiri dari berbagai suara yang ada di Bumi mulai dari letupan lumpur, gonggongan anjing, sampai suara keberangkatan roket Saturn 5, salam perkenalan dari 55 bahasa manusia, sebuah bahasa ikan paus, skema gelombang otak dari wanita yang sedang jatuh cinta, dan sambutan dari Kurt Waldheim, Sekjen PBB ketika itu.
“Miliaran tahun dari sekarang, saat planet Bumi dan benua yang ada sudah berubah total, ketika seluruh spesies makhluk hidup telah bermutasi atau punah, rekaman Voyager akan tetap ‘berbicara’ untuk kita,” sebut pesan di rekaman Voyager.

Namun, sejumlah pengamat menyebutkan, kemungkinan alien menemukan Golden Record itu sangatlah kecil. Pasalnya, satelit Voyager tidak akan mencapai jarak beberapa tahun cahaya dari bintang lain hingga 40 ribu tahun mendatang.
Meski tak diketahui pasti jaraknya, peneliti yakin bahwa ujung tata surya sudah dekat.
Sumber : (teknologi.vivanews.com/ humasristek)

Hindari Malapetaka 2013, NASA Luncurkan SDO


Satelit pengamatan Matahari atau Solar Dynamics 
Observatory (SDO) (NASA)
 
Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) pada Rabu 10 Februari 2010 waktu setempat akan meluncurkan satelit pengamatan Matahari atau Solar Dynamics Observatory (SDO) dari stasiun Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat.

Satelit ini diharap bisa mengamati Matahari dengan lebih baik dan memberikan gambaran detil Sang Surya pada para ilmuwan - terutama untuk mengantisipasi efek negatif badai matahari yang diramalkan terjadi 2013 yang bisa mempengaruhi kehidupan manusia di Bumi.

Diketahui, badai Matahari bisa mendatangkan malapetaka bagi sistem teknologi tinggi. Badai matahari bisa menggangu navigasi GPS, sistem komunikasi satelit, dan komunikasi radio. Badai Matahari juga akan membahayakan astronot di luar angkasa.

Hingga saat ini, tidak ada cara untuk meramalkan kapan cuaca buruk di luar angkasa akan datang.

Namun, masih ada harapan. Melalui SDO, NASA akan mendapatkan banyak informasi tentang Matahari.

SDO akan mengorbit Bumi sekali setiap 24 jam, mengirimkan data secara terus-menerus pada para ilmuwan Matahari. SDO akan mengirimkan gambar dengan resolusi 10 kali lipat lebih baik dari kamera televisi tercanggih.

"Tantangan terbesar dalam misi ini adalah kecepatan data," kata Liz Citrin, manajer proyek SDO, seperti dimuat laman NASA, Selasa 9 Februari 2010.

"SDO, akan mengirim 1,5 terabyte informasi tiap harinya. Ini sama dengan men-download setengah juta lagu," lanjut dia.

Tim SDO merancang sebuah antena radio raksasa setinggi 18 meter di pangkalan pesawat luar angkasa  White Sands  Las Cruces - untuk menerima kiriman data.

Data itu kemudian akan dikirim ke para ilmuwan di Universitas Stanford di Palo Alto, California, University of Colorado di Boulder, dan di Laboratorium Lockheed Martin di Colorado.

"Memahami aktifitas Matahari adalah hal yang krusial bagi manusia modern," kata Madhulika Guhathakurta, ilmuwan SDO, seperti dimuat laman USA Today, Rabu 10 Februari 2010.

Matahari ternyata tidak konstan. "Teleskop modern dan pesawat luar angkasa menemukan gejolak luar biasa di permukaan Matahari," kata Guhathakurta.

Badai Matahari akan terjadi dalam siklus rata-rata 11 tahun ketika medan magnet Matahari berbalik arah.

Sementara, Direktur Richard Fisher, Direktur Divisi Heliophysics NASA di Washington mengatakan pengamatan yang lebih baik terhadap Matahari akan membantu manusia melakukan langkah-langkah antisipasi.

"Jika kita lebih mengenal Matahari, kita akan mampu mengatur sistem tenaga untuk menghindari akibat terburuk," kata dia.

Gerhana matahari di Jakarta
• VIVAnews

Museum AS Berebut Pesawat Ulang-Alik


Pesawat ulang-alik Atlantis meluncur dari 
Florida, Amerika Serikat (AP Photo/Chris O'Meara)
 
Saat Atlantis mendarat kembali di Bumi pekan ini, pesawat ulang-alik tersebut akan menjadi yang pertama dari tiga pesawat angkasa luar Amerika Serikat (AS) yang resmi pensiun. Pada akhir tahun ini, pesawat Discovery dan Endeavour juga akan menyusul pensiun.


Pertanyaannya sekarang, akan dibuat apa kendaraan yang digunakan untuk menuju angkasa luar itu? Saat ini lebih dari 20 museum dan institusi dari seluruh penjuru AS bersaing untuk mendapat hak memamerkan, setidaknya satu dari tiga pesawat tersebut.

Mereka telah mengajukan proposal untuk memajang salah satu dari mesin berteknologi mutakhir yang pernah dibangun. Bagi museum dan institusi benda-benda kuno, memajang satu saja dari tiga pesawat tersebut merupakan pencapaian prestisius.

"Pesawat-pesawat ini sangat unik, benar-benar hanya ada satu dari masing-masing jenis," kata juru bicara Badan Antariksa AS (NASA), Allard Beutel.

"Masing-masing memiliki perbedaan, dan pesawat-pesawat tersebut merupakan pesawat ulang-alik satu-satunya di dunia yang bisa digunakan lagi. Saya kira tidak ada satu institusi pun yang tidak ingin memamerkan pesawat itu," katanya seperti dikutip dari laman stasiun televisi CNN.

"Ingat, kami tidak menjual mereka. Biaya yang dikenakan adalah biaya untuk membersihkan pesawat itu, membuat pesawat itu aman untuk dipamerkan," lanjut Beutel. Harga tersebut termasuk membersihkan bahan-bahan kimia beracun dan menerbangkan pesawat ke bandar udara terdekat menggunakan pesawat jet 747. Pesawat Atlantis akan dibanderol dengan harga US$ 30 juta.

Beberapa institusi yang bersaing mendapatkan satu dari tiga pesawat ulang-alik adalah muka-muka lama, antara lain, Museum Angkasa Luar dan Udara Nasional milik Institusi Smithsonian di Washington; Intrepid Sea, Air and Space Museum di New York City; Kennedy Space Center Visitor Complex dekat peluncuran pesawat di Florida; Johnson Space Center di luar Houston, Texas; Air Force National Museum di Ohio; dan Adler Planetarium di Chicago, Illinois.

NASA telah mengalokasikan pesawat ulang-alik tertua, Discovery, untuk Smithsonian yang telah menjadi pemilik sejumlah koleksi bekas program angkasa luar AS, termasuk artifak dari program Mercury, Gemini, dan Apollo, serta Enterprise.

Sumber : VIVAnews



Discovery Mengangkasa Jelang Fajar


Pesawat ulang-alik Discovery meluncur di Cape 
Canaveral, Florida, AS (AP Photo/Chris O'Meara)
 
Pesawat ulang alik Discovery beserta tujuh astronot meluncur ke stasiun angkasa luar internasional menjelang fajar pada Senin 5 April 2010. Empat perempuan astronot ikut dalam pesawat yang menuju orbit kurang dari satu jam sebelum matahari terbit dari Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat (AS). Pesawat ulang-aling ini dijadwalkan tiba di orbit pada Rabu mendatang.

Stasiun angkasa luar sempat membelakangi tempat peluncuran 15 menit sebelum Discovery mengangkasa dan tampak jelas terlihat menyerupai bintang besar dan cerah di langit pagi hari dengan bulan sebagai latar belakang. Mereka yang sempat menyaksikan itu berdecak kagum.

Discovery bisa dilihat dengan mata telanjang selama tujuh menit setelah ditembakkan ke angkasa.

Enam warga stasiun angkasa luar berkumpul di meja makan untuk menyaksikan peluncuran melalui komputer jinjing.

"Kami sangat senang rekan-rekan kami akan bergabung bersama kami di sini dalam beberapa hari mendatang," kata astronot Timothy Creamer.

Kini tersisa tiga misi angkasa luar. Badan Antariksa Angkasa Luar AS, NASA, bermaksud menghentikan misi pada akhir September, tetapi belum dipastikan misi apa yang akan menyusul.

Presiden Barack Obama akan berkunjung ke NASA pada 15 April 2010 saat Discovery masih berada di orbit. Program eksplorasi bulan, Constellation, telah dibatalkan oleh Obama. (Associated Press)
Sumber : VIVAnews

NASA Kirim Foto Manusia ke Luar Angkasa


Pesawat ulang--alik Discovery merapat di
Stasiun Angkasa Luar Internasional 
(AP Photo/NASA TV)
 
Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) akan "menerbangkan" gambar foto siapapun yang mengunggah foto mereka di situs Face in Space ke Stasiun Angkasa Luar Internasional.

Kampanye "Face in Space" itu merupakan bagian dari tradisi NASA untuk membawa cinderamata keluar dari lingkup atmosfer Bumi, sekaligus memanfaatkan kesempatan sebelum pesawat  Discovery dan Endeavour dipensiunkan.

Seperti dikutip dari laman Telegraph edisi Selasa, 8 Juni 2010, membawa cinderamata atau kenang-kenangan menuju ruang hampa udara sudah menjadi tradisi NASA sejak lama.

Sejak 1997, misi pesawat ulang-alik membawa tanda tangan sejumlah pelajar sekolah dalam program bernama "Student Signatures in Space". Saat itu, pesawat angkasa luar Cassini membawa satu disket berisi tanda tangan para siswa menuju orbit Saturnus.

Sedangkan Phoenix Mars Lander membawa sebuah DVD berisi tanda tangan ke kutub utara Planet Mars dan pesawat Lunar Reconnaissance Orbiter membawa sebuah microchip ke bulan.

Namun, ini merupakan kali pertama masyarakat diundang untuk mengirimkan foto diri masing-masing untuk kemudian dibawa ke angkasa luar.
Orang berusia di atas 13 tahun bisa mengunggah foto dan memilih salah satu dari dua misi terakhir pesawat ulang alik. Setelah pesawat ulang alik kembali, mereka bisa mencetak semacam "sertifikat terbang" yang ditandatangani oleh komandan misi.

Misi STS-133 akan menerbangkan pesawat ulang alik Discovery pada 16 September 2010, dan misi STS-134 akan mengerahkan Endeavour pada November 2010.(np)

Sumber : VIVAnews

Pendaratan Endeavour di Malam Hari


Pesawat Endeavour saat mendarat di Cape
Canaveral, Florida, AS (AP Photo)
 
Pesawat ulang-alik luar angkasa buatan Amerika Serikat (AS), Endeavour, dan enam astronotnya tiba kembali ke Bumi. Endeavour mendarat di Kennedy Space Center, Florida, AS, Minggu larut malam waktu setempat 21 Februari 2010 (Senin pagi WIB), setelah menyelesaikan misi selama dua pekan.

Selama misi di Stasiun Angksa Luar, komandan George Zamka dan krunya menginstal ruangan baru, Tranquility, dan jendela pengamatan. Cuaca tidak bersahabat menjelang pendaratan Endeavour.

Sepanjang hari, langit berawan sehingga pesawat terancam tetap berada di orbit. Namun pada akhirnya langit cerah, dan pusat kendali memberi izin bagi Zamka untuk mendarat di saat malam yang jarang dilakukan.

Ini merupakan pendaratan ke-23 di waktu malam dari 130 pendaratan pesawat ulang-alik. Pendaratan malam hari terakhir terjadi tahun 2008 oleh Endeavour. "Malam yang indah untuk mendarat di Florida," kata pusat pengendali misi melalui radio.

Tranquility menjadi tempat penyimpanan peralatan life-support, mesin latihan fisik, dan sebuah toilet, serta kubah dengan tujuh jendela. Sedangkan dek pengamatan yang telah dipasang memiliki jendela berupa lingkaran berdiameter 31 inci untuk mengamati Bumi.

Pemasangan perangkat tersebut merupakan konstruksi besar-besarandi stasiun angkasa luar. Perangkat-perangkat baru tersebut bernilai lebih dari US$400 juta yang disuplai oleh Badan Antariksa Eropa. (Associated Press)

Misi 6 Bulan Tiga Antariksawan Berakhir


Tiga antariksawan yang baru mendarat ke bumi 
(Maxim Shipenkov/ AP Photo)
 
Setelah tinggal di luar angkasa selama 176 hari, akhirnya dua orang kosmonot asal Rusia dan seorang astronot dari Amerika Serikat kembali ke Bumi.


Kapsul pesawat luar angkasa Soyuz TMA-18 yang ditumpangi Alexander Skvortsov, Mikhail Kornienko, dan Tracy Caldwell-Dyson, mendarat di padang rumput wilayah Kazakhstan, Sabtu lalu.
Kapsul mendarat ke tanah dibantu dengan sebuah parasut. "Saya merasa sangat luar biasa. Pendaratan begitu empuk dan berjalan dengan sangat lancar," kata Komandan tim Alexander Skvortsov, sambil dibantu keluar dari pakaian luar angkasanya. Setelah itu giliran Tracy dan Korniyenko yang dibantu keluar dari kapsul tersebut.
Mereka bertiga menghabiskan waktu sekitar enam bulan bertugas di Stasiun Luar Angkasa Internasional, sejak 4 April lalu menggunakan pesawat luar angkasa Soyuz yang sama.
Semestinya, ketiganya telah mendarat di Bumi sejak Jumat lalu. Namun, rencana itu tertunda karena pintu dok stasiun luar angkasa tak mau beroperasi gara-gara sensornya rusak. Akhirnya, kosmonot teknisi asal Rusia Fyodor Yurchikin berhasil memperbaiki kerusakan itu.

Wahana luar angkasa Soyuz

Selama enam bulan misi, ini bukan kali pertama tim menghadapi masalah. Pada Agustus lalu, sistem pendinginan mereka harus dimatikan karena pompa amonia di stasiun luar angkasa itu bermasalah. Selain itu, sebuah pesawat pengangkut suplai, juga sempat gagal merapat gara-gara kerusakan hubungan radio.

Namun, ketiganya terlihat begitu santai ketika sampai di Bumi. Sesaat mendarat, Skvortsov langsung mengunyah buah apel. Sementara Tracy asyik mengobrol dengan temannya melalui telepon satelit.
"Kru-kru ini telah mengalami masalah-masalah serius di orbit, dan mereka telah menghadapi berbagai tantangan secara profesional dan berhasil memperbaikinya," kata Mark Bauman, Deputy Director of Manned Space Programmes, NASA, seperti dikutip dari CNet.
Setelah ditinggalkan Skvortsov, Krnienko, dan Tracy, tiga orang masih bertahan di stasiun luar angkasa internasional, yakni Doug Wheelock dan Shannon Walker (AS), serta kosmonot Fyodor Yurchikhin.

Nantinya tiga orang yang akan menggantikan posisi mereka yakni kosmonot Alexander Kaleri dan Oleg Skripochka (Rusia), serta astronot Scott J. Kelly (AS), yang rencananya akan mengangkasa lewat instalasi peluncuran Baikonur Kazakhstan, 8 Oktober mendatang.(ywn)

Sumber : VIVAnews


Cina Eksplorasi Planet Layak Huni


Astronot China, Zhai Zhigang, (tengah) sebelum
meluncur ke luar angkasa (AP Photo)
 
China tengah berencana membangun stasiun luar angkasa sendiri. Ini dalam rangka mengeksplorasi tempat tinggal alternatif bagi manusia selain planet bumi.

Demikian ungkap dua astronot asal China, Nie Haiseng dan Zhai Zigang, yang tengah bertandang ke Indonesia. Zhai, yang merupakan astronot China pertama yang berjalan di luar angkasa (spacewalk), mengatakan bahwa teknologi yang saat ini sedang dirintis China merupakan batu loncatan menuju tahap selanjutnya yang lebih besar lagi.

“Perjalanan luar angkasa sangat penting bagi umat manusia, program kami selanjutnya adalah membuat stasiun luar angkasa sendiri,” ujar Zhigang pada konferensi pers di Jakarta, Kamis, 14 Oktober 2010. Jumpa pers itu berlangsung di atas geladak kapal pelacak satelit China, Yuanwang 5, yang merapat di Pelabuhan Tanjung Priok.

Zhai mengatakan stasiun luar angkasa yang akan dibangun China akan melakukan uji coba sel dan kondisi di luar angkasa. Uji coba ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat sebuah kondisi atau tempat yang memungkinkan manusia dapat bertahan hidup di luar angkasa. Hal ini didasarkan pada kenyataan semakin padatnya bumi oleh manusia dan perlu adanya tempat lain yang dapat ditinggali selain bumi.

“Penduduk Bumi semakin banyak dan suatu saat tidak ada lagi ruang yang cukup untuk hidup. Karena itulah umat manusia harus mencari tempat tinggal baru di luar angkasa,” lanjut Zhai, yang keluar angkasa dengan menggunakan pesawat Shenzou 7 pada 2008.

China merupakan negara dengan teknologi antariksa tercanggih setelah Amerika Serikat dan Rusia. Namun, menurut Nie, ini bukan persaingan yang akan menimbulkan permusuhan. Semua negara di dunia memiliki kewajiban untuk bekerja sama dalam eksplorasi luar angkasa.

“Diperlukan kerja sama semua negara secara damai dalam memanfaatkan luar angkasa untuk keperluan ekplorasi dan eksploitasi demi kepentingan, keuntungan, ketentraman dan kesejahteraan umat manusia,” ujar Nie.

Ditanya mengenai pengalamannya di luar angkasa, kedua astronot mengaku berada di ruang tanpa gravitasi sangat menyenangkan dan nyaman sekali. Pada gravitasi nol, tubuh manusia seperti tanpa massa dan dapat melayang di udara.

“Yang tersulit mungkin adalah harus menyesuaikan diri dengan kondisi luar angkasa. Ketika tubuh sudah bisa menyesuaikan diri, kita harus kembali ke bumi, dan kita harus kembali menyesuaikan diri kita dengan kondisi bumi,” ujar Zhai.

“Luar angkasa adalah tempat impian yang ingin dikunjungi semua orang, kondisinya sangat berbeda dengan bumi. Namun, kami sangat bangga dapat mewakili tanah air kami, ini merupakan penghargaan setinggi-tingginya dari kami bagi China,” timpal Nie, yang pernah mengorbit selama empat hari pada 2005.

Kedatangan kedua astronot diiringi oleh merapatnya kapal pelacak satelit China Yuan Wang 5. Kapal berteknologi canggih dengan panjang 222 meter dan berat 25ribu ton ini bertugas untuk memantau dan melacak keberadaan satelit milik China. Kapal ini telah mengawal kesuksesan misi luar angkasa seperti penerbangan kapal luar angkasa Shenzou dan peluncuran satelit Chang'e.

Pesawat Rahasia AS Sukses Mendarat di Bumi


Pesawat antariksa X-37B  
 
Amerika Serikat berhasil menuntaskan misi pesawat ruang angkasa mini tak berawaknya setelah sebelumnya sempat mengorbit selama tujuh bulan. Pesawat robot itu sebelumnya diluncurkan menggunakan roket Atlas 5 dari stasiun angkatan udara Cape Canaveral Florida, pada 22 April 2010. 


Akhir pekan lalu, pesawat bernama X-37B itu berhasil mendarat dengan otopilot di landasan angkatan udara Vandenberg California. Ini merupakan pesawat angkasa luar AS tanpa awak pertama yang mampu mendarat kembali ke bumi secara otonom, sepanjang sejarah.
"Kami sangat gembira bahwa program telah menuntaskan semua tujuan misi yang  ditetapkan sejak awal," kata manajer proyek tersebut, Letnan Kolonel Troy Giese, seperti dikutip oleh situs BBC.
Angkatan Udara AS tidak mengungkap apa muatan yang dibawa oleh pesawat mini ini, dan berkeras bahwa misi utama dari program ini adalah pengujian terhadap pesawat ini sendiri. Mereka hanya mengatakan bahwa pesawat ini bisa digunakan untuk melakukan beberapa eksperimen di orbitnya.
Pesawat besutan Boeing itu memiliki panjang sekitar 8,9 m dan rentang sayap 4,5 m, pesawat luar angkasa ini besarnya sekitar seperempat dari sebuah pesawat ulang alik. Pesawat ini memiliki mesin yang terletak di bagian belakang untuk mengubah arah orbitnya.

Angkatan udara AS sendiri selalu terbuka untuk berbicara tentang desain pesawat X-37B ini, namun tujuan persis dari pesawat ini masih diliputi rahasia. Sebelumnya, beberapa spekulasi bermunculan, termasuk yang mengkhawatirkan bahwa pesawat itu merupakan salah satu upaya AS dalam persenjataan di antariksa.
"Saya tidak tahu kenapa ini bisa disebut sebagai program persenjataan di antariksa. Ini hanya sekadar versi update dari pesawat ulang alik," kata Gary Payton, Undersecretary of the Air Force for Space Program, April lalu.
Namun, beberapa negara tetap belum bisa tenang dengan spekulasi yang mengkhawatirkan kemampuan X-37B dalam menginspeksi satelit-satelit militer negara lain.

Pesawat rahasia X-37B

Menurut para pengamat satelit amatir, yang telah melakukan pengamatan terhadap pesawat-pesawat percobaan sejak diluncurkan, X-37B telah mengubah jalur orbitnya hingga sekitar 6 kali.
Beberapa pengamat yakin bahwa pesawat X-37B terhubung dengan satelit mata-mata yang melakukan pengintaian gambar sekaligus merupakan pesawat penginderaan jarak jauh.
Ted Molczan, salah satu tokoh pengamat satelit amatir tadi, pernah mengatakan bahwa X-37B sempat mengulang kembali tracknya. Pola seperti itu membuat beberapa satelit bisa melewati wilayah yang sama, setiap beberapa hari sekali, dan bisa kembali mengamati target yang ditujunya.

Sumber : VIVAnews

AS Luncurkan Satelit Mata-Mata Terbesar


Roket Delta 4, meluncurkan satelit mata-mata 
(United Launch Alliance)


Kantor pengintaian nasional Amerika Serikat (NRO), baru saja meluncurkan satelit mata-mata pengintai terbarunya, melalui Stasiun Angkatan Udara Cape Canaveral, Florida AS.  
Salah seorang pejabat pemerintahan AS menjuluki satelit mata-mata yang diterbangkan sebagai "satelit terbesar di dunia". Tak heran bila dibutuhkan roket pendorong terbesar milik AS, Delta 4, untuk meluncurkan satelit tersebut.
"Misi ini untuk memastikan sumber-sumber penting NRO bisa terus mendukung pertahanan nasional negara," ujar Brigjen Ed Wilson, Komandan Wing Antariksa ke-45, kepada MSNBC, sesaat setelah peluncuran.
Satelit bongsor misterius itu berhasil diluncurkan setelah beberapa kali penundaan akibat masalah teknis. Satelit ini hanya dikenali dengan nomor identifikasi peluncurannya: NROL-32.
Bahkan, perusahaan roket pemilik Delta 4, United Launch Alliance tak tahu menahu apa isi kargo yang dibawa oleh satelit. "Saya sama sekali tak mengetahui. NRO yang akan menjawabnya," ujar Michael J Rein, juru bicara United Launch Alliance kepada FoxNews.
Menurut SpaceFlightNow, satelit yang diterbangkan ke orbit geosinkron yang berjarak 35.900 km itu dipercaya sebagai pesawat luar angkasa yang mampu berfungsi sebagai penyadap suara dan elektronik.

"Satelit ini sepertinya terdiri dari receiver-receiver radio yang sensitif dengan antena (mirip payung-red) yang lebar jangkauannya sepanjang 100 meter untuk mengumpulkan data intelijen elektronik bagi National Security Agency," kata  Ted Molczan, seorang pengamat angkasa yang ternama kepada SpaceFlightNow.

Menurut Molczan satelit mata-mata ini akan menggantikan salah satu pesawat luar angkasa pengintai lawasnya, atau bisa juga memperbanyak satelit mata-mata dengan menempatkannya di lokasi orbit geosinkron yang baru.

Peluncuran NROL-32 melanjutkan serangkaian peluncuran satelit milik NRO dalam meluncurkan satelit-satelit mata-mata setelah absen selama sekitar 20 tahun. September lalu, melalui Vandenberg Air Force Base, California, roket Atlas 5 juga telah menerbangkan sebuah satelit mata-mata berteknologi radar-imaging generasi baru.

Menuju Gravitasi Nol


Sir Allen Stanford (AP Photo)
Peneliti dari Stanford University baru saja menyelesaikan uji coba pertamanya terbang di gravitasi nol. Uji coba itu dilakukan di kanopi CubeSats, satelit kecil yang mengemudikan roket pengantar satelit besar ke orbit yang yang ditentukan.



Tujuan uji coba ini adalah untuk mengumpulkan data sekaligus mempelajari tentang apa yang terjadi ketika batu-batu kecil meteoroid menabrak satelit saat meluncur di luar angkasa. Pasalnya, tabrakan antara satelit dan meteoroid sering melumpuhkan peralatan elektronik satelit di luar angkasa.

Para peneliti menganggap pengawasan dari kanopi bisa menjadi langkah pertama dengan membuat semacam "kotak hitam" bagi satelit yang aka  diluncurkan. Sama halnya dengan kotak hitam yang dipunyai pesawat terbang, kotak tersebut ditaruh di ruang kendali untuk mengetahui apa yang terjadi apabila sesuatu benda asing berbenturan dengan satelit.

Membuat dan berinventasi untuk satelit yang mengorbiti bumi bukanlah bisnis berisiko kecil. Apalagi jika Anda mengetahui ada lebih dari 100 miliar meteoroid masuk ke lapisan atmosfer setiap hari. Walaupun hancur saat melintasi atmosfer, namun batu-batu kecil meteoroid tetap berbahaya bagi satelit.

Memang, apa yang terjadi jika meteoroid yang sangat kecil berbenturan dengan satelit belum diketahui seberapa besar dampaknya. Tetapi, peneliti Stanford telah berhasil melakukan pengujian awal sebuah perangkat yang dapat membantu menjelaskan dampak benturan tersebut terhadap ruang kendali.

Nicolas Lee (kiri) dan Shandor Dektor saat uji coba pesawat bergravitasi nol
Sejumlah peneliti dari Stanford ini tidak benar-benar terbang ke luar angkasa. Mereka terbang dengan pesawat yang mana ruang kendalinya bergravitasi nol dan melayang di atas samudera untuk kurun waktu tertentu.

Rombongan peneliti tersebut dipimpin oleh Nicolas Lee, seorang mahasiswa pascasarjana di bidang penerbangan dan astronotika. Ia bersama beberapa koleganya merancang kanopi satelit kecil yang disebut CubeSat.

"Kanopi ini nantinya dikerahkan untuk melidungi pesawat ruang angkasa dari meteoroid hingga membentengi satelit dari radiasi matahari," kata Lee. "Tapi, untuk sekarang ini, kami hanya ingin membuktikan kinerja perangkat tersebut."

Hasil uji coba ini, berupa inovasi mahasiswa Stanford, kemungkinan besar akan dapat diimplementasikan di seluruh roket yang menerbangkan satelit ke luar angkasa. Sebab, melihat risiko benturan antara meteoroid kecil yang bergerak dengan kecepatan luar biasa di orbit sekitar matahari (sekitar 250.000 kilometer/jam) dan satelit sangat lah besar.

"Benturan itu akan menciptakan ledakan yang sangat dahsyat," ucap Lee. Namun, karena tidak ada alat khusus untuk memantau sekaligus mengendalikan satelit, maka sampai saat ini belum ada yang tahu persis bagaimana benturan ini merusak badan satelit.(TechSpace)
Sumber : VIVAnews

Satelit Rusia Gagal Orbit dan Terdampar


Roket Rusia, Soyuz meluncur dari Kosmodrom 
Baikonur (AP Photo/Dmitry Lovetsky)
 


Tiga satelit navigasi milik Rusia dilaporkan jatuh ke lautan Pasifik, di wilayah negara bagian Hawaii, setelah roket yang membawanya gagal mencapai orbit. Demikian pejabat resmi dari lembaga ruang angkasa Rusia mengatakan.

Menurut keterangan salah seorang pejabat pada kantor berita Rusia RIA-Novosty, kapsul yang membawa tiga satelit Glonass itu terdampar di tengah laut pasifik, sekitar 1.500 kilometer dari Honolulu, dan tidak memakan korban.

Kegagalan ini cukup membuat Rusia terpukul. Pasalnya, ini dianggap kemunduran besar Rusia dalam rangka menempatkan sistem navigasi satelit sekaligus menandai "kekalahan"-nya dari GPS (global positioning system) milik AS. Padahal, sebelumnya, tiga satelit Glonass akan mengambil bagian pada jajaran satelit navigasi pada sistem Galileo Eropa.

"Roket Proton yang lepas landas dari Baikonur pada pukul 13.25 waktu setempat mengambil lintasan yang salah dari awal," kata sumber di lembaga ruang angkasa Rusia. "Akibatnya, roket itu tak bisa membawa ketiga satelit ke orbit yang ditentukan dan kembali ke atmosfer."

Belum diketahui berapa kocek yang terbuang sia-sia akibat gagalnya orbit tiga satelit Glonass. Namun, menariknya Insiden ini juga menarik perhatian Perdana Menteri Vladimir Putin. Dia selalu menggembar-gemborkan arti penting dari pengembangan sistem Glonass untuk menjamin kemerdekaan teknologi Rusia.

Sekadar diketahui, tiga satelit Glonass-M mempunyai massa 1,4 ton. Seharusnya, ketiga satelit itu menyelesaikan konstelasi satelit yang sudah dibangun di Moskow. Sebab, Putin mengatakan, pada April silam, seluruh mobil baru yang terjual di Rusia harus dilengkapi sistem navigasi baru, yang dikembangkan oleh militer Rusia.

"Secara total, Moskow akan meluncurkan tujuh satelit Glonass baru yang akan mencakup seluruh permukaan di Bumi sehingga jumlah satelit milik Rusia secara total mencapai 27-28 satelit," kata Putin.

"Di tahun 2011, kami berencana mengalokasikan 1,7 miliar rubel (setara Rp490 miiliar) untuk sejumlah satelit. Tahun ini, kami telah menghabiskan kurang lebih dua miliar rubel," tandasnya. (hs)
Sumber : VIVAnews

Satelit Jepang Menembus Venus


Satelit Jepang, Akatsuki menuju orbit Venus 
(AP| JAXA)


Jepang makin menunjukkan tajinya dalam penjelajahan luar angkasa. Tak hanya berhasil mendaratkan roket Hayabusa yang membawa membawa sampel asteroid pertama ke Bumi.

Selasa 7 Desember 2010, satelit Jepang siap memasuki orbit Venus dalam misi dua tahun yang akan menjadi tonggak program luar angkasa negeri sakura itu. Sekaligus, menjawab pertanyaan soal iklim tetangga misterius Bumi itu.

Satelit yang dinamakan 'Akatsuki' yang berarti 'Fajar' akan menjadi satelit pertama Jepang yang mengorbit planet lain. Amerika Serikat dan Eropa telah lebih dulu melakukannya.

Para ilmuwan mengaku mereka sempat kehilangan kontak dengan satelit tanpa awak itu Selasa pagi.

Juru bicara Badan Antariksa Jepang (JAXA), Tsutomu Yoshioka mengatakan, akibat ganguan tersebut, dibutuhkan waktu beberapa jam lebih lama dari yang diharapkan untuk memutuskan status satelit.

Akatsuki yang diluncurkan 20 Mei 2010 dirancang untuk memantau aktivitas gunung berapi di Venus dan menyediakan data tentang cakupan awan tebal dan iklim, termasuk apakah planet ini memiliki  petir. Satelit ini  ini dilengkapi dengan kamera inframerah dan instrumen lainnya untuk melaksanakan misinya.

Satelit berharga US$300 juta ini ditujukan untuk mengorbit di sekitar Venus, mulai 300 kilometer sampai 80 ribu kilometer -- jarak yang memungkinkan memonitor pola cuaca secara komperehensif.

Salah satu misteri yang ingin dipecahkan para ilmuwan adalah  intensitas angin permukaan Venus yang diyakini memiliki kecepatan sampai 360 kilometer per jam.

Menembus orbit Venus adalah sukses besar bagi Jepang yang pernah gagal menempatkan satelitnya di orbit mars. Satelit ke Mars yang diberi nama Nozomi, atau "Harapan" yang diluncurkan pada tahun 1998 mengalami serangkaian masalah teknis.

Untung satelit Hayabusa berhasil sukses memawa sample Asteroid Itokawa -- ini jadi dorongan semangat bagi program luar angkasa Jepang.

Apalagi, dalam beberapa tahun terakhir, Jepang dibayang-bayangi langkah besar China yang bahkan telah dua kali mengirimkan astronotnya ke luar angkasa sejak tahun 2003.

Padahal, Jepang duluan menjadi negara terkemuka di bidang penjelajahan luar angkasa dengan menjadi negara Asia pertama yang menempatkan satelitnya di sekitar orbit Bumi di tahun 1970 dan mampu mengembangkan roket pendorong yang handal. (hs)

Sumber : VIVAnews


Satelit Voyager Hampir Menembus Batas Tata Surya


Ilustrasi satelit Voyager 1 berada di pinggir
tata surya (NASA)



Satelit yang paling jauh dari bumi, Voyager 1 saat ini telah menempuh perjalanan yang begitu panjang. Setelah 33 tahun melayang di luar angkasa, dilaporkan Voyager 1 telah mendekati pinggiran dari sistem tata surya kita.

Badan penerbangan dan antariksa AS NASA mengumumkan setelah menempuh sekitar 11 miliar mil (sekitar 17,4 miliar km) dari matahari, kini Voyager 1 hampir melampaui jarak antar bintang.

Kini satelit yang diluncurkan sejak 5 September 1977 telah mencapai suatu tempat di sistem tata surya kita, di mana tidak ada angin surya (partikel bermuatan yang mengalir dari matahari).
Seperti dikutip dari BBC, peneliti proyek Voyager Edward Stone mengatakan bahwa satelit ini diluncurkan ketika era antariksa baru berumur 20 tahun. "Jadi saat itu masih belum diketahui bahwa pesawat luar angkasa itu bisa bertahan begitu lama," kata Stone.

Saat itu manusia sama sekali tidak mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk keluar dari sistem tata surya kita. Tapi, sekarang para ilmuwan memperkirakan bahwa Voyager 1 akan melampaui tata surya sekitar lima tahun lagi.
Sebenarnya, tujuan awal dari Voyager adalah untuk meneliti planet-planet luar seperti Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Tugas itupun telah dituntaskan oleh Voyager pada 1989. Tapi kemudian NASA mengutus Voyager 1 untuk terus mengarungi angkasa luar menuju pusat galaksi Bima Sakti.

Dibekali dengan paket tenaga radioaktif, instrumen milik Voyager masih terus berfungsi dengan baik dan terus mengirimkan datanya ke bumi. Dengan jarak miliaran km, pesan radio dari instrumen Voyager membutuhkan waktu sekitar 16 jam untuk sampai ke bumi.
Menurut Stone, instrumen Voyager yang memonitor angin surya di lokasi tersebut menangkap fenomena yang lain dari biasanya. Pada sistem tata surya kita terdapat wilayah heliosfer di mana, angin surya memancar dengan kecepatan supersonik.

Namun, setelah angin surya melampaui daerah bernama termination shock, kecepatannya akan melambat secara dramatis. Nah Voyager telah mencapai kondisi di mana kecepatan angin surya melambat hingga hampir nol.
Voyager masih terus mengarah ke daerah yang bernama heliopause, di mana secara 'resmi' merupakan daerah perbatasan antara tata surya kita dengan sistem surya lain. "Saat Voyager melewatinya, maka ia akan berada di ruang antarbintang.
Voyager terus bergerak ke arah heliopause dengan kecepatan 17 km per detik. "Itulah Voyager, pesawat luar angkasa yang telah bekerja selama 33 tahun, ia masih menunjukkan kepada kita hal lain yang benar-benar baru," kata Rob Decker, Voyager Low-Energy Charged Particle Instrument co-investigator.

Sumber : VIVAnews

Sabtu, 28 Januari 2012

Era Pesawat Luar Angkasa Nuklir





Siapa lagi kalau bukan Amerika atau Rusia dalam masalah teknologi luar angkasa yang selalu jauh lebih dulu dibandingkan dengan negara-negara di dunia pada umumnya. walaupun saat ini sudah lumayan banyak anggota barunya yang mulai mengekor untuk mengeksplorasi ruang angkasa, seperti India, Korea, dsb… Indonesia kapan ya….roketnya kan sudah diproses, unsur uranium sudah ditemukan, SDM banyak cuma kurang perhatian aja, ya kan.. ?
Bukan apa-apa biar ga terlalu ketinggalan soalnya sebentar lagi sudah jamannya pesawat luar angkasa nuklir !!! kali ini yang lebih dulu menyatakan kesiapannya dengan teknologi semacam itu adalah RUSIA yaitu pada tahun 2012.
Sesuai yang dikatakan oleh Kepala Agensi Luar Angkasa Nasional Rusia Anatoly Perminov, yang mengatakan bahwa pesawat ruang angkasa berbahan bakar nuklir akan selesai pada tahun 2012.
Lagi-lagi tahun ‘2012′ yang banyak bikin penasaran orang, mulai dari puncak bencana sampai konspirasi-konspirasi jahat yang diperdebatkan, pengurangan populasi dunia, atau dimulainya kodek alimentarius, dll. ternyata di tahun inilah juga sebuah era teknologi nuklir untuk ruang angkasa dimulai.  Suatu hal yang positif ditahun ‘2012′ ternyata masih ada.
Dengan pernyataan Anatoly Perminov tersebut maka negara pertama yang membuat pesawat ruang angkasa berbahan bakar nuklir adalah Rusia. Tidak tanggung-tanggung pembiayaan program yang berlangsung selama 9 tahun ini menelan biaya sebesar US$ 580 juta atau sekitar Rp 5,56 triliun.
Presiden Akademi Kosmonautika Rusia sekaligus Kepala Pusat Riset Keldysh, Anatoly Koroteyev mengatakan, pembangunan sistem pendorong baru dan penyedia energi massa yang efisien, adalah bentuk contoh masalah ilmiah dan teknis yang besar, termasuk ketika mengadakan misi ke bulan dan Mars.
Hebat..sekarang kita tunggu upaya Amerika dalam teknologi luar angkasanya karena dengan langkah Rusia ini dapat dipastikan akan segera menyusulnya dan bahkan dengan melengkapi teknologinya dan menghilangkan kekurangan-kekurangannya begitu seterusnya silih berganti sehingga teknologi akan terus berkembang, karena pada intinya semua negara yang terlibat dalam program eksplorasi ruang angkasa berlomba-lomba untuk menjadi yang terdepan. Tapi persaingan ini kita harapkan menghasilkan sesuatu yang positif bagi umat manusia, bukan ambisi dan keserakahan untuk kekuasaan jahat.
Mudah-mudahan deh.. dengan berita-berita seperti ini Indonesia jadi terpacu untuk bisa mengejar ketinggalannya karena sumber daya – sumber daya di  Indonesia lengkap….So Tunggu apa lagi?

Pesawat ruang angkasa NASA-KEPLER

kepler KEPLER, pesawat ruang angkasa NASA dijadwalkan meluncur dengan roket Delta II dari Cape Canaveral Air Force Station, di Florida,.Peluncuran Kepler ini akan menandai misi pertama pencarian planet yang mengelilingi orbit seperti matahari. 
 
Demikian dikatakan Jon Morse, direktur divisi astrofisika NASA, dalam jumpa pers di Washington, seperti dikutip dari AFP. Dalam misi menemukan planet seperti Bumi di luar sistem tata surya, NASA juga menyiapkan sebuah teleskop baru serta kamera terbesar yang pernah diluncurkan ke luar angkasa, dengan resolusi 95 megapiksel.??

William Borucki, kepala investigasi Ames Research Center NASA mengatakan proyek ini dilakukan untuk mencari planet yang tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin yaitu tempat yang kondisinya benar-benar sempurna untuk mendukung kehidupan.

Borucki bersama timnya akan mulai menganalisa data yang dikirim dari Kepler dalam waktu enam hingga dua belas bulan setelah peluncuran. "Lalu sekitar tiga atau empat tahun setelah misi dimulai, kita akan mengetahui bila ada planet yang bisa mendukung kehidupan."

Bila hasil penemuan membuktikan bahwa satu-satunya tempat yang bisa ditinggali hanya Bumi kita, maka Star Trek tetap khayalan belaka. Tapi siapa tahu, penemuan akan menunjukan ada tempat lain dan mahluk lain di luar angkasa sana yang kita bisa kunjungi.***

10 Tahun Jupiter Flyby Pesawat Ruang Angkasa NASA Cassini


Sepuluh tahun yang lalu, 30 Desember 2000, pesawat ruang angkasa NASA Cassini dalam jarak terdekat dengan Jupiter saat menuju ke Saturnus.

Cassini menjadi pesawat ruang angkasa paling dekat dengan Jupiter dalam perjalanan ke orbit Saturnus. Tujuan utama Cassini adalah menggunakan gravitasi dari planet terbesar di tata surya kita untuk memotret Saturnus. Tetapi pertemuan dengan Jupiter, gas raksasa kakak Saturnus, juga memberikan proyek laboratorium Cassini semakin sempurna sebagai alat uji dan evaluasi untuk misi utama tur.


"The Jupiter flyby memungkinkan Cassini meregangkan sayap, berlatih untuk menunjukkan misi utama, mengorbit Saturnus. Sepuluh tahun kemudian, temuan dari Jupiter flyby masih terus membentuk pemahaman kita tentang proses serupa di sistem Saturnus," kata Linda Spilker, ilmuwan proyek Cassini yang berbasis di NASA's Jet Propulsion Laboratory di Pasadena, California.

Cassini menghabiskan waktu sekitar 6 bulan (Oktober 2000 sampai Maret 2001) mampir dan menjelajahi sistem Jupiter. Jarak terdekat Cassini dengan puncak awan Jupiter sekitar 9,7 juta kilometer (6 juta mil) pada pukul 02:05 Pacific Time (10:05 UTC), 30 Desember 2000. Cassini memotret 26.000 gambar Jupiter dan bulan-bulannya yang mengorbit, menciptakan potret global yang paling rinci tentang Jupiter dalam sejarah.

Meskipun gambar Cassini terhadap Jupiter tidak memiliki resolusi lebih tinggi dari misi NASA Voyager selama dua kali flybys tahun 1979, kamera Cassini memiliki spektrum warna yang lebih luas, menangkap panjang gelombang radiasi yang berbeda dalam atmosfer Jupiter. Gambar-gambar memungkinkan ilmuwan menonton badai petir konvektif yang berkembang dari waktu ke waktu dan membantu memahami ketinggian dan komposisi badai dan banyak awan, hazes dan jenis-jenis badai yang menyelimuti Jupiter.

Gambar Cassini juga mengungkap big dark oval sekitar 60 derajat lintang utara seukuran Jupiter's Great Red Spot. Oval besar adalah badai raksasa di Jupiter. Namun, tidak seperti Great Red Spot yang stabil selama ratusan tahun, oval besar hanya sementara, tumbuh dan bergerak ke samping, mengembangkan inti, berputar dan menipis selama enam bulan. Oval berada di lintang tinggi sehingga para ilmuwan berpikir mungkin terkait dengan aurora Jupiter.

Tim pencitraan juga merekam film 70 hari selama pembentukan, penggabungan dan pergerakan badai di dekat kutub utara Jupiter. Badai yang lebih besar memperoleh energi dengan menelan badai yang lebih kecil seperti ikan besar makan ikan kecil. Film tersebut juga menunjukkan bagaimana aliran mendorong jet ke arah timur dan barat di lintang rendah sebagai aliran yang lebih teratur di lintang tinggi.

Sementara itu komposit spektrometer inframerah Cassini mampu melakukan pemetaan menyeluruh suhu Jupiter dan komposisi atmosfer. Peta suhu memungkinkan menghitung angin di atas puncak awan sehingga para ilmuwan tidak lagi harus bergantung pada fitur pelacakan untuk mengukur angin. Data spektrometer menunjukkan adanya sebuah jet khatulistiwa yang intens ke arah timur dengan kecepatan sekitar 140 meter per detik (310 mph) di stratosfer dan ketinggian sekitar 100 kilometer (60 mil) di atas awan yang terlihat.

Data dari instrumen ini juga mengarah pada peta resolusi tertinggi sejauh asetilena Jupiter dan deteksi pertama metil organik radikal dan diacetylene di hot spot auroral dekat Jupiter utara dan kutub selatan. Molekul-molekul ini penting untuk memahami interaksi kimia antara sinar matahari dan molekul dalam stratosfer Jupiter.

Selama Cassini mendekati Jupiter, radio dan instrumen plasma gelombang juga mencatat celetuk alami yang diciptakan oleh elektron dari ledakan sonik kosmik. Ledakan terjadi ketika angin supersonik Matahari (partikel bermuatan yang terbang dari Matahari) diperlambat dan dibelokkan di sekitar gelembung magnetik Jupiter.

Karena Cassini tiba di Jupiter, sementara pesawat luar angkasa NASA Galileo masih mengorbit planet tersebut, ilmuwan bisa mengambil keuntungan dari pengukuran hampir bersamaan dari dua pesawat ruang angkasa yang berbeda. Peristiwa kebetulan ini memungkinkan ilmuwan untuk membuat langkah besar dalam memahami interaksi antara angin surya dengan Jupiter.

"The Jupiter flyby memberi manfaat untuk kita dalam dua cara, satu untuk data ilmu pengetahuan yang unik dan yang lainnya pengetahuan kita tentang cara efektif mengoperasikan mesin yang rumit. Hari ini, 10 tahun kemudian, operasi kita masih sangat dipengaruhi oleh pengalaman tersebut," kata Bob Mitchell, manajer program Cassini berbasis di JPL.

Dalam merayakan ulang tahun kunjungan Cassini 10 tahun yang lalu, para ilmuwan bersemangat untuk misi yang akan datang dan diusulkan untuk sistem Jupiter, termasuk pesawat ruang angkasa NASA Juno yang akan diroketkan Agustus mendatang dan Europa Jupiter System Mission. Misi Cassini-Huygens adalah proyek kerjasama NASA, European Space Agency dan Italian Space Agency. *(NASA)

Jumat, 27 Januari 2012

Penjelajahan ke Titan



alt











Pesawat Aviatr terlihat layaknya pesawat yang terbang diatas Afghanistan—namun wahana bernilai ratusan juta dolar ini dirancang untuk misi yang akan diterbangkan ke Bulan Saturnus, Titan.
Aviatr dibuat untuk mengambil gambar 3 dimensi permukaan Titan, guna membantu para ilmuwan membangun sebuah gambaran geologi planet tersebut.

Di akhir misinya, pesawat 120 kg ini akan mendarat ke permukaan dan berusaha melakukan pendaratan di bukit pasir Titan. Para ilmuwan meyakini bahwa Titan cocok untuk pesawat seberat ini—gravitasi bulan ini relatif rendah, namun memiliki atmosfir tebal, yang berarti pesawat berat seperti Aviatr dapat mengudara lebih lama. Bulan ini diselimuti awan tebal dan ilmuwan tertarik dengan apa yang terletak di bawahnya.

alt












Tidak seperti balon—metode samaran ditawarkan dalam misi Titan ini. Aviatr akan memungkinan para ilmuwan secara tepat mengontrol ketinggian dan membangun sebuah pustaka gambar 3D dari permukaan dan cuaca Titan.

Titan lebih besar dari bulan kita dan Merkurius. Suhu permukaan Titan sekitar -178 derajat celcius.
Aviatr jauh lebih gesit dibandingkan dengan balon, dan akan menggunakan pembangkit bertenaga plutonium untuk tetap berada di sisi Titan guna mengambil lebih banyak gambar.

Pesawat ini akan melakukan terbang layang untuk menghemat energi setiap kali mengirim gambar ke Bumi. “Seperti layaknya pesawat di Bumi, wahana ini dilengkapi ‘safe mode’ yang memungkinkan tetap stabil di atmosfir Titan bila diperlukan dan memastikan untuk tidak bergerak apabila link komunikasi pecah.

Jason barnes, seorang ilmuwan pada Universitas Idaho yang telah merancang konsep ini bersama 30 tim. Ia yakin pesawat ini adalah cara  terbaik untuk menjelajahi atmosfir tebal Titan. (Erabaru /DM/sua)