 |
| Bintang katai putih (G2 star) |
Banyak
astronom berpendapat, katai putih sebenarnya bintang lanjut yang tak
mampu lagi membangkitkan tenaga di terasnya. Dalam astrofisika, bintang
di jagat raya ini mengawali masa hidup dengan reaksi nuklir di teras
bintang. Dalam reaksi termonuklir itu terjadi pembakaran hidrogen
menjadi berton-ton helium setiap detik. Pembakaran inti hidrogen
berlangsung miliaran tahun. Ketika hidrogen habis, di teras bintang
bertumpuk abu helium.
Namun suhu belum begitu tinggi untuk memulai reaksi termonuklir tahap
kedua, yaitu mengubah helium jadi karbon yang lebih dikenal sebagai
reaksi siklus karbon. Akibatnya, di teras bintang tak lagi ada tenaga
yang mampu menahan pengerutan gravitasi, dan bintang pun runtuh lagi.
 |
| Brown Dwarf (kedua dari kiri) |
 |
| Tingkat terang cahaya bintang |
Sebagian energi yang dilepas pada pengerutan dipakai untuk memanasi
pusat (inti), sehingga helium terbakar. Bintang pun berhenti mengerut,
karena sumber tenaga baru sudah bangkit. Suhu pusat minimum agar reaksi
kedua bisa berlangsung sekitar 100 juta derajat Kelvin. Ketika bintang
mengerut, energi yang dilepaskan sangat dahsyat sehingga angkasa
bintang terdorong keluar dan mengembang menjadi raksasa merah.
Pada tahap itu keseimbangan bintang terganggu. Tubuhnya berdenyut secara
periodik. Beberapa juta tahun berikutnya, bintang kehilangan sebagian
massa melalui proses angin bintang. Sementara itu reaksi termonuklirnya
terus berlangsung membentuk unsur-unsur berat dan bintang terus
melontarkan sebagian besar selubung, sehingga yang tinggal teras panas
yang mengerut dikelilingi lingkaran materi. Suhu permukaan sisa bintang
itu sekitar 10.000 derajat Kelvin.
Sekarang bintang itu berada pada tahap planetary nebulae. Lingkaran
materi mengembang cepat, meninggalkan pusat yang terus ambruk.
Pengerutan baru berhenti ketika tekanan degenerasi elektron sudah kuat
menahan tubuhnya.
Kini, bintang menjadi katai putih yang tenang. Selama periode ribuan
juta tahun sesudah itu tak ada lagi kejadian fisis istimewa yang
menimpa. Perlahan-lahan suhu bintang menurun dan setelah beberapa puluh
miliar tahun meredup menjadi benda dingin, padat, dan gelap yang
dikenal dengan sebutan katai gelap.
Bintang Ganda
Lain lagi riwayat bintang ganda atau berpasangan, misalnya pasangan
katai putih dan bintang normal. Jika jarak kedua bintang cukup dekat,
evolusi salah satu anggota itu bisa memengaruhi nasib pasangannya.
Misalnya, Alpha Centauri, bintang ganda paling benderang di Rasi
Centaurus, Albereo di Rasi Cygnus, dan Epsilon Auriga.
Katai putih bermedan gravitasi besar mampu menyedot materi bintang
pasangannya (katai merah), sehingga menumpuk di permukaan yang kecil dan
panas. Karena bintangnya normal, tentu materi itu terdiri atas
hidrogen segar. Makin tebal tumpukan materi, kian besar pula tekanan.
Jadi hidrogen itu terpanasi dan permukaan katai putih menjadi dapur
reaktor nuklir kedua.
Reaksi fusi nuklir (penggabungan inti atom) itu menghasilkan selubung
gas cemerlang yang mengembang cepat, ibarat ledakan bom hidrogen yang
menyebabkan materi bintang berhamburan. Ledakan nuklir bintang itu
menghasilkan nova (bintang meledak). Nova terjadi berulang-ulang pada
pasangan bintang ganda jenis itu. Contohnya, Nova Scorpii 2007a (atau
V1280 Scorpii) yang ditemukan astronom amatir Jepang, 4 Februari 2007,
di konstelasi Scorpio. Selama beberapa hari, objek itu jadi terang dan
makin terang sehingga mencapai maksimal pada 17 Februari. Pada saat itu,
kecerlangannya membuatnya jadi nova paling terang selama 35 tahun
terakhir. Selama masa itu, nova tersebut gampang dikenali hanya dengan
mata telanjang.
Ketika materi habis terbakar, penumpukan materi berulang, kemudian
dibakar lagi, terus meledak, dan seterusnya. Jika penyedotan berlangsung
cepat, hidrogen diubah cepat menjadi helium tanpa ledakan. Sebaliknya,
helium masih dibakar menjadi abu karbon. Itu berarti massa katai putih
bertambah pelan-pelan. Limit Chandrasekhar makin ditekan, tetapi
karbon dibakar. Suhu pun terus meningkat dan memanasi pusat bintang.
Pembakaran karbon berlangsung makin cepat dan terus memanasi pusat.
Ketika suhu pusat bintang mencapai 4 miliar derajat, degenerasi lenyap,
dan bintang meledak dengan kecepatan puluhan ribu kilometer per detik.
Proses ledakan yang mahadahsyat itu dikenal sebagai supernova.
Bintang ganda (berpasangan) yang sangat menarik bagi astronom adalah
Bintang Sirius. Bintang Sirius B tua biasa berpasangan dengan Sirius A
yang biru dan masih sangat muda. Padahal, sebagai bintang biru yang
masif, ia harus berevolusi cepat. Jadi sudah mati lebih dulu daripada
Sirius B. Satu-satunya penjelasan adalah mula-mula B lebih masif dari A,
mungkin dua atau tiga kali masa matahari kita. Maka ia berevolusi
cepat sekali sampai menjadi planetary nebulae.
Waktu itu boleh jadi ia memuntahkan massa amat besar, sehingga hanya
tersisa satu kali massa matahari, teramati sebagai Sirius B. Sirius A
tentu menelan sedikit massa yang dibuang B, sehingga bertambah besar
seperti sekarang ini.
Kini, para astronom sudah menemukan ratusan bintang katai putih di jagat
raya. Namun masih ada miliaran bintang katai putih lain yang belum
diketahui. Bagi astronom, kehadiran bintang katai putih masih merupakan
misteri alam semesta yang belum terungkap sepenuhnya.
Mereka masih terus terkesima ketika berhasil mendeteksi keberadaan
bintang neutron dan Lubang Hitam yang ribuan kali lebih padat dan lebih
masif, tetapi ratusan ribu kali lebih kecil daripada si Kerdil Putih.
Jadi bintang katai putih, bintang neutron, dan Lubang Hitam merupakan
fenomena eksotik alam semesta, yang menarik diteliti dan ditelaah lebih
lanjut.
Sumber : http://www.adipedia.com