Gempa bumi dasar laut yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004
berkekuatan 9.0 skala Ricther merupakan gempa dengan kekuatan terbesar
setelah gempa Alaska pada tahun 1964 dengan kekuatan 9.2. Gempa ini
berasal dari Samudera India, yaitu sebelah utara pulau Simeulue dan
merupakan ujung pantai barat Sumatra Utara. Gempa ini menghasilkan
gelombang raksasa tsunami yang menghancurkan pantai Indonesia,
Srilangka, India Selatan, Thailand dan negara lainnya dengan tinggi
gelombang lebih dari 30 meter.
Sampai saat ini korban jiwa manusia yang tercatat meninggal telah
lebih dari 310.000 jiwa. Sedangkan jumlah binatang yang meninggal adalah
relatif lebih sedikit atau bisa dikatakan bahwa dampak tsunami pada
margasatwa adalah sangat terbatas, sehingga menimbulkan spekulasi bahwa
binatang lebih mempunyai kepekaan terhadap bahaya yang akan terjadi.
Spekulasi ini dikuatkan oleh beberapa fakta yang terjadi beberapa jam
sebelum terjadinya bencana Tsunami.
Perilaku aneh beberapa binatang
sebelum bencana tsunami telah diamati di Srilangka, sekitar 1 jam
sebelum bencana tsunami terjadi, orang-orang di Taman Nasional Yala
mengamati 3 ekor gajah berlarian menjauh dari pantai Patanangala menuju
perbukitan. Kelelawar secara fantastis banyak berterbangan disebelah
selatan kota Dickwella di Srilangka. Dan juga diamati 2 ekor anjing
tidak mau diajak mendekati pantai di dekat Galle, padahal setiap harinya
anjing-anjing itu berada disekitar tempat itu. Kejadian aneh juga
terjadi di Thailand seperti yang di laporkan di media massa bahwa
beberapa ekor gajah yang sedang membawa wisatawan berlari menuju bukit,
untuk menyelamatkan penunggangnya sebelum bencana tsunami menghancurkan
dinding air di Phuket, Thailand.
Di sebuah cagar alam pantai selatan
India juga diamati sejumlah Flamingo beterbangan menuju hutan yang lebih
aman dari cagar alam tersebut sebelum bencana tsunami. Pada saat
tsunami melanda Srilangka, sekitar ratusan gajah, macan tutul, harimau,
babi hutan, rusa, kerbau air, kera dan mamalia yang lebih kecil serta
sejenis reptilia telah melarikan diri dengan selamat menuju ke dataran
yang lebih tinggi. Sedangkan sejumlah besar kura-kura ditemukan mati
didaerah puing-puing disepanjang pantai di propinsi Aceh. Kepekaaan dan
naluri binatang terhadap respon akan timbulnya bahaya yang tidak
dimiliki oleh manusia ini bisa digunakan sebagai alat untuk peringatan
pertama bencana alam yang bisa digunakan untuk meningkatkan kewaspadaan
manusia sehingga bisa mengurangi jumlah korban jiwa manusia sebagaimana
bencana tsunami yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 yang lalu.
Fisiologi yang berhubungan dengan panca indera binatang
Binatang memiliki panca indera yang super sensitif terhadap suara,
temperature, sentuhan, getaran, aktifitas elektrostatis dan kimia serta
medan magnet dan medan listrik. Sensitifitas ini memberikan mereka bisa
mengetahui lebih awal beberapa jam sebelum bahaya bencana alam
sebagaimana tsunami terjadi. Namun sensitifitas ini tidak dimiliki oleh
manusia.
Gempa menimbulkan getaran yang berubah-ubah pada tanah dan air
sedangkan angin badai menyebabkan perubahan elektromagnetik di atmosfer.
Beberapa binatang mempunyai indera pendegaran dan penciuman yang peka
sehingga membuat mereka bisa menentukan sesuatu yang akan datang
dihadapannya lebih dahulu daripada manusia. Riset-riset dibidang
komunikasi akustik dan seismik telah menunjukkan bahwa beberapa jenis
ikan adalah sensitif terhadap getaran frekuensi rendah dan mendeteksi
gempa jauh sebelum manusia merasakannya, disamping itu gajah juga bisa
merasakan getaran-getaran yang dibangkitkan dari gempabumi yang
menyebabkan tsunami.
Beberapa jenis binatang telah bisa mendengar tsunami yang akan datang
dari saat gempa yang meletus dibawah dasar laut. Spesies burung,
anjing, gajah, harimau dan binatang lainnya bisa mendeteksi frekuensi
infrasonic antara 1-3 hertz dibandingkan manusia hanya pada frekuensi
100-200 hertz, sehingga binatang lebih memiliki sensitifitas pada
gelombang suara berfrekuensi rendah dimana manusia tidak bisa
mendengarnya.
Beberapa teori yang terkait dengan kepekaan binatang pada bencana alam
Teori alternatif yang telah mendapatkan persetujuan dari banyak pakar
baru-baru ini berkaitan dengan kepekaan binatang pada bencana alam
adalah (i) bahwa binatang bisa merasakan perubahan pada medan magnet
yang terjadi didekat pusat gempa, sebagai misal adalah burung dara,
kura-kura, lebah dan masih banyak lagi; (ii)spesies ikan dikenal sangat
sensitif pada variasi perubahan muatan listrik di dalam air yang
kadang-kadang adalah merupakan isyarat permulaan terjadinya gempa bumi;
(iii) organisme di tanah bisa merespon perubahan polaritas dan
konsentrasi ion atmosfir atau muatan partikel, sehingga hal ini bisa
menyebabkan binatang tersebut bisa mendeteksi efek ionisasi udara dari
gas radon yang kadang-kadang dikeluarkan dari bumi sebelum gempa bumi
terjadi; (iv) efek piezoelektrik juga telah menunjukkan bahwa perubahan
tekanan yang dikerjakan pada kristal sejenis kwarsa menghasilkan muatan
listrik pada permukaan kristal, hal ini dipercaya bisa membangkitkan
energi listrik yang cukup untuk membuat terbang ion-ion sebelum, selama
dan setelah gempa bumi, sehingga binatang bisa mengantisipasi gempa bumi
lebih banyak melalui kepekaannya terhadap gemuruh angin.
Peringatan awal bencana Tsunami
Sistem peringatan tsunami secara umum adalah merupakan suatu sistem
untuk mendeteksi tsunami dan mengeluarkan peringatan untuk mencegah
terjadinya banyak korban jiwa. Terdiri dari dua buah komponen pokok
yaitu jaringan sensor utk mendeteksi gelombang tsunami dan infrastruktur
komunikasi untuk mengeluarkan alarm atau sirine yang memperbolehkan
evakuasi daerah pantai.
Banyak daerah pantai disekitar Laut Pasifik, terutama Jepang, Hawaii,
Polynesia, Alaska dan pantai-pantai Pasifik Amerika Selatan, mempunyai
sistem peringatan tsunami dan prosedur pengungsian jika terjadi tsunami
yang serius. Walaupun begitu banyak lautan lain yang tidak mempunyainya,
hal inilah yang menyebabkan banyaknya korban jiwa saat terjadi tsunami
26 Desember 2004 yang terjadi di Lautan India. Dalam sebuah konferensi
yang diselenggarakan oleh PBB pada Januari 2005 di Kobe, Jepang telah
diputuskan bahwa Sistem Peringatan Tsunami akan ditempatkan di Lautan
India sebagai respon akibat terjadinya Tsunami Laut India 2004.
Tentu saja penyediaan Sistem Peringatan Awal Tsunami berteknologi
tinggi adalah sangat membutuhkan dana yang luar biasa besarnya baik
untuk biaya infrastruktur maupun biaya pemeliharaannya. Sebagai contoh
seperti yang dikeluarkan oleh Website milik Nasa yang menyebutkan bahwa
tiga dari empat peralatan peringatan Tsunami yang dipasang sejak tahun
1948 telah mengalami kerusakan dan biaya kerusakan alarm ini menjadi
lebih mahal. Evakuasi perbaikan sistem peringatan di Hawaii ini telah
menghabiskan biaya sebanyak 68 juta USD. Dari sini kita bisa
membayangkan betapa besarnya biaya untuk penyediaan Sistem Peringatan
Awal Tsunami dengan teknologi tinggi ini.
Peringatan awal sebelum terjadinya bencana alam ini sebenarnya bisa
diperoleh secara alami dari perilaku aneh binatang sebelum terjadinya
bencana. Binatang telah bisa digunakan secara potensial sebagai sistem
peringatan teknologi rendah dan tentu saja biaya yang dibutuhkannya juga
jauh lebih murah dibandingkan dengan sistem peringatan berteknologi
tinggi.
Peneliti-peneliti telah lama mempelajari jenis-jenis binatang yang
bisa diharapkan bisa mendengar dan merasakan sebelum bumi berguncang dan
sebelum ombak besar tsunami menjalar menuju daerah pantai dengan
menggunakan kepekaan inderanya sebagai alat prediksi. Kiyoshi Shimamura,
seorang dokter kesehatan di Jepang pada bulan September 2003 telah
menyampaikan hasil studinya di media massa berkaitan dengan studinya
berkaitan dengan perilaku aneh dari anjing seperti menggigit, menyalak
yang melampaui batas bisa digunakan sebagai alat untuk meramalkan
terjadinya gempa riset ini dikaitkan dengan gempa Kobe pada tahun 1995
yang menewaskan sekitar 6.000 orang. Peneliti dari Turki, Sheldrake juga
melakukan studi pada reaksi binatang sebelum terjadinya gempa yang
meliputi gempa California tahun 1994 dan gempa Turki tahun 1999. Seperti
yang dilaporkan bahwa anjing berperilaku secara misterius dan tidak
bisa tidur di tengah malam, burung burung yang dikandang terlihat
gelisah dan kucing-kucing terlihat takut dan selalu ingin bersembunyi
sebelum saat terjadinya gempa bumi.
Dengan menelaah berbagai macam fakta, teori dan riset yang berkaitan
dengan perilaku aneh binatang sebelum terjadinya bencana alam seperti
yang telah diuraikan diatas, maka kepekaan binatang yang diekspesikan
sebagai perilaku aneh ini bisa dimanfaatkan sebagai sistem peringatan
awal bencana alam baik gempa bumi maupun tsunami. Perilaku aneh dari
binatang ini bisa digunakan untuk meningkatkan kewaspadaan pada manusia
terhadap bencana yang akan terjadi. Tentu saja sistem komunikasi yang
baik perlu dibangun untuk menyebarkan adanya peringatan awal tsunami
ataupun bencana alam yang lainnya baik melalui televisi, radio, internet
ataupun penyampaian informasi dari mulut ke mulut. Yang sangat
tergantung pada lamanya waktu antara terjadinya gempa dan waktu yang
dibutuhkan oleh perambatan tsunami menuju ke populasi disekitar pantai,
ini adalah merupakan waktu yang sangat krusial untuk melakukan
pengungsian masyarakat sekitar pantai untuk menuju ke daratan yang lebih
tinggi, sehingga mereka terselamatkan sebelum datangnya gelombang
tsunami. Disamping itu pendidikan tentang bahaya tsunami, tanda-tanda
datangnya tsunami, persiapan dan bagaimana cara menyelamatkan diri jika
tsunami terjadi pada seluruh masyarakat adalah merupakan faktor yang
sangat penting.
Sehingga dengan memahami mulai dari peringatan awal tsunami baik
dengan teknologi tinggi maupun dengan teknologi rendah melalui perilaku
aneh binatang sebelum terjadinya bencana tsunami sampai dengan bagaimana
cara menyelamatkan diri jika tsunami datang, Insya Allah bisa
mengurangi jumlah korban jiwa dan tidak seperti kejadian bencana tsunami
26 Desember 2004 yang menewaskan lebih dari 300 ribu orang.