Selamat Berkunjung

Selamat Berkunjung !
Diharap komentarnya agar lebih bermanfaat, menambah wawasan dan hikmah
Tampilkan postingan dengan label Tata Surya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tata Surya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Februari 2012

Foto Terbaru dan Terjelas Planet Pluto


Foto Pluto yang dirilis NASA (NASA)
 
Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) merilis foto planet Pluto yang diambil oleh teleskop Hubble. Ini adalah gambar Pluto yang paling jelas yang pernah ada.

Setelah dikeluarkan dari daftar planet di tata Surya pada 2006, Pluto kini diklasifikasikan sebagai planet kerdil - yang berukuran sangat kecil dan jauh dari Bumi.

Pluto berukuran sangat kecil, diameternya kurang dari 1.500 mil, dan terletak di tepi tata surya. Jaraknya sangat jauh dari Matahari. Sekali mengorbit, Pluto membutuhkan waktu 248 tahun.

Permukaan Pluto telah lama menjadi misteri bagi para astronom.

Terimakasih untuk Hubble, yang mampu merekam warna permukaan Pluto yang seperti karamel, dengan beberapa bagian berwarna lebih terang.

Degradasi warna permukaan Pluto menggambarkan cuaca yang berbeda-beda dan perubahan musim, seperti halnya Bumi.

Gambar terbaru Pluto adalah yang terbaik yang pernah ada. Gambar yang lebih baik akan didapat setelah satelit New Horizon mendekati Pluto dalam jarak terdekat pada Juli 2015.

"Foto yang diambil dari teleskop Hubble akan tetap jadi yang paling detil hingga New Horizon mendekati Pluto," kata juru bicara NASA, seperti dikutip laman Telegraph, 4 Februari 2010.

Meski Pluto merupakan objek luar angkasa yang paling menarik perhatian, sangat sulit untuk mendapatkan fotonya yang jelas.

Menurut peneliti utama Southwest Research Institute di Boulder, Colorado, Marc Buie  foto Pluto yang dihasilkan Hubble memberi ruang bagi para astronom untuk menginterprestasi Pluto dengan lebih baik ketimbang  tiga dekade sebelumnya.

"Hasil pengamatan Hubble adalah kunci yang mengikat perbedaan pemahaman antar astronom. Juga menunjukan fakta baru, bahwa Pluto juga mengalami perubahan cuaca dan musim. Ini adalah terobosan dalam penyelidikan Pluto.

****
Pluto ditemukan oleh Clyde William Tombaugh, seorang astronom muda di Observatorium Lowell, pada 18 Februari 1930.

Pluto yang dikenal sebagai planet kesembilan dalam tata surya, dikeluarkan dari daftar pada 24 Agustus 2006. Pluto lalu dimasukkan dalam kategori planet kerdil (dwarf planet)

Pada 7 September 2006, nama Pluto diganti dengan nomor saja, yaitu 134340. Nama ini diberikan oleh Minor Planet Center (MPC), organisasi resmi yang bertanggung jawab dalam mengumpulkan data tentang asteroid dan komet dalam tata surya.

Sumber : VIVAnews


Air yang Ditemukan di Bulan Layak Diminum


Pemandangan Bulan dari Google Earth (VIVAnews)
Badan antariksa Amerika Serikat (AS), NASA, menemukan air di bulan.
















NASA mengumumkan penemuan yang menjadi satu langkah maju dalam eksplorasi angkasa luar tersebut pada Jumat, 14 November 2009.

Data awal dari eksperimen dramatis di  bulan mengindikasikan misi ke bulan sukses mengungkap sumber air di kawah bulan. Demikian tulis NASA dalam pernyataannya. "Penemuan itu membuka babak baru dalam pemahaman kita tentang bulan," tambah NASA seperti dikutip dari laman stasiun televisi BBC.

Ketua ilmuwan misi Lunar Crater Observation and Sensing Satellite (LCROSS), Anthony Colaprete, mengatakan bahwa timnya menemukan air dalam jumlah besar, tak hanya sekedar ada.

"Kami tidak cuma menemukan sedikit, tapi dalam jumlah yang signifikan," kata Colaprete.
"Air itu bisa digunakan sebagai air minum," kata Mike Wargo, ketua ilmuwan untuk sistem eksplorasi.

Wargo menjelaskan bahwa air itu bisa dimanfaatkan oleh para astronot untuk memenuhi kebutuhan air mereka. "Namun, bila ada air dalam kuantitas besar, itu bisa menjadi konstituen dari salah satu sumber bahan bakar potensial untuk roket, yakni oksigen dan hidrogen," lanjut Wargo.
"Dalam kawah sedalam 20 hingga 30 meter kami menemukan sekitar dua galon air," kata Colaprete.

Data awal itu ditemukan setelah NASA mengirim dua kapal luar angkasa ke bulan, bulan lalu untuk mencari keberadaan air di sebuah benda angkasa yang paling dekat dengan Bumi. Misi itu sendiri bernilai US$79 juta.
Sumber : VIVAnews

Awal Mula Cincin Saturnus


Diperkirakan, cincin Saturnus berasal dari es 
milik beberapa bulan (dok. Corbis)
 
Sekelompok peneliti asal Southwest Research Institute di Boulder, Colorado, Amerika Serikat mengungkapkan teori baru seputar terbentuknya cincin planet Saturnus. Teori yang mereka temukan itu telah dipublikasikan di jurnal Nature.



Seperti diketahui, asal muasal cincin Saturnus merupakan salah satu misteri yang ada di tata surya kita yang belum terpecahkan sampai saat ini. Akan tetapi, dari bukti-bukti yang baru ditemukan, kemungkinan cincin itu terbentuk sebagai hasil dari “pembunuhan” kosmik.

Diperkirakan, korbannya adalah bulan yang belum diketahui namanya, yang hilang sekitar 4,5 juta tahun lalu. Tersangkanya adalah piringan gas hidrogen yang sempat hadir di sekeliling Saturnus, saat puluhan bulan milik planet itu terbentuk, dan kini telah menghilang. Adapun penyebab kematian bulan yang malang itu adalah dorongan yang menyemplungkannya ke Saturnus.

“Cincin spektakuler yang penuh warna itu merupakan bukti yang tersisa,” kata Robin Canup, astronom dari Southwest Research Institute, seperti dikutip dari Nature, 13 Desember 2010. “Saat bulan itu menuju kematian, Saturnus merampas lapisan es terluar milik bulan itu dan membentuk cincin,” ucapnya.

Menurut Joe Burns, astronom asal Cornell University, Amerika Serikat, yang tidak terlibat dalam penelitian, misteri cincin Saturnus menjadi teka-teki bagi umat manusia selama beberapa abad. Meski demikian, Burns menyebutkan, teori yang dikemukakan Canup dan timnya masuk akal.

Sebelum ini, teori yang mengemuka adalah bulan-bulan Saturnus saling bertumbukan atau asteroid telah menabrak ke beberapa bulan itu. Debu dan partikel pecahannya lah yang kemudian membentuk cincin.

Yang jadi masalah, bulan-bulan milik Saturnus terdiri dari separuh es dan separuh bebatuan, sedangkan ketujuh cincin yang dimiliki planet itu 95 persennya terdiri dari es. “Bahkan mungkin sebelumnya seluruh material cincin itu adalah es,” ucapnya.

Jika cincin terbentuk dari tabrakan antar bulan atau asteroid yang menabrak bulan, seharusnya ada lebih banyak bebatuan di cincin planet Saturnus. “Sesuatu telah merampas es milik sebuah bulan yang besar dan meninggalkan es itu menjadi cincin Saturnus,” ucap Canup.

Cincin Saturnus sendiri, menurut Canup, awalnya 10 sampai 100 kali lebih besar dibanding saat ini. “Sejalan dengan waktu, es di bagian luar cincin telah menyatu ke dalam beberapa bulan milik Saturnus,” kata Canup. “Berarti, apa yang dimulai dari bulan, telah menjadi cincin, dan kini kembali menjadi bulan,” ucapnya.

Seperti diketahui, Saturnus saat ini memiliki 62 buah bulan, dan 53 buah di antaranya sudah memiliki nama.(np)
Sumber : VIVAnews

Senin, 12 Desember 2011

Kelak Matahari Tidak Memancarkan Cahaya Lagi


Matahari kita sangat jauh jaraknya sehingga jika bahan bakarnya telah habis, kita tidak akan menyadarinya sampai 8 menit kemudian.
Suatu gagasan kuno yang menyatakan bahwa matahari hanyalah sebuah bola materi yang terbakar, sedang pemikiran tentang berapa lama bahan bakarnya akan habis masih sangat terbatas. Suatu pertanyaan yang belum terjawab waktu itu tentang konsep pembakaran pada matahari. Namun kini menjadi lebih jelas setelah Joseph Priestly menemukan oksigen pada tahun 1774 dan Antoine Lavoisier menjelaskan pembakaran pada tahun 1775 yaitu sebagai pelepasan panas melalui reaksi senyawa kimia oksigen dan karbon (atau unsur-unsur lain).
Para ilmuwan menyatakan bahwa Matahari memberikan reaksi fusi yang terjadi terus-menerus dengan menghasilkan 650 juta ton Hidrogen dengan 650 juta ton Helium. Reaksi ini menghasilkan panas 27 juta derajat Celsius dengan daya 400 trilyun watt. 
Dengan adanya reaksi fusi ini, maka massa matahari akan semakin berkurang dan berubah menjadi energi seperti yang telah dirumuskan Einstein, E = mc2. Dengan adanya konsep ini, maka muncul teori tentang penyusutan massa Matahari yang diajukan oleh fisikawan Jerman, Hermann Von Helmholtz pada tahun 1854. Teori ini menyatakan bahwa massa Matahari akan menyusut secara bertahap yaitu konversi energi potensial menjadi energi kinetik, panas dan cahaya. Jika dilihat dari massanya, maka berdasarkan perhitungan matematika, matahari akan tetap memancarkan energinya hingga milyaran tahun kemudian.
Melalui reaksi fusi nuklirnya, Matahari dapat membakar ratusan juta ton hidrogen per detik dan mengubahnya menjadi helium. Jika konsumsi Matahari kurang dari sejumlah itu maka kita tidak akan memperoleh kehangatan yang cukup untuk kehidupan kita. Jika menghitung massa total Matahari 2 x 1030 kilogram yang sebagian kecil digunakan untuk reaksi fusi nuklir, maka berdasarkan jumlah gas yang dihabiskannya, umur matahari dapat berlangsung kurang lebih 10 milyar tahun.
Dalam jangka waktu yang sangat lama pada akhirnya gas hidrogen yang ada dalam inti matahari akan habis, dan jika ini terjadi maka inti tersebut akan hancur dan bagian luarnya akan mendesak keluar dan mendekati orbit bumi yang oleh para ilmuwan, tahap ini disebut tahap Red Giant.  
Pada tahap ini, bumi akan menjadi panas, seluruh air di lautan akan mendidih, bahkan sebelumnya makhluk hidup telah mati. Matahari akan menyatu dengan planet-planetnya termasuk bumi  dan satelit-satelitnya.
“Dan matahari dan bulan dikumpulkan.” (QS. Al-Qiyamah : 9)
“Dan apabila lautan dipanaskan.” (QS. At-Taqwa : 6)