Selamat Berkunjung

Selamat Berkunjung !
Diharap komentarnya agar lebih bermanfaat, menambah wawasan dan hikmah

Senin, 06 Februari 2012

Evolusi dan Riwayat Bintang

Eagle Nebula, tempat kelahiran bintang (Sumber: Hubblesite) Eagle Nebula, tempat kelahiran bintang (Sumber: Hubblesite)

Seperti manusia, bintang juga mengalami perubahan tahap kehidupan. Sebutannya adalah evolusi. Mempelajari evolusi bintang sangat penting bagi manusia, terutama karena kehidupan kita bergantung pada matahari. Matahari sebagai bintang terdekat harus kita kenali sifat-sifatnya lebih jauh.

Dalam mempelajari evolusi bintang, kita tidak bisa mengikutinya sejak kelahiran sampai akhir evolusinya. Usia manusia tidak akan cukup untuk mengamati bintang yang memiliki usia hingga milyaran tahun. Jika demikian tentunya timbul pertanyaan, bagaimana kita bisa menyimpulkan tahap-tahap evolusi sebuah bintang?




Pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan kembali menganalogikan bintang dengan manusia. Jumlah manusia di bumi dan bintang di angkasa sangat banyak dengan usia yang berbeda-beda. Kita bisa mengamati kondisi manusia dan bintang yang berada pada usia/tahapan evolusi yang berbeda-beda. Ditambah dengan pemodelan, akhirnya kita bisa menyusun teori evolusi bintang tanpa harus mengamati sebuah bintang sejak kelahiran hingga akhir evolusinya.
Kelahiran bintang
Bintang lahir dari sekumpulan awan gas dan debu yang kita sebut nebula. Ukuran awan ini sangat besar (diameternya mencapai puluhan SA) tetapi kerapatannya sangat rendah. Awal dari pembentukan bintang dimulai ketika ada gangguan gravitasi (misalnya, ada bintang meledak/supernova), maka partikel-partikel dalam nebula tersebut akan bergerak merapat dan memulai interaksi gravitasi di antara mereka setelah sebelumnya tetap dalam keadaan setimbang. Akibatnya, partikel saling bertumbukan dan temperatur naik.

Semakin banyak partikel yang merapat berarti semakin besar gaya gravitasinya dan semakin banyak lagi partikel yang ditarik. Pengerutan awan ini terus berlangsung hingga bagian intinya semakin panas. Panas tersebut dapat mendorong awan di sekitarnya. Hal ini memicu terjadinya proses pembentukan bintang di sekitarnya. Demikian seterusnya hingga terbentuk banyak bintang dalam sebuah awan besar. Maka tidaklah heran jika kita mengamati sekelompok bintang yang lahir pada waktu yang berdekatan di lokasi yang sama. Kelompok bintang inilah yang biasa kita sebut dengan gugus.

Akibat pengerutan oleh gravitasi, temperatur dan tekanan di dalam awan naik sehingga pengerutan melambat. Di tahap ini, bola gas yang terbentuk disebut dengan proto bintang. Apabila massanya kurang dari 0,1 massa Matahari, maka proses pengerutan akan terus terjadi hingga tekanan dari pusat bisa mengimbanginya. Pada saat tercapai kesetimbangan, temperatur di bagian pusat awan itu tidak cukup panas untuk dimulainya proses pembakaran hidrogen. Maksud dari pembakaran di sini adalah reaksi fusi atom hidrogen menjadi helium. Awan ini pun gagal menjadi bintang dan disebut dengan katai gelap.

Jika massanya lebih dari 0,1 massa Matahari, bagian pusat proto bintang memiliki temperatur yang cukup untuk memulai reaksi fusi saat dirinya setimbang. Reaksi ini akan terus terjadi hingga helium yang sudah terbentuk mencapai 10 – 20 % massa bintang. Setelah itu pembakaran akan terhenti, tekanan dari pusat menurun, dan bagian pusat ini runtuh dengan cepat. Akibatnya temperatur inti naik dan bagian luar bintang mengembang. Saat ini, bintang menjadi raksasa dan tahap pembakaran helium menjadi karbon pun dimulai. Di lapisan berikutnya, berlangsung pembakaran hidrogen menjadi helium. Setelah ini kembali akan kita lihat bahwa evolusi bintang sangat bergantung pada massa.
Untuk bintang bermassa kecil (0,1 – 0,5 massa Matahari), proses pembakaran hidrogen dan helium akan terus berlangsung sampai akhirnya bintang itu menjadi katai putih. Sedangkan pada bintang bermassa 0,5 – 6 massa Matahari, pembakaran karbon dimulai setelah helium di inti bintang habis. Proses ini tidaklah stabil, akibatnya bintang berdenyut. Bagian luar bintang mengembang dan mengerut secara periodik sebelum akhirnya terlontar membentuk planetary nebula. Bagian bintang yang tersisa akan mengerut dan membentuk bintang katai putih.

Berikutnya adalah bintang bermassa besar (lebih dari 6 massa Matahari). Di bintang ini pembakaran karbon berlanjut hingga terbentuk neon. Lalu neon pun mengalami fusi membentuk oksigen. Begitu seterusnya hingga secara berturut-turut terbentuk silikon, nikel, dan terakhir besi. Kita bisa lihat di diagram penampang bintang di bawah ini, bahwa reaksi fusi sebelumnya tetap terjadi di luar lapisan inti. Sehingga ada banyak lapisan reaksi fusi yang terbentuk ketika di bagian pusat bintang sedang terbentuk besi.

Evolusi Lanjut
Setelah reaksi yang membentuk besi terhenti, tidak ada proses pembakaran selanjutnya. Akibatnya, tekanan menurun dan bagian inti bintang memampat. Karena begitu padatnya, jarak antara neutroon dan elektron pun mengecil sehingga elektron bergabung dengan neutron dan proton. Peristiwa ini menghasilkan tekanan yang sangat besar dan mengakibatkan bagian luar bintang dilontarkan dengan cepat. Inilah yang disebut dengan supernova.

Apa yang terjadi setelah supernova bergantung pada massa bagian inti bintang yang tadi terbentuk. Apabila di bawah 5 massa Matahari (batas massa Schwarzchild), supernova menyisakan bintang neutron. Disebut demikian karena partikel dalam bintang ini hanya neutron. Bintang neutron biasanya terdeteksi sebagai pulsar (pulsating radio source, sumber gelombang radio yang berputar). Pulsar adalah bintang yang berputar dengan sangat cepat, periodenya hanya dalam orde detik. Putarannya itulah yang menyebabkan pulsasi pancaran gelombang radionya.
Diagram evolusi berbagai bintang (Sumber: Chandra Harvard)
Diagram evolusi berbagai bintang (Sumber: Chandra Harvard)

Di atas 5 massa Matahari, gaya gravitasi di inti bintang begitu besarnya sehingga dirinya runtuh dan kecepatan lepas partikelnya melebihi kecepatan cahaya. Objek seperti ini disebut dengan lubang hitam. Tidak ada objek yang sanggup lepas dari pengaruh gravitasinya, termasuk cahaya sekalipun. Makanya benda ini disebut lubang hitam, karena tidak memancarkan gelombang elektromagnetik. Satu-satunya cara untuk mendeteksi keberadaan lubang hitam adalah dari interaksi gravitasinya dengan benda-benda di sekitarnya. Pusat galaksi kita adalah salah satu lokasi ditemukannya lubang hitam. Kesimpulan ini diambil karena bintang-bintang di pusat galaksi bergerak dengan sangat cepat, dan kecepatannya itu hanya bisa ditimbulkan oleh gaya gravitasi yang sangat kuat, yaitu oleh sebuah lubang hitam.

Hingga saat ini, pengamatan terhadap bintang-bintang masih terus dilakukan. Teori evolusi bintang di atas bisa saja berubah kalau ada bukti-bukti baru. Tidak ada yang kekal dalam sains, dan tidak ada kebenaran mutlak. Apa yang menjadi kebenaran saat ini bisa saja terbantahkan di kemudian hari. Itulah uniknya sains: dinamis.

Fenomena Bintang Katai Putih dan Katai Gelap

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhUxbr3Z6akXtCPsanzLH1R7TqT78dqQnMg3IoGzh0FrUA1P4MWuvLHA5bnUcdnX8bgT6Kb2Nb6LkLr8MgekLloOnpiU7eWHadDoTKc1izYQAs6CluOLQOTs2DxyjtR9kig3Ozp15uP5VuG/s400/Bintang+Katai+Putih.jpg
Bintang katai putih (G2 star)
Banyak astronom berpendapat, katai putih sebenarnya bintang lanjut yang tak mampu lagi membangkitkan tenaga di terasnya. Dalam astrofisika, bintang di jagat raya ini mengawali masa hidup dengan reaksi nuklir di teras bintang. Dalam reaksi termonuklir itu terjadi pembakaran hidrogen menjadi berton-ton helium setiap detik. Pembakaran inti hidrogen berlangsung miliaran tahun. Ketika hidrogen habis, di teras bintang bertumpuk abu helium.

Namun suhu belum begitu tinggi untuk memulai reaksi termonuklir tahap kedua, yaitu mengubah helium jadi karbon yang lebih dikenal sebagai reaksi siklus karbon. Akibatnya, di teras bintang tak lagi ada tenaga yang mampu menahan pengerutan gravitasi, dan bintang pun runtuh lagi.


http://www.cbsnews.com/i/tim//2010/07/30/dwarf.jpg
Brown Dwarf (kedua dari kiri)
http://www.nova.org/~sol/solcom/stars/b-dwarfs.gif
Tingkat terang cahaya bintang

Sebagian energi yang dilepas pada pengerutan dipakai untuk memanasi pusat (inti), sehingga helium terbakar. Bintang pun berhenti mengerut, karena sumber tenaga baru sudah bangkit. Suhu pusat minimum agar reaksi kedua bisa berlangsung sekitar 100 juta derajat Kelvin. Ketika bintang mengerut, energi yang dilepaskan sangat dahsyat sehingga angkasa bintang terdorong keluar dan mengembang menjadi raksasa merah.

Pada tahap itu keseimbangan bintang terganggu. Tubuhnya berdenyut secara periodik. Beberapa juta tahun berikutnya, bintang kehilangan sebagian massa melalui proses angin bintang. Sementara itu reaksi termonuklirnya terus berlangsung membentuk unsur-unsur berat dan bintang terus melontarkan sebagian besar selubung, sehingga yang tinggal teras panas yang mengerut dikelilingi lingkaran materi. Suhu permukaan sisa bintang itu sekitar 10.000 derajat Kelvin.

Sekarang bintang itu berada pada tahap planetary nebulae. Lingkaran materi mengembang cepat, meninggalkan pusat yang terus ambruk. Pengerutan baru berhenti ketika tekanan degenerasi elektron sudah kuat menahan tubuhnya.

Kini, bintang menjadi katai putih yang tenang. Selama periode ribuan juta tahun sesudah itu tak ada lagi kejadian fisis istimewa yang menimpa. Perlahan-lahan suhu bintang menurun dan setelah beberapa puluh miliar tahun meredup menjadi benda dingin, padat, dan gelap yang dikenal dengan sebutan katai gelap.

Bintang Ganda

Lain lagi riwayat bintang ganda atau berpasangan, misalnya pasangan katai putih dan bintang normal. Jika jarak kedua bintang cukup dekat, evolusi salah satu anggota itu bisa memengaruhi nasib pasangannya. Misalnya, Alpha Centauri, bintang ganda paling benderang di Rasi Centaurus,  Albereo di Rasi Cygnus, dan Epsilon Auriga.

Katai putih bermedan gravitasi besar mampu menyedot materi bintang pasangannya (katai merah), sehingga menumpuk di permukaan yang kecil dan panas. Karena bintangnya normal, tentu materi itu terdiri atas hidrogen segar. Makin tebal tumpukan materi, kian besar pula tekanan. Jadi hidrogen itu terpanasi dan permukaan katai putih menjadi dapur reaktor nuklir kedua.

Reaksi fusi nuklir (penggabungan inti atom) itu menghasilkan selubung gas cemerlang yang mengembang cepat, ibarat ledakan bom hidrogen yang menyebabkan materi bintang berhamburan. Ledakan nuklir bintang itu menghasilkan nova (bintang meledak). Nova terjadi berulang-ulang pada pasangan bintang ganda jenis itu. Contohnya, Nova Scorpii 2007a (atau V1280 Scorpii) yang ditemukan astronom amatir Jepang, 4 Februari 2007, di konstelasi Scorpio. Selama beberapa hari, objek itu jadi terang dan makin terang sehingga mencapai maksimal pada 17 Februari. Pada saat itu, kecerlangannya membuatnya jadi nova paling terang selama 35 tahun terakhir. Selama masa itu, nova tersebut gampang dikenali hanya dengan mata telanjang.

Ketika materi habis terbakar, penumpukan materi berulang, kemudian dibakar lagi, terus meledak, dan seterusnya. Jika penyedotan berlangsung cepat, hidrogen diubah cepat menjadi helium tanpa ledakan. Sebaliknya, helium masih dibakar menjadi abu karbon. Itu berarti massa katai putih bertambah pelan-pelan. Limit Chandrasekhar makin ditekan, tetapi karbon dibakar. Suhu pun terus meningkat dan memanasi pusat bintang.

Pembakaran karbon berlangsung makin cepat dan terus memanasi pusat. Ketika suhu pusat bintang mencapai 4 miliar derajat, degenerasi lenyap, dan bintang meledak dengan kecepatan puluhan ribu kilometer per detik. Proses ledakan yang mahadahsyat itu dikenal sebagai supernova.

Bintang ganda (berpasangan)  yang sangat menarik bagi astronom adalah Bintang Sirius. Bintang Sirius B tua biasa berpasangan dengan Sirius A yang biru dan masih sangat muda. Padahal, sebagai bintang biru yang masif, ia harus berevolusi cepat. Jadi sudah mati lebih dulu daripada Sirius B. Satu-satunya penjelasan adalah mula-mula B lebih masif dari A, mungkin dua atau tiga kali masa matahari kita. Maka ia berevolusi cepat sekali sampai menjadi planetary nebulae.

Waktu itu boleh jadi ia memuntahkan massa amat besar, sehingga hanya tersisa satu kali massa matahari, teramati sebagai Sirius B. Sirius A tentu menelan sedikit massa yang dibuang B, sehingga bertambah besar seperti sekarang ini.

Kini, para astronom sudah menemukan ratusan bintang katai putih di jagat raya. Namun masih ada miliaran bintang katai putih lain yang belum diketahui. Bagi astronom, kehadiran bintang katai putih masih merupakan misteri alam semesta yang belum terungkap sepenuhnya.

Mereka masih terus terkesima ketika berhasil mendeteksi keberadaan bintang neutron dan Lubang Hitam yang ribuan kali lebih padat dan lebih masif, tetapi ratusan ribu kali lebih kecil daripada si Kerdil Putih. Jadi bintang katai putih, bintang neutron, dan Lubang Hitam merupakan fenomena eksotik alam semesta, yang menarik diteliti dan ditelaah lebih lanjut.
Sumber : http://www.adipedia.com

Pembangunan Masjid Nurul Yakin Mawasangka


Masjid nurul yakin Mawasangka Kecamatan Mawasangka yang dibangun sejak 2007 lalu telah menyerap dana sebesar Rp 1.1 M. masjid seluas 32x36 meter (sudah termasuk teras) kini pengerjaannya telah memasuki pengecoran lantai dua dan kubah. Dana sebesar itu adalah 90 persen swadaya masyarakat.
Menurut Camat Mawasangka Asraruddin S.Sos M.Si dengan luas areal dan badang bangunan yang dimiliki oleh masjid itu boleh jadi merupakan Masjid terbesar di kawasan Buton Raya. Masjid tersebut dibangun berdasarkan sumber-sumber dana yang digalang pihak panitia.
Ada delapan item yang diterapkan untuk mendapatkan dana yaitu sumbangan PKK, rumah tangga miskin, Sumbangan tambang galian, PNS, PDAM, PLN, pemilik kios pasar, pelabhan, dan sumbangan dari dermawan baik dari Bau-bau, Kendari, Kolaka, maupun bantuan dari Pemerintah Provisi Sulawesi Tenggara dan Pemerintah Kabupaten Buton sebagaimana dijelaskan oleh camat Mawasangka.
Untuk bantuan dari pemkab Buton, diberikan sebesar 250 juta dengan tahap pertama sebesar 85 Juta.

Sumber : Kendari Ekspress 24 Agustus 2010

Minggu, 05 Februari 2012

Jika Peneliti Penggali Kutub Selatan Kehilangan Kontak


Pos penelitian di Antartika (Telegraph)
 
Pekan lalu, dunia ilmiah diramaikan dengan kabar gembira bahwa sekelompok peneliti Rusia yang melakukan penggalian pada lapisan es di kutub selatan sudah semakin mendekati bagian bawah lapisan tersebut. Diperkirakan, mereka akan segera bertemu dengan danau bawah es yang sudah 20 juta tahun tak tersentuh cahaya matahari.

Namun, setelah enam hari berselang, peneliti di seluruh dunia mulai khawatir, karena tidak mendapatkan kabar apa pun lewat radio dari para peneliti tersebut. Sebab, nasib mereka tidak diketahui di saat musim dingin Antartika yang mematikan sudah semakin dekat.

“Jika Anda ada di luar ruangan, kondisi sangat dingin. Suhu bisa mencapai minus 30 sampai 40 derajat Celsius,” kata David Pearce, seorang mikrobiolog, dikutip dari FoxNews, Sabtu 4 Februari 2012. “Jika Anda membuka mata, cairan di mata akan mulai membeku. Lubang hidung akan membeku, cairan dalam mulut juga demikian,” ucapnya.

Pearce sendiri mengepalai tim peneliti dari British Antarctic Survey yang melakukan misi yang sama seperti tim Rusia. Bedanya, mereka tidak menggali ke Danau Vostok, melainkan Danau Ellsworth, danau lain di antara 370 buah danau yang ada di bawah lapisan es Antartika. Tetapi, bagi tim Rusia, waktu semakin menipis.

“Mereka harus keluar dari sana pada 6 Februari ini,” kata Pearce. “Jika musim dingin dimulai, dari temperatur yang sudah ekstrem saat ini, suhu masih akan kembali turun hingga 40 derajat Celcius,” ucapnya.

Sebelumnya, tim Rusia sendiri terus berkomunikasi dengan Pearce dan rekan-rekan lain, sesama peneliti ekspedisi Antartika ketiga tersebut. Tim-tim lain juga telah mengamati kemajuan tim Rusia dan saling berbagi catatan selama beberapa hari terakhir.
Namun, saat ini, tidak ada yang mengetahui nasib mereka. “Kami tengah menunggu dengan cemas,” kata Pearce.

Pearce, yang sudah 15 tahun bekerja di Antartika sangat mengetahui kondisi di sana. Vostok merupakan kawasan yang tepat ada di tengah-tengah kutub selatan. Di sana, temperatur Bumi berada di posisi paling rendah yakni sempat mencapai 89,4 derajat Celsius di bawah nol.
• VIVAnews


Yupiter Berfungsi Sebagai Pelindung Bumi



Ilmuwan yakin bahwa tata surya kita kemungkinan telah ‘mengusir’ sebuah planet raksasa saat tata surya baru terbentuk. (astronomynow.com)
 
David Nesvorny, peneliti dari Southwest Research Institute menyebutkan, ada kemungkinan bahwa tata surya dahulunya memiliki 5 planet raksasa. Bukan empat planet seperti yang ada saat ini.

Seperti diketahui, saat baru terbentuk, planet-planet yang ada di tata surya belum memiliki orbit yang stabil dan kemungkinan besar Jupiter pernah mendekat ke arah Matahari sebelum kembali ke posisinya.

Tetapi, bagaimana Jupiter bisa berpindah posisi tanpa menyebabkan Bumi bertabrakan dengan Mars atau Venus tidak bisa diketahui. Namun, lewat simulasi komputer, dengan menambahkan sebuah planet raksasa dengan massa serupa dengan planet Uranus atau Neptunus, akhirnya semua masuk logika.

Simulasi komputer menunjukkan, satu buah planet besar telah dikeluarkan dari tata surya oleh Jupiter. Setelah planet raksasa di tata surya tinggal empat buah, Jupiter kemudian bisa berpindah kembali ke posisi awal dan membuat susunan planet-planet tersisa menjadi seperti saat ini tanpa mengganggu planet-planet dalam.

“Kemungkinan bahwa pada awalnya sistem tata surya memiliki lebih dari empat planet raksasa dan kemudian melepaskan beberapa di antaranya tampak dimungkinkan jika melihat temuan sejumlah planet yang bergerak bebas di ruang antar galaksi beberapa waktu terakhir,” kata Nesvorny, seperti dikutip dari Astronomy Now, 13 November 2011.

Nesvorny menyebutkan, temuan-temuan itu mengindikasikan bahwa proses pengusiran planet-planet dari sistem tata surya merupakan hal yang umum terjadi. Temuan ini sendiri dipublikasikan di jurnal The Astrophysical Journal Letters.
Perpindahan posisi planet Jupiter saat sistem tata surya baru lahir sendiri sudah diteliti sejak lama. Menurut pelenliti, salah satu efek sampingnya adalah yang mengakibatkan ukuran planet Mars menjadi kerdil dibanding planet-planet tetangganya. (umi)
• VIVAnews

Penjelajahan ke Mars


Planet Mars, 2 miliar tahun yang lalu diperkirakan punya samudera dingin membeku. (universetoday.com)

Kendaraan penjelajah Mars terbaru milik NASA mulai melakukan perjalanan mereka ke Planet Merah. Curiosity, kendaraan berukuran sebesar mobil itu telah meluncur pada akhir pekan lalu dan tengah menempuh perjalanan sejauh 570 juta kilometer dari Bumi ke Mars.

Jika tidak ada aral melintang, diperkirakan, robot raksasa senilai US$2,5 miliar atau sekitar Rp22,7 triliun itu akan tiba di Mars sekitar 8,5 bulan kemudian.

“Kita sudah mulai perjalanan,” kata Pete Theisinger, MSL Project Manager dari Jet Propulsion Laboratory NASA, seperti dikutip dari Space, 28 November 2011. “Pesawat ruang angkasa itu dalam kondisi yang baik dan kini tengah menuju Mars,” ucapnya.

Adapun misi utama MSL ke Mars adalah menentukan apakah planet tersebut mampu atau pernah mendukung kehidupan mikrobial. Misi ini yang mulai dikerjakan sejak 2003 ini sendiri rencananya akan diberangkatkan pada 2009, namun demikian, NASA gagal memenuhi deadline.

Namun keberhasilan peluncuran tersebut baru merupakan tahap pertama dari misi sulit yang diperkirakan akan berlangsung setidaknya selama dua tahun waktu di Bumi. “Kami paham ini barulah tahap awal dari misi. Kita masih harus bekerja keras dalam 8,5 bulan ke depan,” kata Theisinger.

Rencananya, Curiosity akan mendarat di Mars pada Agustus 2012. Namun anggota tim misi tersebut tidak bisa santai membiarkan kendaraan seberat 1 ton tersebut pergi sendirian ke Mars. Mereka harus tetap memantau dan melakukan koreksi arah. Tim juga akan melakukan sejumlah tes untuk memastikan 10 instrumen ilmiah yang ada di sana bekerja dengan baik.
• VIVAnews

Ditemukan 18 Planet Baru


Planet-planet baru itu ditemukan beberapa bulan setelah peneliti lain mengumumkan temuan 50 dunia dengan kehidupan lain, termasuk sebuah planet berbatu yang berpotensi mengandung kehidupan. (NASA / Daily Mail)

Astronom menemukan 18 planet baru. Seluruh planet tersebut merupakan planet gas raksasa berukuran sebesar Jupiter dan mengitari sebuah bintang yang lebih besar dibanding matahari kita. Temuan ini meningkatkan jumlah planet yang diketahui mengorbiti bintang raksasa hingga 50 persen.

Planet-planet baru itu juga ditemukan hanya beberapa bulan setelah kelompok peneliti lain mengumumkan temuan 50 dunia dengan kehidupan lain, termasuk sebuah planet berbatu yang berpotensi mengandung kehidupan di dalamnya.

Jumlah planet alien yang sudah diketahui ini kini jumlahnya telah mencapai lebih dari 700 buah dan angkanya terus meningkat pesat.

Dikutip dari laman Space, 5 Desember 2011, saat ditemukan, peneliti tengah mengobservasi sekitar 300 bintang menggunakan observatorium Keck di Hawaii dan perangkat-perangkat yang ada di Texas dan Arizona, Amerika Serikat.

Pada penelitian, mereka fokus ke pencarian apa yang disebu dengan bintang tipe A yang sudah ‘pensiun’ dan memiliki ukuran setidaknya 1,5 kali lipat lebih raksasa dibandingkan dengan matahari kita.
Serupa Jupiter
Bintang-bintang tersebut sudah melampaui tahapan utama dalam hidupnya dan kini tengah membesar menjadi apa yang disebut dengan subgiant star.

Para astronom kemudian meneliti bintang-bintang tersebut, mencari adanya guncangan kecil yang disebabkan oleh sentakan gravitasi dari planet yang mengorbit.

Akhirnya, proses pencarian itu mengungkapkan adanya 18 buah dunia alien yang baru, dan semuanya memiliki massa serupa dengan Jupiter. Seluruh planet itu mengorbit relatif dekat dengan matahari mereka, dalam jarak setidaknya 0,7 kali jarak Bumi ke matahari (sekitar 150 juta kilometer).

Temuan planet-planet baru ini dipublikasikan di jurnal Astrophysical Journal Supplement Series. (ren)
• VIVAnews