Selamat Berkunjung

Selamat Berkunjung !
Diharap komentarnya agar lebih bermanfaat, menambah wawasan dan hikmah

Kamis, 01 Maret 2012

Selamatkan Kiblat Pertama Umat Muslim

Salah satu yang menjadi nara sumber Konferensi Internasional untuk Kemanusiaan Palestina di Jakarta, 31 Oktober – 2 Nopember 2008, adalah Mufti Besar Palestina, Dr. Ikrimah Shabri. Sosok yang secara usia sudah kelihatan sepuh, namun semangat beliau luar biasa, terlihat dari keikutsertaan beliau dalam setiap sessi konferensi.

Dalam kesempatan khutbah Jum’at beliau mengawali penjelasannya dengan Kudukan Al Aqsha yang suci dan mensejarah. Karena secara tegas dijelaskan dalam Kitab Suci Al Qur’an, di surat Al Isra’ ayat pertama. Dengan menggunakan permulaan: “Subhaanal ladzii asraa…” Hanya ada satu surat di dalam Al Qur’an yang di awali dengan kata dan istilah ini. Yang berarti, “Maha Suci yang telah memperjalankan…”. Kata beliau, ini menunjukkan kedudukan yang mulia lagi suci antara dua kiblat umat Islam, masjidil Aqsha, kiblat pertama umat muslim dan masjidil Haram, kiblat selamanya umat muslim. Sehingga tidak ada bedanya antara kehormatan keduanya. Sama-sama suci dan mulia.

Ini ditegaskan lagi dengan sabda Rasulullah saw. “Tidak dianjurkan dengan sangat untuk pergi berkunjung, kecuali terhadap tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidil Aqsha dan Masjid ini -Masjid Nabawi-.” Begitu beliau mendudukkan permasalahan Al Aqsha, Al Quds, dan Palestina dengan sebenarnya.

Terkait dengan penggalian terowongan di bawah masjid Al Aqsha, beliau menguraikan: “Bahwa stategi Zionis Israel sangatlah halus dan licik, pertama dengan mengklaim bahwa di bawah bangunan masjid Al Aqsha ada apa yang mereka sebut sebagai haikal Sulaiman. Klaim ini mereka sebarkan secara massif. Padahal di bawah Masjid Al Aqsha tidak ada sama sekali situs purbakala yang menunjukkann hal demikian.” Selanjutnya mereka mulai menggali terowongan di mulai dari wilayah sebelah Barat Masjid Al Aqsha. Lagi-lagi mereka berbuat demikian adalah karena ingin menjadikan terowongan itu salah satu tempat kunjungan wisata.

Namun yang pasti, dengan adanya bukti-bukti yang sangat kuat, ternyata penggalian itu sekarang ini sudah sampai di pondasi dasar di tengah-tengah masjid Al Aqsha.
Zionis Israel tidak berani mengahancurkan masjid Al Aqsha secara terang-terangan, dengan merobohkan, membom-bardir atau meruntuhkan masjid Al Aqsha secara langsung. Namun dengan menggali terowongan di bawah pondasi dasar di tengah-tengah masjid Al Aqsha, harapan mereka ketika ada peritiwa gempa yang meskipun skalanya kecil saja, maka bangunan masjid Al Aqsha akan runtuh dengan sendirinya, sehingga mereka tidak mendapat kecaman dari dunia.” Akal yang licik.
Dalam wawancara khusus dengan salah satu stasiun radio internasional, beliau menegaskan peranan ulama dalam mempersatukan faksi-faksi yang berada di Palestina. Beliau mengatakan: “Al Aqsha adalah segala-galanya bagi umat muslim, sehingga ia melampaui kepentingan kelompok tertentu di Palestina. Tugas kami para ulama, cendekiawan, para mufti adalah berusaha keras untuk menyatukan faksi-faksi yang ada guna menyelamatkan Al Aqsha dan Palestina.”

Usaha kami belum berhasil sampai sekarang, namun kami akan terus berusaha keras untuk menyatukan bangsa Palestina. Dan usaha itu pernah berhasil, ketika terbentuk pemerintahan bersama antara Hamas dan Fatah -Presidennya dari Fatah, dan Perdana Menterinya dari Hamas-, namun usaha itu tidak berlanjut lama, karena memang ada konspirasi Amerika untuk memecah belah bangsa Palestina. Amerika tidak akan menggelontorkan dana besarnya kalau terjadi persatuan bangsa Palestina, sehingga salah satu syarat untuk mendapatkan dana bantuan itu, harus tidak ada persatuan. Dan itulah yang dilakukan oleh kelompok Fatah.” Kata beliau.

Dalam siaran press di akhir acara Konferensi ini beliau menambahkan: “Palestina haruslah independen secara ekonomi dan tidak tergantung dengan Israel. Sebab tidak mungkin akhirnya Palestina akan merdeka, kalau ekonominya masih bergantung dan di bawah kendali Israel.” Karena itu, kata beliau Bangsa Palestina harus didukung kemajuan ekonominya oleh semua anak bangsa Palestina, di dalam dan di luar negeri, dibantu oleh negara-negara Timur Tengah di sekitarnya, dibantu dunia Islam, bahkan dibantu oleh dunia internasional, yang masih menghargai hak-hak asasi manusia. Dengan daya dan upaya yang memungkinkan untuk hal itu.” Allahu a’lam.

Sumber: http://www.dakwatuna.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar