Selamat Berkunjung

Selamat Berkunjung !
Diharap komentarnya agar lebih bermanfaat, menambah wawasan dan hikmah

Senin, 09 Juli 2012

800 Pekerja Asing di Kuwait Peluk Islam pada 2012

Pusat Informasi Islam (IIC) Dar Al-Ber Society mencatat hingga April 2012, 800 pekerja asing di Kuwait, telah beralih ke Islam. Pada April saja, sebanyak 117 pekerja asing memeluk Islam.

Direktur IIC, Khalid Sultan Al- Ulama, mengatakan tahun lalu IIC mencatat 1.325 pekerja asing dari berbagai negara yang memeluk Islam . Mereka sebagian besar berasal dari Asia, Afrika, Eropa dan Arab. “Ketertarikan mereka pada dasarnya karena ajaran Islam toleran, penuh belas kasih dan rasional,” kata dia seperti dikutip khaleejtimes.com, Selasa (8/5).

Khalid mengungkap dari 800 pekerja asing, sekitar 80 persennya berasal dari Filipina, disusul India dan Cina. “Masuk dalam catatan, pekerja asing dari Inggris, Amerika, Jerman, Prancis, Italia, Rumania, Rusia dan Belanda,” kata dia.

Menurut Khalid, para ekspatriat mengenal Islam melalui dialog yang panjang. Mereka cari tahu tentang Islam. Lalu, mereka menyimpulkan Islam menurut pandangan masing-masing. “Alhamdulillah, mereka pun mendapatkan hidayah. Bagi kami, usaha untuk memperkenalkan Islam berhasil dengan baik,” pungkasnya.

Vatikan akui Islam menjadi agama terbesar di Dunia

Kota Vatikan, markas besar Gereja Katolik Roma, akhirnya mengakui bahwa Islam sekarang telah menjadi agama terbesar di dunia.

“Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kita tidak lagi berada di posisi teratas: umat Islam telah menyusul kami,” kata Monsignor Vittorio Formenti dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Vatikan L’Osservatore Romano.

Setelah menunggu lama secara resmi Vatikan akhirnya mengakui bahwa Islam adalah agama yang paling lazim di dunia, dan melewati kristen lebih dari tiga juta di seluruh dunia selama hampir setahun yang lalu, dan menjadi agama yang banyak dianut oleh warga barat menurut pernyataan Vatikan, karena jumlah Muslim di dunia telah melampaui 1,3 miliar jiwa.

Vatikan mencatat adanya permintaan yang luar biasa oleh warga Barat Kristen dan Yahudi serta agama-agama dan kepercayaan lain untuk masuk Islam dalam beberapa tahun terakhir, meskipun kampanye negatif terhadap Islam masiv dilakukan, dan sejumlah besar uang yang dihabiskan untuk mendakwahkan agama Kristen.

Anak Ini Lahir dari Keluarga Katolik, tapi Hafal Al Quran dan mengislamkan Ribuan Orang

Sharifuddin Khalifa boleh dibilang anak ajaib. Anak yang terlahir di Tanzania, Afrika Timur pada Desember 1993 itu berasal dari keluarga Katholik. Namun, pada usia 1,5 tahun, Khalifa sudah hafal 30 juz Alquran dan shalat lima kali sehari.


Subhanallah, ia mampu menghafal Alquran tanpa ada orang yang mengajarinya. Awalnya, kedua orangtua Khalifa mengira anaknya dikuasai setan. Namun, tetangganya yang Muslim memahami apa yang diucapkan anak ajaib itu. Akhirnya, kedua orangtuanya menyadari bahwa putranya adalah tanda kebesaran Sang Khalik. Kedua orangtuanya pun memeluk Islam.
Meski berbahasa ibu Swahili, Khalifa mampu berbicara dan berpidato dalam bahasa Arab, Inggris, Prancis, dan Italia tanpa belajar. Pada usia empat hingga lima tahun, ia sudah berkeliling Afrika dan Eropa untuk berceramah dan mengajar. Berkat dakwaahnya, ribuan orang memeluk Islam. Di Kenya, Afrika sebanyak 1.000 orang berduyun-duyun bersyahadat setelah mendengar ceramahnya.

Sabtu, 07 Juli 2012

Bukti Ilmiah Kebenaran Al-Qur’an Justru Datang dari Ilmuwan Barat




Kata Pengantar

Bismillahirrahmaanirrahim
Assalamu ’Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillah, segala pujian dan rasa syukur senantiasa kita panjatkan kehadira Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia senantiasa memberikan rahmat dan karunia berupa kesehatan, kesempatan, kekuatan dan bimbingan sehingga buku yang sederhana ini dapat diselesaikan dengan baik.
Shalawat dan salam juga kita haturkan kepada panutan kita, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, karena dengan perjuangan, kerisauan dan pengorbanan beliaulah kita merasakan indahnya kehidupan dalam cahaya iman dan Islam.
Amma ba’du, Al-Qur’an adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berisi petunjuk dan hidayah yang menuntun manusia ke jalan yang benar. Dan banyak ayat-Nya telah menjadi perhatian ilmuwan Muslim dan ilmuwan Barat dalam rangkaian penelitian yang mereka dalami.
Hasil penelitian mereka terungkap bahwa banyak ayat Al-Qur’an yang sudah dibuktikan kebenarannya secara ilmiah, sehingga memberi jalan hidayah bagi ilmuwan Barat untuk masuk Islam dan bertasbih memuji kebesaran dan keagungan-Nya. Walaupun Al-Qur’an itu bukan ensiklopedi sains modern dan kontemporer, namun isi kandungannya sangat kaya dengan informasi-informasi sains. Ini mencerminkan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an itu merupakan suatu kebenaran murni dan hakiki yang sumbernya dari Sang Pencipta, Allah Azza wa Jalla.
Adanya penemuan dalam sains dan teknologi yang begitu pesat ini, telah memotivasi penulis untuk mengemukakan sebagian fakta kebenaran ilmiah Al-Qur’an untuk memperkaya khasanah ilmu pengetahuan kita, dan lebih dari itu menambah keyakinan dan penghambaan kita kepada-Nya.
Oleh karena itu, buku yang ada di tangan pembaca ini, diberi judul “Bukti Ilmiah Kebenaran Al-Qur’an Justru Datang dari Ilmuwan Barat”, (Fakta Ilmiah Ayat Al-Qur’an dalam Tinjauan Sains Modern).
Dalam buku ini banyak disajikan informasi yang sangat menarik dan ilmiah. Tidak hanya didukung oleh data dan fakta, tetapi juga Al-Qur’an dan Hadits memberikan penekanan betapa pentingnya informasi ini. Di samping itu, adanya fenomena yang sangat langka (di luar batas nalar dan logika) terjadi dalam kehidupan kita. Dan lebih dari itu, adanya kisah inspiratif dari para ilmuwan Barat yang mendapatkan hidayah (masuk Islam) atas penelitian mereka yang kebenarannya telah dijelaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an 15 abad yang lalu.
Dengan pengkajian secara terperinci terhadap alam semesta, maka membuka pikiran kita bahwa semua fenomena di alam semesta ini terikat oleh hukum-hukum sunnatullah, mulai dari rancangan keseimbangan terkecil hingga rasio terhalus di dalamnya telah ditata untuk memenuhi ketepatan tingkat tinggi. Keteraturan yang menakjubkan ini memberikan kesadaran bagi kita bahwa semuanya telah diatur pada standar ideal bagi keberadaan manusia untuk hidup dan berkembang.
Memang banyak informasi di alam semesta yang tidak dapat dijangkau oleh sains, tetapi harus diyakini kebenarannya berdasarkan informasi Al-Qur’an dan Hadits Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sedangkan informasi tentang fenomena alam yang dijelaskan melalui penelitian ilmiah, kebenarannya pun harus sejalan dengan Al-Qur’an. Karena Allah telah memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang menunjukkan bahwa Al-Qur’an itu adalah benar.
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (QS. Fushshilat (41) : 53)
Banyak sekali fenomena alam yang terhampar di sekitar kita dan ini menggugah kita untuk senantiasa tafakur dan mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap kejadiannya sehingga menjadikan kita sebagai hamba yang senantiasa bersyukur, dan mengagungkan kebesaran-Nya.
Pada hakikatnya untuk mengungkap kalimat Allah di alam semesta ini sungguh sangat luas dan tidak akan pernah ada habisnya. Dan kita tidak akan sanggup untuk menulis dan menghitungnya, walaupun semua pohon dijadikan pena dan lautan dijadikan tintanya, bahkan ditambahkan sebanyak itu pula.
“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Luqman (31) : 27).
Akhirul kalam, sebagai hamba yang dhaif, penulis memohon saran dan kritik yang membangun agar buku ini dapat memberikan manfaat, menambah wawasan dan hikmah dalam kehidupan kita. Amin
                                                                                        
Surabaya, Juni 2012


Penulis

Dalam kurun 20 tahun, jumlah penganut agama Islam di Irlandia meningkat 10 kali lipat


Togher adalah kawasan industri yang terletak di pinggiran kota sekitar dua kilomoter di selatan pusat kota Cork, Irlandia. Di kawasan industri itu terdapat sebuah bangunan beton yang cukup besar, yang akan menjadi bagian penting sejarah Islam di Irlandia. Bangunan itu dalam setahun ini, akan diubah menjadi kompleks masjid yang mampu menampung 1.000 lebih jamaah. Gambar disain masjid menunjukkan sebuah lengkungan kubah berwarna putih dengan bulat sabit di atasnya akan menghiasi masjid yang akan menjadi tempat kedua terbesar bagi komunitas Muslim Irlandia, setelah Islamic Cultural Centre of Ireland (ICCI) yang berlokasi di Clonskeagh, Dublin.

“Ini merupakan langkah yang sangat penting bagi kami. Selama bertahun-tahun kami berpindah-pindah dari tempat sewaan yang satu ke tempat sewaan yang lain. Akhirnya, kami punya tempat sendiri,” kata Imam Salim Al-Faituri.

Menurut Imam kelahiran Libya itu, biaya pembangunan masjid baru itu berasal dari donasi kaum Muslimin di Irlandia dan para dermawan dari negara Qatar. Masjid ini akan menjadi pusat kegiatan komunitas Muslim di Cork yang jumlahnya sekitar 6.000 jiwa, dan muslim di kota-kota lain disekitarnya.
“Masjid itu akan menjadi pusat komunitas Muslim kedua terbesar di luar kota Dublin,” kata Ahmed H. Zahran, seorang akademisi asal Mesir yang mengajar di University College Cork. Zahran adalah satu satu anggota komite pembangunan masjid di Togher.
Pembangunan masjid di kota industri Togher menunjukkan bahwa agama Islam sudah memiliki akar di Irlandia. Jumlah muslim di negeri ini terus bertambah dari tahun ke tahun, meski keberadaan komunitas Muslim di Irlandia masih relatif baru dibandingkan dengan negara Eropa lainnya.
Dalam kurun waktu 20 tahun, jumlah penganut agama Islam di Irlandia meningkat 10 kali lipat. Sensus tahun 2006 menunjukkan jumlah muslim dibawah angka 33.000, tapi para pengamat meyakini bahwa jumlah muslim yang sebenarnya di Irlandi mencapai lebih dari 40.000 jiwa. Antara tahun 2002-2006, jumlah muslim meningkat hingga 70 persen dan Islam menjadi agama yang paling cepat pertumbuhannya dibandingkan agama lainnya yang ada di Irlandia.
 
Komunitas Muslim di Irlandia juga makin beragam. Di awal keberadaannya, komunitas Muslim didominasi oleh muslim asal Timur Tengah dan Afrika Utara yang datang ke Irlandia untuk keperluan belajar atau profesi. Mereka lalu menetap, bahkan ada yang menikah dengan orang Irlandia asli.
 
Di awal tahun 1990-an, mulai berdatangan komunitas Muslim dari Asia Tenggara, Asia Selatan, sub-Sahara Afrika dan dari Balkan. Mereka yang datang kebanyakan anak-anak muda yang berimigrasi ke Irlandia dengan alasan ekonomi, atau mencari suaka. Muslim dari Nigeria, Libya, Irak, Somalia, Al-Jazair dan beberapa negara lain, datang ke Irlandia karena mendapatkan suaka. Mayoritas komunitas Muslim di Irlandia adalah kalangan muslim Sunni dan sebagian kecil komunitas Muslim Syiah terutama di kota Dublin.
“Muslim di Irlandia mungkin salah satu populasi Muslim yang paling beragam di Eropa,” kata Dr Oliver Scharbrodt, ilmuwan yang sudah tiga tahun ini melakukan proyek penelitian tentang Islam di Irlandia.
 
Scharbrodt menjelaskan, “Di negara-negara Eropa lainnya, Anda akan menemukan kelompok etnik atau kebangsaan tertentu mendominasi komunitas Muslim karena latar belakang sejarah atau hubungan kolonial, tapi hal semacam itu tidak terjadi di Irlandia.”
“Irlandia, bisa dikatakan sebuah mikrokosmos dari komunitas keagamaan secara global. Di sini, terdapat penganut agama dari berbagai latar belakang bangsa, trend dan gerakan yang hidup dalam ruang geografis dan sebuah masyarakat komunal yang lebih kecil,” ujarnya.

Organisasi Muslim dan Pengaruh Ikhwanul Muslimin
Di Irlandia hanya ada satu pusat kebudataan Islam yang terbesar yaitu Islamic Cultural Centre of Ireland (ICCI). Pusat kebudayaan ini menjadi wakil dan jembatan antara komunitas Muslim dengan pemerintah dan komunitas lainnya di Irlandia.
 
Presiden Irlandia Mary McAleese dan sejumlah pejabat pemerintah Irlandia lainnya pernah berkunjung ke 
Pusat Kebudayaan Islam yang terletak di selatan kota Dublin itu. Ketika terjadi agresi Israel ke Gaza pada tahun 2009, pejabat pemerintah Irlandia Dick Roche menyempatkan diri datang ke ICCI untuk menjelaskan posisi Irlandia atas konflik tersebut.
 
ICCI yang dilengkapi dengan sekolah Islam, dibangun pada tahun 1996 dengan dana dari Yayasan Al-Maktoum, yayasan yang diketua oleh Syaikh Hamdan bin Rashid Al-Maktoum, deputi pemerintah Dubai dan menteri keuangan Uni Emirat Arab. Keluarga Al-Maktoum memiliki bisnis yang luas di Irlandia. ICCI dikelola oleh 20 staf yang kebanyakan berkebangsaan Arab dan merupakan pegawai tetap dari Yayasan Al-Maktoum. Direktur Eksekutif ICCI sekarang adalah Dr Nooh Al-Kaddo, muslim kelahiran Irak yang pindah dari Inggris ke Dublin pada tahun 1997. Muslim Irlandia menyebut ICCI sebagai masjid “Ikhwani” yang diidentikkan dengan kelompok Ikhwanul Muslimin di Mesir.
 
Dalam catatannya tentang Islam di Irlandia, Scharbrodt menulis bahwa ICCI merupakan bagian dari jaringan kelompok dan organisasi Islam di Eropa yang memiliki hubungan dengan gerakan Ikhwanul Muslimin. Kaitan ini, menurut Scharbrodt, kerap menimbulkan kontroversi, meski dalam kaitannya dengan ICCI, hubungannya dengan Ikhwanul Muslimin sangat longgar dan tidak formal. Namun menurut seorang sumber di Irlandia yang tidak mau disebut namanya, Ikhwanul Muslimin di Mesir memang memberikan pengaruh yang besar pada elemen-elemen keislaman yang ada di Irlandia.
Scharbrodt juga memuji peran Hussein Halawa, muslim kelahiran Mesir yang sekarang menjadi Imam di masjid ICCI. Lewat peran Halawa, ICCI menjadi sekretariat organisasi Dewan Riset dan Fatwa Eropa. “Sehingga Irlandia menjadi salah satu pusat trend ideologi dan intelelektual yang paling berpengaruh dalam dunia Muslim kontemporer,” kata Scharbrodt.
 
Selain ICCI, di Irlandia juga terdapat organisasi Dewan Imam Muslim Irlandia dan Islamic Foundation of Ireland. Seiring dengan bertambahnya jumlah muslim di negeri itu, juga bermunculan organisasi-organisasi muslim baru. Salah satunya, Public Affairs Commitee yang didirikan oleh Liam Egan–seorang asli Irlandia yang memeluk Islam.
 
Dibukanya kedutaan besar Arab Saudi di Dublin pada tahun 2009, menambah dinamis pertumbuhan komunitas Muslim dan perkembangan agama Islam di Irlandia. Kedubes Saudi berencana membuka sekolah dan membangun sebuah masjid baru di Dublin. “Jika rencana itu terealisasi, akan memberikan dampak yang besar, seperti yang kita lihat di negara-negara lain,” kata Umar Qadri, seorang imam di Islamic Centre Blanchardstown.
 
Melihat perkembangan Islam dan komunitas Muslim di Irlandia, Scharbrodt menyarankan agar pemerintah Irlandia meningkatkan hubungan yang baik dengan berbagai elemen Muslim di negeri itu, terutama dengan generasi kedua Muslim yang lahir dan besar di Irlandia.
“Idealnya, pemerintah harus membuka dan menjalin hubungan yang lebih luas lagi dengan masjid-masjid, organisasi dan komunitas Muslim. Ini butuh investasi, waktu dan sumber daya manusia yang besar untuk merangkul mereka semua sebagai bagian dari masyarakat Irlandia,” tukas Scharbrodt. (ln/isc/eramuslim)

Mufti Polandia: Tak Ada Diskriminasi Islam di Negara Kami





Mufti Polandia Mr Tomasz Miskiewiez menungkapkan, kendati Islam di negerinya merupakan agama minoritas, namun tak ada diskriminasi yang diterima baik dari pemerintah mupun dari umat Kristen yang mayoritas.
“Di Polandia sekarang ini, umat Islam bebas menjalankan ibadah tanpa tekanan ataupun diskriminasi,” kata Miskiewiez dalam kuliah umum bertema Islam Polandia: Sejarah dan Perkembangannya Sampai Sekarang,  di Ruang Diorama, Jumat  (26/3).
Turut hadir juga dalam acara itu Rektor UIN Jakarta Prof Dr Komaruddin Hidayat, Purek Bidang Kemahasiswaan Prof Dr Ahmad Thib Raya, Duta Besar Polandia untuk Indonesia Tomasz Lukaszuk, dan istri Mufti Barbara Miskiewiez.

Menurut Miskiewiez, populasi umat Islam di Polandia kini mencapai ada 35 ribu jiwa dari total 38 juta jiwa penduduk negeri itu. Di Polandia, Islam bukanlah agama baru. Agama ini telah ada sejak 1925. Sejak awal, Islam telah mampu hidup harmonis dengan masyarakat Polandia yang mayoritas Kristen.
Umat Islam di Polandia berasal dari suku Tartar, yang beragama Islam Suni. Mereka adalah keturunan dari prajurit Tartar yang gagah berani ketika berperang melawan Kerajaan Tetonik dalam pertempuran Grunwald di Malbork, sebelah utara Polandia pada tahun 1410.

Miskiewiez menegaskan, umat Islam di Polandia memiliki kesamaan dengan umat Islam di Indonesia. “Indonesia dan Polandia memiliki banyak persamaan, hanya saja, Islam di Indonesia sebagai mayoritas sedangkan di Polandia masih dalam minoritas,” ujarnya.

Memang, dalam sejarah, tegas mufti, kehidupan beragama di Polandia pada zaman Komunis menjadi pengamatan intelijen dan tidak dianjurkan. Namun pada era keterbukaan ini, kehidupan beragama menjadi lebih bergairah, dan Islam semakin berkembang.

Kini, umat Islam di Polandia telah memiliki Masjid Raya di kota Warsawa. Masjid tersebut sebelumnya merupakan rumah vila yang dibeli umat Islam dari warga setempat. Selain itu, kini  umat Islam Polandia juga  tengah membangun Pusat Budaya Islam.
Kunjungan Miskiewiez ke Indonesia kali ini bertujuan untuk menjalin kerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI).  Selain itu, Miskiewiez juga akan menemui Menteri Agama RI Suryadharma Ali dan pejabat Kementerian Pertanian RI untuk saling bertukar informasi mengenai sertifikasi produk makanan halal. Miskiewiez juga merencanakan untuk menjalin kerjasama bidang pendidikan.

Sejarah Dan Perkembangan Islam Di Rusia


sejarah singkat islam di russia1. Pendahuluan
Islam di Rusia adalah agama terbesar kedua setelah Kristen Ortodoks, yakni sekitar 21 – 28 juta penduduk atau 15 – 20 persen dari sekitar 142 juta penduduk. Kehidupan Muslim di Rusia saat ini juga kian membaik dibanding masa Komunis dulu. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Rusia, pemimpin Rusia (Vladimir Putin) memasukkan menteri Muslim dalam kabinetnya dan mengakui eksistensi Muslim Rusia.
2. Sejarah Masuknya Islam Di Rusia
Muslim pertama di wilayah Rusia terkini adalah masyarakat Dagestani di (kawasan Derbent) selepas pentaklukan Arab (abad ke-8). Negeri Muslim yang pertama adalah Volga Bulgaria pada tahun 922. Kaum Tatar mewarisi agama Islam dari negeri itu. Kemudian kebanyakan orang Turki Eropa dan Kaukasia juga menjadi pengikut Islam. Islam di Rusia telah mempunyai kewujudan yang lama, melebarkan ke seawal penaklukan kawasan Volga Tengah pada abad ke-16, yang membawa orang Tatar dan berkenaan Orang Turki di Volga Tengah ke dalam negeri Rusia. Pada abad ke-18 dan ke-19, taklukan Rusia di Caucasus Utara membawa orang-orang Muslim dari kawasan ini– Dagestan, Chechen, Circassia, Ingush, dan lain-lain ke dalam negara Rusia.
Kievan Rus juga telah dapat kesempatan untuk memeluk Islam dari misionaris Volga Bulgaria, tetapi orang Slavia Timur menerima agama Kristen.
Mayoritas Muslim di Rusia mengikuti ajaran Islam Sunni. Dalam beberapa kawasan, terutama di Dagestan dan Chechnya, ada tradisi Sufisme, yang diwakili oleh tarekat Naqsyabandi dan Shazili dipimpin oleh Shaykh Said Afandi al-Chirkawi ad-Daghestani. Amalan sufi memberikan orang Kaukasus semangat kuat untuk menolak tekanan orang asing, dan telah menjadi legenda di antara pasukan Rusia yang melawan orang Kaukasus pada zaman Tsar. Orang Azeri juga pada sejarah dan masih lagi pengikut Islam Syiah, disaat republik mereka terpisah dari Uni Soviet, banyak orang Azeri yang datang ke Rusia untuk mencari pekerjaan.
Qur’an pertama yang dicetak diterbitkan di Kazan, Rusia pada 1801. Satu lagi fenomena yang terjadi adalah gerakan Wäisi.
Pada era 1990-an, jumlah percetakan risalah Islam telah meningkat. Antaranya ialah beberapa buah majalah dalam bahasa Rusia, “Ислам” (transliteration: Islam), “Эхо Кавказа” (Ekho Kavkaza) dan “Исламский вестник” (Islamsky Vestnik), dan beberapa suratkhabar berbahasa Rusia seperti “Ассалам” (Assalam), dan “Нуруль Ислам” (Nurul Islam), yang diterbit di Makhachkala, Dagestan.
3. Demografi
Menurut United States Department of State, terdapat sekitar 21-28 juta jumlah penduduk Muslim di Rusia, sekurang-kurangnya 15-20 persen jumlah penduduk negara ini dan membentukkan agama minoritas yang terbesar. Masyarakat besar Islam dikonsentrasikan di antara warga negara minoritas yang tinggal di antara Laut Hitam dan Laut Kaspia: Avar, Adyghe, Balkar, Nogai, Orang Chechnya, Circassian, Ingush, Kabardin, Karachay, dan banyak bilangan warga negara Dagestan. Di Volga Basin tengah ada penduduk besar Tatar dan Bashkir, kebanyakan mereka Muslim. Banyak Muslim juga tinggal di Perm Krai dan Ulyanovsk, Samara, Nizhny Novgorod, Moscow, Tyumen, dan Leningrad Oblast (kebanyakannya kaum Tatar
4. Masjid
Secara resmi jumlah masjid di Rusia mencapai 4750 masjid, namun jumlah sebenarnya jauh lebih besar dan terus bertambah. Di Dagestan saja terdapat antara 1600 – 3000 masjid. Dalam sepuluh tahun terakhir jumlah masjid di Tatarstan telah melebihi 1000. Di ibukota Rusia dengan jumlah pemeluk Islam yang melebihi 1 juta orang terdapat 20 komunitas Muslim dan 5 masjid. Menurut pakar data Rusia, sedikitnya terdapat 7000 masjid di Rusia.
5. Organisasi
Menurut data register negara, kini telah tercatat 3345 organisasi keagamaan Muslim lokal. Jumlah terbesar organisasi-organisasi keagamaan Muslim terdaftar di daerah Volga (1945), diikuti Kaukasus Utara (980) dan Ural (316). Sedangkan jumlah organisasi keagamaan Muslim di daerah lainnya lebih kecil.[1]
Mayoritas Muslim di Rusia adalah Sunni. Terdapat dua Mazhab di Rusia, yaitu Mazhab Syafii di Kaukasus Utara dan Mazhab Hanafi di wilayah negara lainnya.
Tiga organisasi Muslim menurut status dewan federal (pusat) adalah:
  • Dewan Mufti Rusia (berbasis di Moskwa). Pemimpinnya Mufti Ravil Gainutdin. Dewan ini memimpin 1,686 komunitas.
  • Administrasi Keagamaan Pusat dari Muslim Rusia (berbasis di Ufa). Dipimpin oleh Mufti Talgat Tadzhuddin dan mempersatukan 522 komunitas.
  • Pusat Koordinasi Muslim di Kaukasus Utara yang dipimpin oleh Ismail Berdiyev, Mufti Karachai-Cherkassia dan wilayah Stavropol, dan terdiri dari 830 komunitas.
Dalam beberapa tahun terakhir hubungan antara Muslim di Rusia dan Indonesia telah meningkat karena pekerjaan yang baik dan usaha yang dilakukan oleh Dubes Indonesia Bapak Hamid Awaludin dan diplomat M. Aji Surya dan Enjay Diana.
From http://id.wikipedia.org