Pusat Informasi Islam (IIC) Dar Al-Ber Society
mencatat hingga April 2012, 800 pekerja asing di Kuwait, telah beralih
ke Islam. Pada April saja, sebanyak 117 pekerja asing memeluk Islam.
Direktur IIC, Khalid Sultan Al- Ulama, mengatakan tahun lalu IIC
mencatat 1.325 pekerja asing dari berbagai negara yang memeluk Islam .
Mereka sebagian besar berasal dari Asia, Afrika, Eropa dan Arab.
“Ketertarikan mereka pada dasarnya karena ajaran Islam toleran, penuh
belas kasih dan rasional,” kata dia seperti dikutip khaleejtimes.com,
Selasa (8/5).
Khalid mengungkap dari 800 pekerja asing, sekitar 80 persennya
berasal dari Filipina, disusul India dan Cina. “Masuk dalam catatan,
pekerja asing dari Inggris, Amerika, Jerman, Prancis, Italia, Rumania,
Rusia dan Belanda,” kata dia.
Menurut Khalid, para ekspatriat mengenal Islam melalui dialog yang
panjang. Mereka cari tahu tentang Islam. Lalu, mereka menyimpulkan Islam
menurut pandangan masing-masing. “Alhamdulillah, mereka pun mendapatkan
hidayah. Bagi kami, usaha untuk memperkenalkan Islam berhasil dengan
baik,” pungkasnya.
Selamat Berkunjung
Selamat Berkunjung !
Diharap komentarnya agar lebih bermanfaat, menambah wawasan dan hikmah
Diharap komentarnya agar lebih bermanfaat, menambah wawasan dan hikmah
Senin, 09 Juli 2012
Vatikan akui Islam menjadi agama terbesar di Dunia
Kota Vatikan, markas besar Gereja Katolik Roma, akhirnya mengakui bahwa Islam sekarang telah menjadi agama terbesar di dunia.
“Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kita tidak lagi berada di posisi teratas: umat Islam telah menyusul kami,” kata Monsignor Vittorio Formenti dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Vatikan L’Osservatore Romano.
Setelah menunggu lama secara resmi Vatikan akhirnya mengakui bahwa Islam adalah agama yang paling lazim di dunia, dan melewati kristen lebih dari tiga juta di seluruh dunia selama hampir setahun yang lalu, dan menjadi agama yang banyak dianut oleh warga barat menurut pernyataan Vatikan, karena jumlah Muslim di dunia telah melampaui 1,3 miliar jiwa.
Vatikan mencatat adanya permintaan yang luar biasa oleh warga Barat Kristen dan Yahudi serta agama-agama dan kepercayaan lain untuk masuk Islam dalam beberapa tahun terakhir, meskipun kampanye negatif terhadap Islam masiv dilakukan, dan sejumlah besar uang yang dihabiskan untuk mendakwahkan agama Kristen.
Anak Ini Lahir dari Keluarga Katolik, tapi Hafal Al Quran dan mengislamkan Ribuan Orang
Sharifuddin Khalifa boleh dibilang anak ajaib. Anak yang terlahir di Tanzania, Afrika Timur pada Desember 1993 itu berasal dari keluarga Katholik. Namun, pada usia 1,5 tahun, Khalifa sudah hafal 30 juz Alquran dan shalat lima kali sehari.
Subhanallah, ia mampu menghafal Alquran tanpa ada orang yang mengajarinya. Awalnya, kedua orangtua Khalifa mengira anaknya dikuasai setan. Namun, tetangganya yang Muslim memahami apa yang diucapkan anak ajaib itu. Akhirnya, kedua orangtuanya menyadari bahwa putranya adalah tanda kebesaran Sang Khalik. Kedua orangtuanya pun memeluk Islam.
Meski berbahasa ibu Swahili, Khalifa mampu berbicara dan berpidato dalam bahasa Arab, Inggris, Prancis, dan Italia tanpa belajar. Pada usia empat hingga lima tahun, ia sudah berkeliling Afrika dan Eropa untuk berceramah dan mengajar. Berkat dakwaahnya, ribuan orang memeluk Islam. Di Kenya, Afrika sebanyak 1.000 orang berduyun-duyun bersyahadat setelah mendengar ceramahnya.
Sabtu, 07 Juli 2012
Bukti Ilmiah Kebenaran Al-Qur’an Justru Datang dari Ilmuwan Barat
Kata Pengantar
Bismillahirrahmaanirrahim
Assalamu
’Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah, segala pujian dan
rasa syukur senantiasa kita panjatkan kehadira Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia senantiasa memberikan rahmat dan karunia
berupa kesehatan, kesempatan, kekuatan dan bimbingan sehingga buku yang
sederhana ini dapat diselesaikan dengan baik.
Shalawat dan salam juga
kita haturkan kepada panutan kita, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi
wa Sallam, karena dengan
perjuangan, kerisauan dan pengorbanan beliaulah kita merasakan indahnya
kehidupan dalam cahaya iman dan Islam.
Amma
ba’du, Al-Qur’an
adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
yang berisi petunjuk dan hidayah yang menuntun manusia ke jalan yang benar. Dan
banyak ayat-Nya telah menjadi perhatian ilmuwan Muslim dan ilmuwan Barat dalam
rangkaian penelitian yang mereka dalami.
Hasil penelitian
mereka terungkap bahwa banyak ayat Al-Qur’an yang sudah dibuktikan kebenarannya
secara ilmiah, sehingga memberi jalan hidayah bagi ilmuwan Barat untuk masuk
Islam dan bertasbih memuji kebesaran dan keagungan-Nya. Walaupun Al-Qur’an itu
bukan ensiklopedi sains modern dan kontemporer, namun isi kandungannya sangat
kaya dengan informasi-informasi sains. Ini mencerminkan bahwa ayat-ayat
Al-Qur’an itu merupakan suatu kebenaran murni dan hakiki yang sumbernya dari
Sang Pencipta, Allah Azza wa Jalla.
Adanya penemuan dalam
sains dan teknologi yang begitu pesat ini, telah memotivasi penulis untuk
mengemukakan sebagian fakta kebenaran ilmiah Al-Qur’an untuk memperkaya
khasanah ilmu pengetahuan kita, dan lebih dari itu menambah keyakinan dan penghambaan
kita kepada-Nya.
Oleh karena itu, buku yang ada di tangan pembaca
ini, diberi judul “Bukti Ilmiah Kebenaran Al-Qur’an Justru Datang dari
Ilmuwan Barat”, (Fakta Ilmiah Ayat Al-Qur’an dalam Tinjauan Sains Modern).
Dalam
buku ini banyak disajikan informasi yang sangat menarik dan ilmiah. Tidak hanya
didukung oleh data dan fakta, tetapi juga Al-Qur’an dan Hadits memberikan penekanan
betapa pentingnya informasi ini. Di samping itu, adanya fenomena yang sangat
langka (di luar batas nalar dan logika) terjadi dalam kehidupan kita. Dan lebih
dari itu, adanya kisah inspiratif dari para ilmuwan Barat yang mendapatkan
hidayah (masuk Islam) atas penelitian mereka yang kebenarannya telah dijelaskan
oleh Allah dalam Al-Qur’an 15 abad yang lalu.
Dengan
pengkajian secara terperinci terhadap alam semesta, maka membuka pikiran kita bahwa
semua fenomena di alam semesta ini terikat oleh hukum-hukum sunnatullah, mulai dari rancangan keseimbangan
terkecil hingga rasio terhalus di dalamnya telah ditata untuk memenuhi
ketepatan tingkat tinggi. Keteraturan yang menakjubkan ini memberikan kesadaran
bagi kita bahwa semuanya telah diatur pada standar ideal bagi keberadaan
manusia untuk hidup dan berkembang.
Memang
banyak informasi di alam semesta yang tidak dapat dijangkau oleh sains, tetapi
harus diyakini kebenarannya berdasarkan informasi Al-Qur’an dan Hadits Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sedangkan informasi
tentang fenomena alam yang dijelaskan melalui penelitian ilmiah, kebenarannya
pun harus sejalan dengan Al-Qur’an. Karena Allah telah memperlihatkan
tanda-tanda kekuasaan-Nya yang menunjukkan bahwa Al-Qur’an itu adalah benar.
“Kami akan memperlihatkan kepada
mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala ufuk dan pada diri mereka
sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Dan
apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan
segala sesuatu?” (QS. Fushshilat (41) : 53)
Banyak
sekali fenomena alam yang terhampar di sekitar kita dan ini menggugah kita
untuk senantiasa tafakur dan mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap
kejadiannya sehingga menjadikan kita sebagai hamba yang senantiasa bersyukur, dan
mengagungkan kebesaran-Nya.
Pada
hakikatnya untuk mengungkap kalimat Allah di alam semesta ini sungguh sangat
luas dan tidak akan pernah ada habisnya. Dan kita tidak akan sanggup untuk
menulis dan menghitungnya, walaupun semua pohon dijadikan pena dan lautan
dijadikan tintanya, bahkan ditambahkan sebanyak itu pula.
“Dan seandainya pohon-pohon
di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut
(lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan)
kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Luqman (31) : 27).
Akhirul kalam,
sebagai hamba yang dhaif, penulis memohon saran dan kritik yang membangun agar
buku ini dapat memberikan manfaat, menambah wawasan dan hikmah dalam kehidupan
kita. Amin
Surabaya, Juni 2012
Penulis
Dalam kurun 20 tahun, jumlah penganut agama Islam di Irlandia meningkat 10 kali lipat
“Ini merupakan langkah yang sangat penting bagi kami. Selama bertahun-tahun kami berpindah-pindah dari tempat sewaan yang satu ke tempat sewaan yang lain. Akhirnya, kami punya tempat sendiri,” kata Imam Salim Al-Faituri.
Menurut Imam kelahiran Libya itu, biaya pembangunan masjid baru itu berasal dari donasi kaum Muslimin di Irlandia dan para dermawan dari negara Qatar. Masjid ini akan menjadi pusat kegiatan komunitas Muslim di Cork yang jumlahnya sekitar 6.000 jiwa, dan muslim di kota-kota lain disekitarnya.
“Masjid itu akan menjadi pusat komunitas Muslim kedua terbesar di luar kota Dublin,” kata Ahmed H. Zahran, seorang akademisi asal Mesir yang mengajar di University College Cork. Zahran adalah satu satu anggota komite pembangunan masjid di Togher.
Pembangunan masjid di kota industri Togher menunjukkan bahwa agama Islam sudah memiliki akar di Irlandia. Jumlah muslim di negeri ini terus bertambah dari tahun ke tahun, meski keberadaan komunitas Muslim di Irlandia masih relatif baru dibandingkan dengan negara Eropa lainnya.
Dalam kurun waktu 20 tahun, jumlah penganut agama Islam di Irlandia meningkat 10 kali lipat. Sensus tahun 2006 menunjukkan jumlah muslim dibawah angka 33.000, tapi para pengamat meyakini bahwa jumlah muslim yang sebenarnya di Irlandi mencapai lebih dari 40.000 jiwa. Antara tahun 2002-2006, jumlah muslim meningkat hingga 70 persen dan Islam menjadi agama yang paling cepat pertumbuhannya dibandingkan agama lainnya yang ada di Irlandia.
Komunitas Muslim di Irlandia juga makin beragam. Di awal
keberadaannya, komunitas Muslim didominasi oleh muslim asal Timur Tengah
dan Afrika Utara yang datang ke Irlandia untuk keperluan belajar atau
profesi. Mereka lalu menetap, bahkan ada yang menikah dengan orang
Irlandia asli.
Di awal tahun 1990-an, mulai berdatangan komunitas Muslim dari Asia
Tenggara, Asia Selatan, sub-Sahara Afrika dan dari Balkan. Mereka yang
datang kebanyakan anak-anak muda yang berimigrasi ke Irlandia dengan
alasan ekonomi, atau mencari suaka. Muslim dari Nigeria, Libya, Irak,
Somalia, Al-Jazair dan beberapa negara lain, datang ke Irlandia karena
mendapatkan suaka. Mayoritas komunitas Muslim di Irlandia adalah
kalangan muslim Sunni dan sebagian kecil komunitas Muslim Syiah terutama
di kota Dublin.
“Muslim di Irlandia mungkin salah satu populasi Muslim yang paling beragam di Eropa,” kata Dr Oliver Scharbrodt, ilmuwan yang sudah tiga tahun ini melakukan proyek penelitian tentang Islam di Irlandia.
“Muslim di Irlandia mungkin salah satu populasi Muslim yang paling beragam di Eropa,” kata Dr Oliver Scharbrodt, ilmuwan yang sudah tiga tahun ini melakukan proyek penelitian tentang Islam di Irlandia.
Scharbrodt menjelaskan, “Di negara-negara Eropa lainnya, Anda akan
menemukan kelompok etnik atau kebangsaan tertentu mendominasi komunitas
Muslim karena latar belakang sejarah atau hubungan kolonial, tapi hal
semacam itu tidak terjadi di Irlandia.”
“Irlandia, bisa dikatakan sebuah mikrokosmos dari komunitas keagamaan secara global. Di sini, terdapat penganut agama dari berbagai latar belakang bangsa, trend dan gerakan yang hidup dalam ruang geografis dan sebuah masyarakat komunal yang lebih kecil,” ujarnya.
Organisasi Muslim dan Pengaruh Ikhwanul Muslimin
Di Irlandia hanya ada satu pusat kebudataan Islam yang terbesar yaitu Islamic Cultural Centre of Ireland (ICCI). Pusat kebudayaan ini menjadi wakil dan jembatan antara komunitas Muslim dengan pemerintah dan komunitas lainnya di Irlandia.
“Irlandia, bisa dikatakan sebuah mikrokosmos dari komunitas keagamaan secara global. Di sini, terdapat penganut agama dari berbagai latar belakang bangsa, trend dan gerakan yang hidup dalam ruang geografis dan sebuah masyarakat komunal yang lebih kecil,” ujarnya.
Organisasi Muslim dan Pengaruh Ikhwanul Muslimin
Di Irlandia hanya ada satu pusat kebudataan Islam yang terbesar yaitu Islamic Cultural Centre of Ireland (ICCI). Pusat kebudayaan ini menjadi wakil dan jembatan antara komunitas Muslim dengan pemerintah dan komunitas lainnya di Irlandia.
Presiden Irlandia Mary McAleese dan sejumlah pejabat pemerintah
Irlandia lainnya pernah berkunjung ke
Pusat Kebudayaan Islam yang
terletak di selatan kota Dublin itu. Ketika terjadi agresi Israel ke
Gaza pada tahun 2009, pejabat pemerintah Irlandia Dick Roche
menyempatkan diri datang ke ICCI untuk menjelaskan posisi Irlandia atas
konflik tersebut.
ICCI yang dilengkapi dengan sekolah Islam, dibangun pada tahun 1996
dengan dana dari Yayasan Al-Maktoum, yayasan yang diketua oleh Syaikh
Hamdan bin Rashid Al-Maktoum, deputi pemerintah Dubai dan menteri
keuangan Uni Emirat Arab. Keluarga Al-Maktoum memiliki bisnis yang luas
di Irlandia. ICCI dikelola oleh 20 staf yang kebanyakan berkebangsaan
Arab dan merupakan pegawai tetap dari Yayasan Al-Maktoum. Direktur
Eksekutif ICCI sekarang adalah Dr Nooh Al-Kaddo, muslim kelahiran Irak
yang pindah dari Inggris ke Dublin pada tahun 1997. Muslim Irlandia
menyebut ICCI sebagai masjid “Ikhwani” yang diidentikkan dengan kelompok
Ikhwanul Muslimin di Mesir.
Dalam catatannya tentang Islam di Irlandia, Scharbrodt menulis bahwa
ICCI merupakan bagian dari jaringan kelompok dan organisasi Islam di
Eropa yang memiliki hubungan dengan gerakan Ikhwanul Muslimin. Kaitan
ini, menurut Scharbrodt, kerap menimbulkan kontroversi, meski dalam
kaitannya dengan ICCI, hubungannya dengan Ikhwanul Muslimin sangat
longgar dan tidak formal. Namun menurut seorang sumber di Irlandia yang
tidak mau disebut namanya, Ikhwanul Muslimin di Mesir memang
memberikan pengaruh yang besar pada elemen-elemen keislaman yang ada di
Irlandia.
Scharbrodt juga memuji peran Hussein Halawa, muslim kelahiran Mesir yang sekarang menjadi Imam di masjid ICCI. Lewat peran Halawa, ICCI menjadi sekretariat organisasi Dewan Riset dan Fatwa Eropa. “Sehingga Irlandia menjadi salah satu pusat trend ideologi dan intelelektual yang paling berpengaruh dalam dunia Muslim kontemporer,” kata Scharbrodt.
Scharbrodt juga memuji peran Hussein Halawa, muslim kelahiran Mesir yang sekarang menjadi Imam di masjid ICCI. Lewat peran Halawa, ICCI menjadi sekretariat organisasi Dewan Riset dan Fatwa Eropa. “Sehingga Irlandia menjadi salah satu pusat trend ideologi dan intelelektual yang paling berpengaruh dalam dunia Muslim kontemporer,” kata Scharbrodt.
Selain ICCI, di Irlandia juga terdapat organisasi Dewan Imam Muslim
Irlandia dan Islamic Foundation of Ireland. Seiring dengan bertambahnya
jumlah muslim di negeri itu, juga bermunculan organisasi-organisasi
muslim baru. Salah satunya, Public Affairs Commitee yang didirikan oleh
Liam Egan–seorang asli Irlandia yang memeluk Islam.
Dibukanya kedutaan besar Arab Saudi di Dublin pada tahun 2009,
menambah dinamis pertumbuhan komunitas Muslim dan perkembangan agama
Islam di Irlandia. Kedubes Saudi berencana membuka sekolah dan membangun
sebuah masjid baru di Dublin. “Jika rencana itu terealisasi, akan
memberikan dampak yang besar, seperti yang kita lihat di negara-negara
lain,” kata Umar Qadri, seorang imam di Islamic Centre Blanchardstown.
Melihat perkembangan Islam dan komunitas Muslim di Irlandia,
Scharbrodt menyarankan agar pemerintah Irlandia meningkatkan hubungan
yang baik dengan berbagai elemen Muslim di negeri itu, terutama dengan
generasi kedua Muslim yang lahir dan besar di Irlandia.
“Idealnya, pemerintah harus membuka dan menjalin hubungan yang lebih luas lagi dengan masjid-masjid, organisasi dan komunitas Muslim. Ini butuh investasi, waktu dan sumber daya manusia yang besar untuk merangkul mereka semua sebagai bagian dari masyarakat Irlandia,” tukas Scharbrodt. (ln/isc/eramuslim)
“Idealnya, pemerintah harus membuka dan menjalin hubungan yang lebih luas lagi dengan masjid-masjid, organisasi dan komunitas Muslim. Ini butuh investasi, waktu dan sumber daya manusia yang besar untuk merangkul mereka semua sebagai bagian dari masyarakat Irlandia,” tukas Scharbrodt. (ln/isc/eramuslim)
Mufti Polandia: Tak Ada Diskriminasi Islam di Negara Kami
Mufti
Polandia Mr Tomasz Miskiewiez menungkapkan, kendati Islam di negerinya
merupakan agama minoritas, namun tak ada diskriminasi yang diterima baik
dari pemerintah mupun dari umat Kristen yang mayoritas.
“Di Polandia sekarang ini, umat Islam
bebas menjalankan ibadah tanpa tekanan ataupun diskriminasi,” kata
Miskiewiez dalam kuliah umum bertema Islam Polandia: Sejarah dan Perkembangannya Sampai Sekarang, di Ruang Diorama, Jumat (26/3).
Turut hadir juga dalam acara itu Rektor
UIN Jakarta Prof Dr Komaruddin Hidayat, Purek Bidang Kemahasiswaan Prof
Dr Ahmad Thib Raya, Duta Besar Polandia untuk Indonesia Tomasz Lukaszuk,
dan istri Mufti Barbara Miskiewiez.
Menurut Miskiewiez, populasi umat Islam
di Polandia kini mencapai ada 35 ribu jiwa dari total 38 juta jiwa
penduduk negeri itu. Di Polandia, Islam bukanlah agama baru. Agama ini
telah ada sejak 1925. Sejak awal, Islam telah mampu hidup harmonis
dengan masyarakat Polandia yang mayoritas Kristen.
Umat Islam di Polandia berasal dari suku
Tartar, yang beragama Islam Suni. Mereka adalah keturunan dari prajurit
Tartar yang gagah berani ketika berperang melawan Kerajaan Tetonik
dalam pertempuran Grunwald di Malbork, sebelah utara Polandia pada tahun
1410.
Miskiewiez menegaskan, umat Islam di
Polandia memiliki kesamaan dengan umat Islam di Indonesia. “Indonesia
dan Polandia memiliki banyak persamaan, hanya saja, Islam di Indonesia
sebagai mayoritas sedangkan di Polandia masih dalam minoritas,” ujarnya.
Memang, dalam sejarah, tegas mufti,
kehidupan beragama di Polandia pada zaman Komunis menjadi pengamatan
intelijen dan tidak dianjurkan. Namun pada era keterbukaan ini,
kehidupan beragama menjadi lebih bergairah, dan Islam semakin
berkembang.
Kini, umat Islam di Polandia telah
memiliki Masjid Raya di kota Warsawa. Masjid tersebut sebelumnya
merupakan rumah vila yang dibeli umat Islam dari warga setempat. Selain
itu, kini umat Islam Polandia juga tengah membangun Pusat Budaya
Islam.
Kunjungan Miskiewiez ke Indonesia kali
ini bertujuan untuk menjalin kerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia
(MUI). Selain itu, Miskiewiez juga akan menemui Menteri Agama RI
Suryadharma Ali dan pejabat Kementerian Pertanian RI untuk saling
bertukar informasi mengenai sertifikasi produk makanan halal. Miskiewiez
juga merencanakan untuk menjalin kerjasama bidang pendidikan.
Sejarah Dan Perkembangan Islam Di Rusia
Islam di Rusia adalah agama terbesar kedua setelah Kristen
Ortodoks, yakni sekitar 21 – 28 juta penduduk atau 15 – 20 persen dari
sekitar 142 juta penduduk. Kehidupan Muslim di Rusia saat ini juga kian
membaik dibanding masa Komunis dulu. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Rusia, pemimpin Rusia (Vladimir Putin) memasukkan menteri Muslim dalam kabinetnya dan mengakui eksistensi Muslim Rusia.
2. Sejarah Masuknya Islam Di Rusia
Muslim pertama di wilayah Rusia terkini adalah masyarakat Dagestani di (kawasan Derbent) selepas pentaklukan Arab (abad ke-8). Negeri Muslim yang pertama adalah Volga Bulgaria pada tahun 922. Kaum Tatar mewarisi agama Islam dari negeri itu. Kemudian kebanyakan orang Turki Eropa dan Kaukasia juga menjadi pengikut Islam. Islam di Rusia telah mempunyai kewujudan yang lama, melebarkan ke seawal penaklukan kawasan Volga Tengah pada abad ke-16, yang membawa orang Tatar dan berkenaan Orang Turki
di Volga Tengah ke dalam negeri Rusia. Pada abad ke-18 dan ke-19,
taklukan Rusia di Caucasus Utara membawa orang-orang Muslim dari kawasan
ini– Dagestan, Chechen, Circassia, Ingush, dan lain-lain ke dalam negara Rusia.
Kievan Rus juga telah dapat kesempatan untuk memeluk Islam dari misionaris Volga Bulgaria, tetapi orang Slavia Timur menerima agama Kristen.
Mayoritas Muslim di Rusia mengikuti ajaran Islam Sunni. Dalam beberapa kawasan, terutama di Dagestan dan Chechnya, ada tradisi Sufisme, yang diwakili oleh tarekat Naqsyabandi dan Shazili dipimpin oleh Shaykh Said Afandi al-Chirkawi ad-Daghestani. Amalan sufi
memberikan orang Kaukasus semangat kuat untuk menolak tekanan orang
asing, dan telah menjadi legenda di antara pasukan Rusia yang melawan
orang Kaukasus pada zaman Tsar. Orang Azeri juga pada sejarah dan masih lagi pengikut Islam Syiah, disaat republik mereka terpisah dari Uni Soviet, banyak orang Azeri yang datang ke Rusia untuk mencari pekerjaan.
Qur’an pertama yang dicetak diterbitkan di Kazan, Rusia pada 1801. Satu lagi fenomena yang terjadi adalah gerakan Wäisi.
Pada era 1990-an, jumlah percetakan risalah Islam telah meningkat. Antaranya ialah beberapa buah majalah dalam bahasa Rusia, “Ислам” (transliteration: Islam), “Эхо Кавказа” (Ekho Kavkaza) dan “Исламский вестник” (Islamsky Vestnik), dan beberapa suratkhabar berbahasa Rusia seperti “Ассалам” (Assalam), dan “Нуруль Ислам” (Nurul Islam), yang diterbit di Makhachkala, Dagestan.
3. Demografi
Menurut United States Department of State, terdapat sekitar 21-28 juta jumlah penduduk Muslim di Rusia, sekurang-kurangnya 15-20 persen jumlah penduduk negara ini dan membentukkan agama minoritas yang terbesar. Masyarakat besar Islam dikonsentrasikan di antara warga negara minoritas yang tinggal di antara Laut Hitam dan Laut Kaspia: Avar, Adyghe, Balkar, Nogai, Orang Chechnya, Circassian, Ingush, Kabardin, Karachay, dan banyak bilangan warga negara Dagestan. Di Volga Basin tengah ada penduduk besar Tatar dan Bashkir, kebanyakan mereka Muslim. Banyak Muslim juga tinggal di Perm Krai dan Ulyanovsk, Samara, Nizhny Novgorod, Moscow, Tyumen, dan Leningrad Oblast (kebanyakannya kaum Tatar
4. Masjid
Secara resmi jumlah masjid di Rusia mencapai 4750 masjid, namun jumlah
sebenarnya jauh lebih besar dan terus bertambah. Di Dagestan saja
terdapat antara 1600 – 3000 masjid. Dalam sepuluh tahun terakhir jumlah
masjid di Tatarstan telah melebihi 1000. Di ibukota Rusia dengan jumlah pemeluk Islam yang melebihi 1 juta orang terdapat 20 komunitas Muslim dan 5 masjid. Menurut pakar data Rusia, sedikitnya terdapat 7000 masjid di Rusia.
5. Organisasi
Menurut data register negara,
kini telah tercatat 3345 organisasi keagamaan Muslim lokal. Jumlah
terbesar organisasi-organisasi keagamaan Muslim terdaftar di daerah
Volga (1945), diikuti Kaukasus Utara (980) dan Ural (316). Sedangkan
jumlah organisasi keagamaan Muslim di daerah lainnya lebih kecil.[1]
Mayoritas Muslim di Rusia adalah Sunni. Terdapat dua Mazhab di Rusia, yaitu Mazhab Syafii di Kaukasus Utara dan Mazhab Hanafi di wilayah negara lainnya.
Tiga organisasi Muslim menurut status dewan federal (pusat) adalah:
- Dewan Mufti Rusia (berbasis di Moskwa). Pemimpinnya Mufti Ravil Gainutdin. Dewan ini memimpin 1,686 komunitas.
- Administrasi Keagamaan Pusat dari Muslim Rusia (berbasis di Ufa). Dipimpin oleh Mufti Talgat Tadzhuddin dan mempersatukan 522 komunitas.
- Pusat Koordinasi Muslim di Kaukasus Utara yang dipimpin oleh Ismail Berdiyev, Mufti Karachai-Cherkassia dan wilayah Stavropol, dan terdiri dari 830 komunitas.
Dalam beberapa tahun terakhir hubungan antara Muslim di Rusia dan
Indonesia telah meningkat karena pekerjaan yang baik dan usaha yang
dilakukan oleh Dubes Indonesia Bapak Hamid Awaludin dan diplomat M. Aji Surya dan Enjay Diana.
From http://id.wikipedia.org
Langganan:
Postingan (Atom)
