Selamat Berkunjung

Selamat Berkunjung !
Diharap komentarnya agar lebih bermanfaat, menambah wawasan dan hikmah

Senin, 12 Desember 2011

Manusia Hanya Tahu Takdirnya Setelah Terjadi


Terkait dengan fenomena takdir, maka wujud kelemahan manusia itu ialah ketidaktahuannya akan takdirnya. Manusia tidak tahu apa yang sebenarnya akan terjadi. Kemampuan berfikirnya memang dapat membawa dirinya kepada perhitungan, proyeksi dan perencanaan yang canggih. Akan tetapi, setelah diusahakan realisasinya tidak selalu sesuai dengan harapan. Oleh karena itulah manusia hanya tahu takdirnya setelah terjadi.
Demikianlah, jika seseorang ditakdirkan sebagai seorang ilmuwan, maka ia tidak akan memperolehnya kecuali dengan usaha dan kesungguhan belajar dan memenuhi unsur-unsur yang mendukungnya mencapai hal itu. Demikian juga jika ditakdirkan baginya mengolah sebidang tanah, maka ia tidak akan mendapatkannya kecuali dengan melalui sebab-sebab yang mengantarkannya kepada bercocok tanam. Jika ia ditakdirkan kenyang, maka ia tidak akan merasakannya kecuali dengan makan dan minum. Demikian itulah wujud dan keadaan hidup dan penghidupan.
Dengan demikian, orang yang tidak mau berbuat dan berusaha serta hanya bersandar pada takdir tersebut, maka kedudukannya sama dengan orang yang tidak makan, minum, dan bergerak karena bersandar pada takdir yang telah ditetapkan baginya.
Jika manusia menginginkan perubahan kondisi dalam kehidupannya, maka diperintah oleh Allah untuk merubahnya dengan terus berusaha dan berdoa. Usaha perubahan yang dilakukan oleh manusia itu, kalau berhasil seperti yang diharapkannya maka Allah melarangnya untuk menepuk dada sebagai hasil usahanya sendiri. Bahkan kalau usahanya itu dinilainya gagal dan manusia itu sedih bermuram durja menganggap dirinya sumber kegagalan, maka Allah juga menganggap hal itu sebagai kesombongan yang dilarang.
“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,”  (QS. Al-Hadiid (57) : 23)
Oleh karena manusia itu lemah, maka diwajibkan untuk berusaha dengan sungguh-sungguh demi mencapai tujuan hidupnya yaitu beribadah kepada Allah. Seperti kata ungkapan yang sering kita dengar “Manusia hanya bisa berdo’a dan berusaha, Tuhanlah yang menentukan.” Atas pilihan dan usahanya itulah kelak manusia akan dimintai pertanggungjawabannya dihadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. (by Kalman Aani)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar