Selamat Berkunjung

Selamat Berkunjung !
Diharap komentarnya agar lebih bermanfaat, menambah wawasan dan hikmah

Rabu, 27 Juni 2012

Antara Otak optimis dengan otak pesimis

 
Respons otak berbeda antara orang yang optimis dengan yang pesimis ….
Para ilmuwan menyingkap bahwa beberapa perubahan yang tampak dalam cara kerja otak yang memungkinkan dapat memberikan indikator untuk membedakan antara pribadi yang optimis dengan yang pesimis.
Diketahui bahwa banyak orang memiliki reaksi berbeda terhadap satu peristiwa, kejadian atau perbuatan; ada positif dan ada negative.
Dan respon otak terhadap berbagai peristiwa dan kejadian sangat bergantung pada sifat kepribadian dari setiap orang.
Dr. John Gabrielli ketua kelompok ilmuwan dari Stanford University Amerika yang telah melakukan riset terhadap permasalahan ini menemukan bahwa mungkin saja terjadi perbedaan terhadap pribadi yang optimis dan gembira dengan pribadi yang sedih dan persimis.
Riset ini terpokus pada sekelompok wanita antara usia sembilan belas hingga empat puluh dua tahun.
Para wanita tersebut terbagi menjadi dua bagian pada saat menjawab beberapa pertanyaan dan peristiwa, pertama wanita yang optimis dan kedua wanita yang pesimis, emosi dan pencemas.
Para ilmuwan menjabarkan pada dua bagian tersebut contoh tentang peristiwa yang membahagiakan seperti pesta ulang tahun, dan gambaran lain yang menyedihkan dan suram seperti rumah sakit, bangsal, dan lain-lainnya
Bentuk peristiwa
Ketika melanjutkan proses penampilan contoh, para ilmuwan melakukan perbandingan aktivitas wanita pada beberapa tempat dari otaknya. Sehingga setelah itu, para ilmuwan berkesimpulan bahwa wanita yang optimis memberikan respon lebih kuat terhadap terhadapa yang membahagiakan daripada wanita yang pesimis dan cemas
Hal sebaliknya juga tepat, jika diperhatikan adanya aktivitas yang tidak biasa pada otak wanita yang cemas dan emosi ketika ditampilkan atasnya kondisi sedih dan suram.
Namun menurut Dr. John Gabrielli, kepala tim peneliti menyatakan bahwa respon otak terhadap suatu peristiwa sangat bergantung pada sifat kepribadian masing-masing orang.
Walaupun percobaan itu tidak membuktikan secara pasti jika penyebab dari munculnya sikap pesimis dan optimis karena kelemahan atau kurangnya aktivitas otak, atau hanya sekedar tampilan atau perubahan fisiologis lainnya.
Tapi Dr Gabrielli mengatakan bahwa dengan memberikan lebih banyak cahaya pada aktivitas otak dan sifatnya yang berkembang di kemudian hari dapat berguna dalam menangani penyakit mental seperti depresi.
Beliau juga menambahkan bahwa belum diketahui hingga sekarang apakah masalah ini berkaitan dengan genetika pra-kondisi, atau merupakan bagian dari proses pendidikan dan penyesuaian sosial…??

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar